Tampilkan postingan dengan label storie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label storie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2018

Pengalaman Awal Mula Menjadi Dosen

0 komentar

Saya adalah salah satu dosen lokal dipoliteknik negeri yang ada didaerah saya meskipun belum berstatus dosen tetap, masih berstatus dosen tidak tetap tapi tak mengapa karna ini adalah awal karier saya yang sesungguhnya dan ini adalah cita-cita saya dari dulu. Menjadi dosen itu adalah salah satu target hidup saya dan saya tidak menyangka bisa menjadi dosen diusia yang begitu sangat muda usia 22 tahun pada saat saya baru lulus dijenjang S1.

Baru kemarin rasanya menjadi mahasiswa, masih berkutat pada tugas akhir yaitu skripsi, masih setia menunggu untuk konsultasi dengan pembimbing, masih terus mengejar-ngejar dosen untuk mendapatkan tanda tangannya, masih suka berorganisasi dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk pengembangan diri semasa ditanah rantau. Ahhh… Baru kemarin rasanya pikirku diwaktu itu dan kemudian saya berada didunia yang masih asing bagiku “Dunia Dosen”.

Di awal karier saya menjadi dosen, rasanya agak canggung itu pasti, saya melihat wajah para dosen-dosen lama, pikirku waktu itu “apa bisa ya saya berbaur dengan mereka?”. Sementara saya menganggap diri saya masih seperti mahasiswa bukan dosen, ingatanku kembali pada saat menjadi mahasiswa menganggap mereka adalah dosen saya.

Saya sangat bersyukur ketika disuruh berkoordinasi dengan dosen tamu dari samarinda untuk melanjutkan mata kuliah yang dia ajarkan disitu saya belajar supaya tidak canggung lagi, dosen yang terpaut jauh umurnya diatas saya sekitar umur 50-an itu memanggil saya dengan sebutan “ibu” dan disitu saya merasa menjadi dosen sesungguhnya dan saya beranggapan jika memasuki dunia kerja adapun panggilan ibu/bapak itu adalah panggilan formal untuk menghormati orang lain. Dan saya juga merasa bersyukur sekali disuruh berkoordinasi juga dengan pak d***** dosen senior disana yang sama dengan jurusanku jadi saya bisa leluasa bertanya tentang apa-apa yang tidak saya ketahui dan memang orangnya masih muda ramah, baik hati serta tidak sombong.

Saya menunggu lama untuk masuk mengajar setelah dosen tamu dari samarinda kembali, Untuk pertemuan pertama saya tidak masuk karna terasa mendadak dan belum ada pemberitahuan tetapi cukup kaget ketika tiba-tiba ada mahasiswa menelepon dinomor saya dan saya belum ada persiapan materinya dan rumah saya sangat jauh dari kampus tapi pertemuan selanjutnya saya mencoba masuk dengan persiapan yang cukup.

Meskipun diterpa hujan ditengah jalan menuju kampus, saya mencoba untuk tetap datang dan memberanikan diri, pikiran mulai bertanya-tanya apakah saya ini sudah terlihat seperti dosen atau masih seperti mahasiswa? Kira-kira mahasiswanya gak tua dari saya kah ? kira-kira mereka hormat gak ya sama saya ? dan berjuta pertanyaan-pertanyaan lain mengelilingi pikiranku. Kemudian sesampai dikampus, disamping tangga saya melihat banyak mahasiswa berkumpul menunggu dosennya kemudian saya hampiri dan bertanya
“Dek Kelas 1A yang mana ya ?”
kemudian mereka menjawab “tidak ada kelas 1A kak, kelas 2A ”
“Jadi ini kelas berapa?”
“Kelas 2A”
“Oh iya maksud saya itu, belajar di Lab’kan ?”
“iya”
“Kalau begitu kalian masuk di Lab sekarang”
Kemudian mereka mengikuti saya dari belakang untuk bersama-sama menuju lab, tampak ada mahasiswa yang tidak begitu menghormati saya, dia tertawa sambil berjalan Ntah menertawakan saya atau hanya perasaanku saja.

Ketika semuanya sudah berkumpul hal pertama yang saya lakukan adalah meminta maaf karna salah ucap kelas dan meminta maaf karna tidak sempat hadir pekan lalu kemudian saya lanjutkan dengan perkenalan, saya melihat mereka begitu tertarik tentang perkenalan kali ini dan mereka merespon dengan baik setelah perkenalan saya melakukan Tanya jawab tentang sejauh mana materi yang mereka dapatkan dari dosen samarinda kemudian saya lanjutkan materi setelahnya.

Saya begitu senang melihat mereka begitu menghormati dosennya, begitu memperhatikan jika saya menjelaskan, dan tenang pada saat mata kuliah yang saya bawakan dan juga ada beberapa mereka yang canggung saat saya panggil dan berhadapan dengan saya. Di awal awal mata kuliah yang saya bawakan saya bercerita tentang pengalaman semasa kuliah dulu dan mereka begitu tertarik jika saya bercerita dan itupun  bukan mudah bagi saya bercerita kalau selama ini saya pribadi yang tertutup, Dan saya adalah pribadi yang serius dan sangat serius untuk mencapai target.

Dipertemuan terakhir saya masuk dalam kelas mahasiswa disitu saya menyampaikan hal-hal apa yang harus mereka pelajari untuk UAS dan diakhir kata saya menyuruh mahasiswa saya untuk memberikan kritik dan saran terhadap cara mengajar saya selama ini dan rata-rata mereka banyak menyampaikan uneg-uneg terhadap saya. Maaf terkadang saya tidak menyadarinya dan saya rasanya masih banyak kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna. Ternyata benar kata pepatah menilai orang lain itu mudah tetapi menilai diri sendiri itu sulit, untuk melihat dirimu tanyakan saja kepada orang lain. Dan diakhir kata saya mengucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya dan saya juga mengundang mereka semua untuk datang pada hari raya kerumah saya bertamu. Semoga aja mereka datang.

Sebagai dosen baru yang minim pengalaman saya harusnya banyak-banyak lagi menguasai keadaan kelas, tidak terburu-buru dalam menjelaskan, memperhatikan mahasiswa yang ketinggalan, memberi contoh yang mudah dipahami,selalu memberi umpan balik serta menerapkan metode-metode pengajaran yang mudah dimengerti oleh mahasiwa. Semoga saya masih diberi kesempatan ntah dikelas mereka lagi atau dikelas lain, saya ingin mengubah cara saya mengajar, dan melakukan pendekatan lebih dalam terhadap peserta didik.

Jumat, 23 Maret 2018

Dilema Fresh Graduate

1 komentar



Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sesungguhnya rezeki itu milik Allah tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongannya, tempat kami meminta dan berserah hanya kepada-Nya. Allahu Rabbi..
Izinkan saya membagi sebuah kisah yang saya alami sendiri semasa lulus kuliah dan mungkin sebagian dari kita juga yang masih fresh gruadate’pun juga sama mengalami yang namanya dilema pekerjaan.

Saya baru lulus kuliah waktu Desember 2017 jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer disalah satu kampus negeri yang ada dikota makassar. Setelah pindah dari dunia kampus inilah saatnya untuk saya mencari pekerjaan untuk mengaplikasikan ilmu saya ditengah masyarakat. Saya kembali ke’kampung saya meninggalkan kehidupan di kota besar yang dimana banyak sekali pengalaman dan teman-teman yang saya dapatkan disana dan bukan mudah untuk lepas dari sebuah kota yang memberikan banyak cerita dan kisah menarik, memberikan banyak ilmu, pelajaran dan pengalaman. Dan kini rindu,,, apa kabarmu ??? dan ingin lagi, dan ingin lagi jumpa (kok jadi nyanyi lagunya dilan yaa ??).

Setelah ijazahku dan berkas-berkas lainku sudah ada pada tanggal 29 januari saya lansung memasukkan 3 berkas lamaran di Poltek, SMK, dan MTS sedangkan teman yang saya temani sama-sama untuk mencari sekolah memasukkan 6 berkas lamaran ke sekolah-sekolah. Saya bertanya :

“kok banyak sekali sih?”
dia jawab “iya kan La,, kan belum tentu keterima semua.
“kalau nanti kepanggil semua gimana? Kan gak enak ”
“tinggal dipilih ajha La, kan belum tentu kita dipanggil semua”

Hari demi hari menunggu tidak sampai 1 pekan pada akhirnya teman saya dipanggil untuk mengajar di SD tempat memasukkan berkas lamarannya dulu Alhamdulillah… Sedangkan saya masih menanti panggilan tetapi tak kunjung datang hanya tinggal dirumah melakukan pekerjaan beres-beres rumah, memasak yang terkadang air mata saya menetes karna mengupas bawang dan menumbuk cabe :’( . Saya gak berhenti menghubungi teman saya itu yang sudah mengajar di SD untuk tanya perkembangan selanjutnya.

“Rat,,, memang gitu yaaa.. biasanya lama ditunggu panggilan ?”
jawabnya “Tunggulah aja La.. susah memang kalau gak ada yang dikenal didalam, biasanya berbulan-bulan ditunggu sampainya benar-benar membutuhkan guru atau tahun ajaran baru mulai, beruntung jika dapat panggilan sehari atau dua hari.

Orang tua juga turut berperan mencarikan lowongan dibeberapa kenalannya untuk dicarikan pekerjaan. Dan mungkin aku terlalu pemilih katanya seandainya kamu kerja dikantor atau jadi staff  mungkin sudah kerja sekarang dan gajinya 1,5jt biar tidak sesuai jurusan banyak juga yang seperti itu dari pada guru honor yang 3 bulan dapat 400.000. begitu katanya meskipun orang tua sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan gaji hanya berusaha mengalihkanku agar pindah haluan karna belum mendapat panggilan. Tetapi passion ku memanglah mengajar bukan berarti saya tidak bisa kerja dikantor tetapi memang pengen mengajar.

Untuk mengobati kegalauan saya cari motivasi dengar ceramahnya uztad kholid, uztad syafiq dan uztad-uztad lainnya diyoutube dan baca artikel-artikel diinternet tentang problem yang saya hadapi. Setidaknya saya dapat ilmu lalu saya amalkan. Saya mencoba merutinkan sholat dhuha dan memperbanyak istighfar setiap harinya lalu saya berbenah diri mungkin saya kurang sabar, mungkin saya pemilih tetapi apa salahnya mengajar ? bukan masalah gaji asalkan kepuasan hati yang bisa memberi manfaat kepada manusia dan sebagai amal jariyahku nantinya. Berdasarkan hadis Rasulullah

Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

"Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya" (Hadis Riwayat Muslim).

Kemudian aku dapat saran dari tante untuk coba sementara kerja dikantor dulu, nanti kalau misalnya terbuka pendaftaran guru nanti kamu bisa daftar katanya dari pada nganggur.. (hmmm…boleh juga fikirku tapi nanti dilihat). Selain itu saran lainnya perbanyak amalan sunnah mungkin saat ini hanya dhuha yang dirutinkan tetapi coba sholat tahajjud juga, hajad sama tasbih. kemudian saya turuti sarannya dan malam itu saya kepikiran dan terbangun buat sholat tetapi sholat tahajjud sama hajad ajha, kalau sholat tasbih masih terasa asing jadi gak dilaksanain hanya tahajjud sama hajad aja.

Ditengah kegalauan hamba yang lemah ini saya berdoa curhat sama Allah penuh pengharapan dengan potongan doa :

“Ya Allah sesungguhnya engkau maha tau keresahan hamba, masalah hambamu ini, apa yang hamba butuhkan, sesungguhnya hamba sangat menginginkan kebaikan yang engkau turunkan kepada hambamu ini, Ya Allah takdirkan sesuatu itu jika memang baik untukku berikanlah pekerjaan yang baik bagi hamba, yang engkau ridhoi dan dapat bermanfaat bagi manusia”

Hari-hari berikutnya saya berpikir mungkin saya harus membuat berkas lamaran lagi yang sebelumnya lamaran saya diketiga tempat tersebut belum ada panggilan, mungkin memang tempat itu tidak membutuhkan seorang pengajar fikirku. Hari ahad’nya tanggal 11 Februari saya membuat surat lamaran untuk disetor besoknya hari senin ke kantor dinas pendidikan, kominfo dan di SD, dan saya juga berencana besok ke SMK berdasarkan saran teman saya agar bertemu langsung dengan kepseknya dan menanyakan tentang lamaran saya. Hari itu takdir Allah berkata lain pada saat saya mau nulis lamaran tiba-tiba tetangga depan rumah yang merupakan dosen sekaligus PR III (Pembantu Rektor III) yang kerja di Politeknik Negeri Nnk manggil saya katanya “rezekimu memang mungkin ini kali dek, pernah malamnya saya dapat sms dari sekertaris jurusan administrasi bisnis katanya ibu haji adakah jurusan Komputer buat bantu-bantu ibu Mega ngajar ? kemudian saya lihat berkasmu ada disebelah tempat tidurku dan saya pikir “Alhamdulillah mungkin rezekinya memang ini anak".

Tak ada kata yang bisa saya ucapkan selain Alhamdulillah… yang dulunya saya gak pernah dijanjikan untuk diterima karna sudah ada dosen yang isi lalu kuasa Allah memberi rezeki kepada hambanya. Dosen yang jurusan komputer itu mau pulang kekampungnya buat menikah dan kemungkinan dia sudah tidak kembali lagi karna ikut dengan suaminya yang sudah pegawai negeri. Apalagi katanya dosen yang saya gantikan ini adalah dosen terbaik kebetulan bapakku juga kenal dengan orang tuanya. Dia termasuk dosen muda juga umurnya 3 tahun diatasku..

Alhamdulillah,,, Terucap syukurku kepada Allah yang Maha Esa karna Allah tau apa yang saya butuhkan, Pekerjaan yang selama ini saya targetkan waktu masih menjalani KKN akhirnya saya dapatkan dan ini memang salah satu cita-cita saya. Pekerjaan itu memang tidak pernah dijanjikan ke saya tapi itu adalah target saya setelah lulus. Meskipun belum jadi dosen tetap karna dosen tetap haruslah minimal bertitel S2 (doain yaa semoga nantinya jadi tetap) agar dapat gaji bulanan yang lumayan dan dapat tunjangan . meskipun saya belumlah jadi dosen tetap setidaknya saya bersyukur ilmu yang saya dapatkan dibangku perkuliahan tidak sia-sia, dan setidaknya gajinya juga cukup untuk saya sendiri.

Waktu hari kamis tanggal 15 Februari 2018 saya dipanggil ke kampus Poltek bertemu dengan ibu Lisa dan diatas meja ibu Lisa terdapat berceceran beberapa lamaran, sama dengan jurusanku tetapi beda kampus, ada yang dari malang dan jogja.dan semuanya laki-laki, saya berpikir kalau laki-laki itu jago banget ya kalau masalah komputer apalagi menyangkut teknisi atau perbaikan komputer, jagonya banget tuh,,, apalagi kalau dia tau ngoding, tau beberapa bahasa pemrograman, hebat banget menurut aku kalau dia tau , aku mah apa atuh gak terlalu mendalami yang kayak gitu . kalau beberapa bahasa pemrograman hanya dasarnya saja tapi kalau mengajar insyaa Allah saya bisa lagian kan yang aku ajarkan tidak berkaitan dengan itu semua. Saya gak melewati tes ataupun interview yang kebanyakan pencari kerja lakukan, saya lansung diberikan pilihan materi atau istilahnya SAP (Satuan Acara Perkuliahan) yang mana yang saya kuasai, kemudian saya pilih yang paling mudah yang sedari dulu sangat saya kuasai yang  akan saya ajarkan kepada mahasiswa nantinya, selanjutnya nanti dipanggil/ dihubungi kembali katanya untuk tanda tangan kesiapan mengajar. Alhamdulillah dimudahkan…

Qadarullah pada saat hari selasa  20 Februari 2018 saya masuk rumah sakit dan rawat inap, selama dirumah sakit saya menunggu untuk dapat panggilan selanjutnya, dan ternyata Allah maha tau keadaan hambanya pada hari jumat saat saya keluar dari RS saya diberitahukan kalau dosen samarinda yang duluan untuk masuk mengajar nanti kalau sudah pulang baru giliran saya. Pikirku waktu itu Alhamdulillah tak mengapa Ibu Lisa juga pernah memberitahukan kalau biasanya materinya dirolling 3 bulan untuk dosen samarinda dan 3 bulan untuk dosen lokal tetapi kadang juga tidak sampai. Selama menunggu saya lebih fokuskan untuk memulihkan kondisi saya yang baru keluar dari RS, 14 hari setelah keluar dari RS, saya masuk RS lagi dan rawat inap lagi. Allahu Rabbi :’( itu ujian buat saya dan kekurangan saya penyakit penebalan dinding rahim yang menyiksa pada saat datang menstruasi, menstruasi yang lama sampai keram yang dahsyat, sakit pinggang, dan terkadang pendarahan yang banyak yang membuat saya pucat, lemas, pusing sampai harus transfursi darah 5 kantong trakhir ini. Mungkin kalau rahimnya diangkat saya sudah sembuh total, gak ada lagi sakit-sakit kayak gitu (pikirku) tapi saya juga berpikir suatu saat saya juga ingin menikah dan punya anak dan insyaa Allah ini bisa disembuhkan.

Ditengah sakit yang saya pikirkan hanya satu “SAYA HARUS SEHAT” karna saya akan bekerja, meskipun dosen pekerjaannya santai, dan tiap hari gak masuk serta banyak liburnya , dan bisa pindahkan jadwal sesukanya, tidak sepadat guru. Tetapi saya tetaplah harus menjadi contoh yang baik, harus rajin, disiplin, saya tidak mau mahasiswa melewatkan suatu ilmu karna dosennya jarang masuk seperti yang dulu saya alami waktu jadi mahasiswa dan itu sangat merugikan sekali.

Tanggal 20 Maret saya dipanggil kembali untuk mengikuti rapat sekalian perkenalan dosen baru, dan dosen lama yang baru selesai menyelesaikan studi S2 dan S3’nya diluar kota dan diluar negeri. Disitu saya sempat canggung karna saya ini baru lulus S1 dan mungkin saya yang paling muda (pikirku) ternyata ada juga loh yang seumuran saya baru tau kalau dia juga baru lulus satu universitas lagi cuma beda fakultas, mungkin dilain waktu saya akan mencoba mengenalnya jika bertemu lagi karna waktu itu gak sempat nanya-nanya juga.

Galau itu wajar bagi fresh graduate, teman-teman seangkatan saya masih ada yang sementara mencari dan mengeluhkan susahnya untuk mencari pekerjaan, kegalauan yang saya alami juga meskipun saya cepat mendapat panggilan dan sudah dipastikan kerja tetapi masih menunggu dosen samarinda pulang. terkadang jika menelpon ataupun chat dengan teman lama hal yang ditanyakan adalah “udah kerja belum?” bukan cuma itu kalaupun saya mau mengganti KTP elektrik, memperpanjang SIM, membuat Paspor, pertanyaan yang tidak lepas dari itu semua adalah pekerjaan kan gak mungkin juga sudah kita nulis pelajar/mahasiswa sedangkan kita bukan pelajar/mahasiswa lagi. Begitupun waktu dirawat dirumah sakit ditanyain pekerjaannya apa ? yaaa… jawab saja belum/nganggur. Kan nyesek ya .. hehehe

Rupanya bukan hanya aku saja ya,,, (yeeee ada temennya) menunggu kapan masuk saya juga punya beberapa teman yang mesti menunggu tahun ajaran sampai bulan 6 baru bisa masuk mengajar, ini lebih pasti dan menjanjikan dibanding menunggu seseorang yang tidak pasti . Intinya banyak-banyak bersyukur banyak diluar sana yang selama 1th  bahkan sampai 5th nganggur. ini baru beberapa bulan kan hal biasa. Apalagi kalian masih diberi kesempatan/ waktu untuk menikmati masa ketenangan jauh dari beban akademik sebelum beban tekanan kerja menghampiri, isi waktumu juga dengan hal-hal positif, hobi misalnya, banyaklah membaca dan menggali informasi tentang lowongan kerja.

Adapun pekerjaan yang sudah kita dapatkan ini tidak lain adalah dari Allah yang memberikan rezeki kepada hambanya, adapun para pencari kerja yang masih galau hal yang wajib dilakukan adalah minta sama Allah adapun manusia hanya sebagai perantara.

Apa yang saya peroleh tentunya ini tidak lepas dari dukungan dan doa orang tua saya yang ingin melihat anak-anaknya berhasil. Ini belumlah seberapa dan tak ada yang perlu dibanggakan karna diatas langit masih ada langit setidaknya ini adalah langkah awal untuk menggapai cita-cita selanjutnya. Teruslah belajar, Ntah belajar dari pengalaman, belajar dari guru, belajar dari hal-hal yang ditemui disekitar, karna belajar adalah proses yang tidak berkesudahan. Sebagai penutut Saya kutip motto dari dosen saya

“HIDUP ADALAH BELAJAR !” pak ysgi

Dan motto saya : “HIDUP ADALAH PILIHAN ! karna engkau sendiri yang menetukan arah dan tujuan hidupmu diatas pilihanmu sendiri tetapi ingatlah kematian itu juga pasti terjadi”

Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya yang jauh dari kata sempurna ini karna kesempurnaan hanya milik Allah Subhana Wata’aala dan adapun kekurangan adalah milik saya pribadi . Semoga dapat mengambil manfaat, Semoga yang belum lulus dapat lulus meraih gelar sarjananya, semoga yang masih menganggur sebentar lagi mendapat pekerjaan, adapun yang sudah mendapat pekerjaan baru semoga betah dan mencintai pekerjaannya, adapun yang lama bekerja semoga naik jabatan, yang sakit semoga disembuhkan, yang galau dan dilema dilapangkan hatinya, yang single didekatkan jodohnya, aamiin….
Akhir kata Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Minggu, 27 Agustus 2017

Ketika Hidayah Menyapa

0 komentar


Ketika Hidayah Menyapa
Oleh : Alya Rohalia

Angin terik menerpa wajahku, debu polusi bagai noda yang menutupi gelapnya wajah tetapi kulihat teriknya siang bersinar bagai cahaya penuntun perjalananku, mobil yang kutumpangi berhenti sejenak, dibalik kaca jendela mobil saya melihat sesosok wanita berjilbab besar dan cadar beramai-ramai berjalan kaki disudut jalan kota sambil  kuperhatikan lamat-lamat tampak ada yang aneh, “siapakah mereka?” pikirku waktu itu. Tetiba kudengar suara nenek menyahut rasa penasaranku “kalo ko kuliah dimakassar nanti, pasti bakalan banyak seperti itu ko temui, pesanku janganko ikut-ikutan seperti mereka terlalu menakutkan”. Kemudian sang supir menimpali balik pernyataan nenek “terlalu ekstreamki belah, tidak mau terlalu kenal sama laki-laki dan tidak mau’i juga jabat tangan. Obrolanpun terus berlanjut mengunkap tabir penyelewengan wanita-wanita bercadar, Aku hanya bisa diam mengangguk sambil menyimak memperhatikan nenek dan supir sambil menghibah wanita-wanita berjilbab besar dan cadar karna pada saat itu saya tidak tau apa-apa tentang wanita-wanita tersebut.

Pada saat memasuki awal kuliah saya ditawari oleh teman-teman untuk mengikuti bisnis MLM dan disisi lain saya juga sering diajak pergi kajian oleh pengurus lembaga-lembaga keislaman internal  kampus, dan disitulah saya mulai mengenal akhwat-akhwat yang berjilbab besar dan bercadar. Pada saat teman-teman yang lain menghindar mengikuti kajian-kajian justru saya ingin mengikuti berbagai kajian yang ada karna saya tau diri saya ini mudah sekali terbawah pengaruh, ketika saya dulu semasa SMA terbawah pengaruh oleh teman-teman yang kurang baik kini saatnya dimasa kuliah ini saya ingin menjadi sosok yang lebih baik , ingin menjadi anak yang shalihah untuk kedua orang tuaku, dan ingin menjadi hamba yang taat pada Allah dan Rasulnya.

Memasuki semester 2 saya mulai mengenal tarbiyah, saya dikenalkan tarbiyah oleh tutor SAINS’ku namanya Kak Innah seorang akhwat yang bercadar, disitu persepsi negatif saya tentang cadar mulai sirna, saya diam-diam menyimpan kekaguman pada sosok ayu nan cerdas yang tertutup dihadapanku, padahal mudah saja bagi ia menuai banyak pujian dikarnakan kecantikannya, keramahannhya, kelembutannya, kecerdasannya, tetapi ia lebih memilih menjadi mutiara yang tersembunyi itu. Pernah suatu hari ada adik yang lansung menyatakan kekaguman dikakak tersebut.

“kakak jujur kagumka sama kita” ungkap sang adik,
 “jangan kagum sama saya dek”
“kenapa memang kak ?”
“Karna jika kita kagum kepada seseorang, dan kemudian kita lihat kekurangannya biar sekecil  apapun niscaya kita akan kecewa” menjawab petanyaan sang adik dengan begitu tawadhunya.

Disitu saya merasa iri melihat kakak ini, bukan hanya Kak Innah tetapi kakak-kakak akhwat yang lain yang menempuh jalan hidayah, yang istiqomah memegang teguh agamanya, yang berjuang teguh dijalan-Nya meski kesukaran dan kesulitan datang saling tumpah tindih saling menempa jiwa yang rapuh, mereka lebih memilih untuk mengejar ridho-Nya dibanding ridho manusia, aku iri kepada mereka yang terasing bagai memegang bara api, yang menikmati panasnya terik dunia, yang mesra jiwa-Nya dengan Rabb’nya seolah cacian, makian, hinaan, olokan sudah biasa berlalu karna keteguhan hatinya yang senantiasa mendamba titah Rabb’nya. Jujur aku iri...

“Aku juga ingin seperti mereka” batinku berkata lirih tetapi belum mampu mengamalkan semua, kemudian aku hijrah perlahan memasuki semester 2, langkah awal saya museumkan hijab bermotif yang saya selalu padu padakan dengan tutorial yang ada dan saya museumkan juga baju-baju transparan dan menarik perhatian, dan baju-baju yang tidak menutup aurat, karna dulu saya berhijab buka tutup tanpa tau ilmunya. Inilah awal hijrahku setidaknya menutup aurat dengan sempurna dulu insya Allah jika kita niatkan dengan baik karna Allah, ketaatan-ketaatan yang lainnya akan mengikut.

Diawal hijrah saya mulai memakai gamis dan kerudung menutupi dada, berbagai sebutan tersemai dalam diri baik itu sebutan uztadzah, ibu hadjah, ibu-ibu, dll bukan hanya itu penentangan dari pihak keluarga begitu mengguncang keimanan disertai ancaman untuk meninggalkan apa yang saya yakini selama ini, tetapi saya berusaha tetap bersitegas untuk mempertahankan walau kadang rapuh dalam raga tetapi jalan ini telah membuatku jatuh cinta pada Dia yang menunjukkanku jalan kebenaran, bukan hanya ancaman iming-iming gemerlipan hadiah’pun disemai berharap imanku akan goyah dan mengikuti kata mereka tetapi sesungguhnya nikmat surga lebih indah dibanding itu semua. Biar bagaimanapun saya sangat menyayangi mereka semua, mereka seperti itu karna mereka sayang sama saya dan menginginkan kebaikan pada diri saya.

Semakin berjalannya semester semakin hari saya hijrah secara perlahan, meninggalkan sesuatu yang Allah haramkan dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan burukku tetapi yang kudapati ujian dari Allah begitu menusuk raga, mengguncang keimanan, mengundang deraian air mata, menghentakkan kesombongan jiwa dan menyadarkan kealpaan raga. Nenek yang selama ini dekat denganku yang perlahan mulai sedikit demi sedikit menerima penampilan hijrahku, yang merawatku sedari kecil, memberiku kasih sayang penuh, kini Allah telah memanggilnya kehadapan-Nya, ditambah amukan sijago merah membakar habis tempat hasil berjualan orang tuaku dan Alhamdulillah sekarang semuanya berjalan baik-baik saja, sudah beberapa tahun yang lalu berlalu berakhir dan kini semester 8 saya ditimpa sebuah penyakit miom yang mengharuskan saya untuk operasi dan Alhamdulillah saya sudah menjalani operasi tersebut. Aku tau Allah tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuan hambaNya, semakin tinggi tingkat keimanan seseorang sebesar itupun ujian yang diterima, Allah beri kita ujian untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya, Allah memberikan kita ujian karna Allah tau kita mampu,  Allah sayang sama kita, sunnguh Allah rindu mendengar rintihan hamba-Nya yang memerlukan pertolongannya. Ujian ini tidaklah seberapa dengan ujian yang dialami oleh para nabi dan Rasul sera wali-wali Allah yang lain, saya yakin setiap ujian pasti menyimpan hikmah dibaliknya kalaupun tidak sekarang kita mengetahuinya Insyaa Allah nanti, dan setiap kejadian itu akan mengajarkan kita untuk semakin mendewasa dan bijak.

Sabtu, 22 April 2017

Secercah harapanku

0 komentar
Cerita ini dimulai dari awal aku mendapat haidh pertama yaitu kelas 3 SMP dimana saya sering curhat bersama temanku tentang permasalahan yang kuhadapi :

"Arma bagaimana di' tidak haidhka selama 2 bulan lebih . nah kamu pernah kamu alami ?

" tidak jhi saya selama ini selalu teratur, mungkin hamil biasanya begitu"

"Ih... Bisanya itu nah tidak pernahka saya pacar-pacaran, nah biasanya kalau orang hamil mual-mual , muntah-muntah padahal ini tidak"

"Siapa tau semut kasih hamil hehehe"

"Arghh... Tidak jhi deh.."

Yang aku tau dulu sewaktu remaja saya memang punya masalah haidh yang tidak teratur , bahkan jika haidh dapat mengeluarkan darah yang banyak sekali. Setiap disekolah pasti ROK yang kukenakan selalu tembus , banyak teman-teman bilang biasanya kalau seperti itu akan susah mempunyai keturunan tapi saya tidak terlalu memikirkankan karna umur yang masih terbilang sangat muda yang kupikir hanya " jika susah punya keturunan bisa adopsi anak atau menyuruh suami nikah lagi apa susahnya khan ?" (tapi itu dulu, sekarang saya sangat memimpikan suatu hari nanti punya keturunan yang shalih shalihah calon pemimpin umat yang kudidik dengan penuh cinta dan dari darah dagingku sendiri dan suami sangat sayang kepadaku tanpa pernah berniat memadu)

Waktu kelas 2 SMA saya pernah drop jatuh pinsang dilarikan ke RS pangkajenne Karna kekurangan darah yang sangat banyak. Pernah sempat di USG katanya ada sesuatu didalam rahim yang masih sangat kecil (ntah apa) yang jelas disuruh berobat rutin siapa tau Dengan minum obat yang didalam rahim bisa meletus atau tidak tumbuh besar, sebenarnya bisa dihilangkan dengan cara dikuret tapi dokter sangat menyayangkan karna umur masih terbilang sangat muda dan masih gadis.

Seiring berjalannya waktu dan tempat karna sekolah berpindah-pindah, saya juga selalu pindah-pindah dokter spesialis kandungan (soppeng, nunukan, makassar) dan setiap dokter yang kutemui bilang "tidak mengapa, biasa terjadi diusia segini, dan ini hanya gejala hormon, nanti juga bakalan berhenti sendiri asalkan rutin berobat". Saya sedikit lega mendengarnya tapi saya tidak pernah rutin berobat hanya diawal saja.

Tidak lama kemudian, beberapa tahun lamanya tdk pernah check up akhirnya drop dan pendarahan haidh yang banyak sekali dan pada saat saya mau keluar ke arah pintu kamar kos tiba-tiba kepala terbentur digagang pintu hingga pinsang
Beberapa menit pinsang tak sadarkan diri dikamar. Selepas sadar, saya hanya bisa menangis "Yaa Tuhan, kalau memang ajalku sudah dekat tak mengapa kau ambil aku sekarang". Tiba-tiba pintu kamar kos terketuk dan ternyata itu ibu kos'ku berteriak diluar :

" Lola .. Lola kamu didalam kah ? Buka pintumu dulu". Lalu dengan tertatih aku bukakan pintu

"iye pung tunggu sebentar (sambil membersihkan darah yang dilantai)"

"Kamu lola, jangan selalu tutup pintu kamarmu, nanti kalau ada apa-apamu nah tidak ditau-tau ? bapakmu barusan menelpon bilang ada itu lola dikamar nah tidak bisa mhi bergerak,
bikin kaget-kaget. Jadi bagaimana mhi perasaanmu ?"

"Tidak apa-apa jhi ini pung, berhenti sendiri jhi nanti pung"

"Mau dibawah ke RS atau dokter praktek ? Nah hujanki jg skarang atau bagaimanakah kuat jhi kalau dibonceng naik motor?"

"Jangan mhi pung nanti phi besok saya ke RS sama temanku, mau jha ini pung minta tolong dibelikan pembalut sama obat diapotek"

"Oh iya sini mhi, nanti saya minta tolong Sama anak disini"

Setelah obatnya sudah, saya minum Dan saya rasa perut saya seperti ditinju-tinju Dan esok harinya haidh berhenti kembali.

***
2 hari kemudian haidh saya kembali lagi Karna berhenti mengkonsumsi obat itu Dan pendarahan yang begitu hebatnya hingga saya serasa tak kuat lagi, sehingga saya dilarikan ke Rumah sakit awall bross makassar, karna kondisi tidak memungkinkan akhirnya diopname dan transfursi darah 4 kantong karna HB begitu rendah.

Setelah hasil USG keluar, ternyata penyebabnya sudah ditemukan yaitu Ada miom didalam dinding rahim sebelah kanan 4x5 cm dan harus diangkat Kata dokternya "nanti kalau sudah tidak haidh lagi Dan kondisi fisik sudah bagus, Baru kita bisa angkat dan terserah kapan siapnya"

"Tidak apa-apakah itu dok kalau sudah wisuda baru diangkat itu penyakitnya Karna maumi INI dok target selesai bulan-bulan 8?" Tanya bapakku.

"Oh tidak apa-apa yang penting rajin kontrol tiap bulan, tapi saya hanya bisa kasih obat pengatur hormon agar teratur siklus haidnya, Karna kalau tidak diangkat ini miomnya akan begini terus secara berulang haidhnya tidak teratur dan banyak darah keluar"

"Tidak berpengaruh dok sama kandungannya ?"

Tidak, yakin saja.

(Kemudian dokter natalie berlalu)

"Ingat nah sayang, diangkat kalau mau cepat sembuh tidak dikasih nanti cucu bapakta"

"Hehehe iya dok"

Setelah beberapa lama rajin check up ke dokter akhirnya obatnya habis juga dan pada saat obatnya habis terjadi pendarahan lagi, karna sudah panik ,keluarga akhirnya malam-malam dibawah kedokter praktek RSIA amanat dan dokternya juga bilang hal yang sama "sebaiknya diangkat"

Awalnya saya sangat takut dengan operasi, selain minum obat dokter saya juga minum ramuan herbal air rebusan daun sirsak dan kunyit putih tetapi untuk ramuan herbal khasiatnya memang butuh waktu lama dan tidak secepat operasi , sementara keluarga tidak tega melihat saya kesakitan terus menerus akhirnya saya berubah pikiran mau segera dioperasi saya jadi teringat kata-kata keluarga :

"Itu rahim sudah seperti jantungnya wanita, kasihanilah calon suamimu kelak jika tidak bisa memberikan keturunan karna rahim disitulah ada kehidupan" quote kak tiar

"Ndag usah pikir apa-apa, fokus saja sama penyakitmu, kalaupun harus diangkat tidak apa-apa, jangan pikirkan biaya, karna jangan sampai dibuangko sama suamimu nanti kalau tidak ada keturunanmu, biar bagaimanapun banyaknya uangmu. Kata bapakku.

"Jangan mhi khawatir nak, banyak jhi juga keluarga dan orang yang punya penyakit seperti itu nah bisa jhi melahirkan , banyak tonji anaknya" kata pung bonga

"Kamu tau itu ussy yg artis ? Istrinya andhika ? Sama penyakitmu itu nah 3 mhi anaknya". kata kk tina

banyak keluarga memberi dorongan semangat untuk sembuh, sambil menggepalkan tangan menunjukkan semangat persatuan 45 saya serasa berada dizaman penjajahan indonesia dimana tubuhku dijajah penyakit antara memilih berjuang atau memilih untuk gugur atau mundur..

satu hal yang selalu kusyukuri dalam hidup ini tinggal ditengah-tengah keluarga yang begitu baik dan peduli dan dari mereka saya belajar untuk membuka diri karna selama ini mungkin saya tertutup .

Setelah operasi saya mendapat pelajaran yang begitu sangat berharga meskipun pada awalnya sempat kusesali "Ya Allah, rasanya sakit sekali, saya seperti orang melahirkan yang dioperasi caesar , ini yang kutanggung diusiaku yang masih sangat muda 21 thn, kasihanilah aku, ini terlalu berat"

Tiap hari adalah waktu dimana untuk muhasabah diri, dosa apa yang kulakukan sedang aku selalu menjalankan perintahNya? Menjaga diriku dari apa yang Dia haramkan. Aku kembali Flash back ke masa sekarang dan kemasa lalu saya tidak bisa menyalakan takdir, aku tau Allah memberi cobaan karna Allah sayang sama saya, Allah tau kalau saya orang yang baik dan ingin menyadarkanku lebih awal supaya tidak dicoba dengan penyakit yang lebih parah lagi. mungkin saja saya pernah menyakiti hati kedua orang tua dan membuatnya menangis (dan kuakui memang pernah) , mungkin saja dulu saya suka berbohong, mungkin saja dulu saya menolak banyak cinta laki-laki sehingga membuat salah satu mereka sakit hati dan membuat saya menderita sakit seperti ini, atau mungkin saja dulu saya pernah bersikap sombong dan angkuh sehingga ada yang menyumpahi, Tapi biar bagaimanapun saya tetap positif thinking ini adalah ujian dari Allah yang pasti ada hikmah dibaliknya, mungkin saja dengan ujian ini membuat saya tersadar atas kesalahan-kesalahan yang saya buat, dan saya kini mulai menyadari bahwa memang saya adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan.

Ternyata keluarga adalah segalanya, sesuatu yang harus dijaga silaturahminya kalau saya tidak sakit mana mungkin saya tinggal dirumah keluarga ? Keluarga adalah orang yang pertama peduli, dan turut bersedih. Sehingga saya menemukan secercah harapan untuk terus bangkit kembali dan semangat untuk cepat sembuh

Keluarga yg mengatur makanan bergizi, keluarga yang turut membantu jika ada keperluan, keluarga adalah segalanya.

Sekarang, Saya mulai sedikit memahami dan mencoba menerima bahwa antara adat, budaya dan agama memang tidak bisa dipisahkan dalam hidup ini, perlahan-lahan saya mencoba membuka diri untuk lingkungan yang baru.

Saya juga bersyukur judul skripsi saya yang di ACC "sistem pakar panduan untuk ibu selama proses kehamilan" sesuai dengan saya, dirumah sakit yang saya teliti tempatku dioperasi, saya juga baru tau dokternya punya hubungan keluarga dan pemilik rumah sakit baru tersebut yang saya syukuri biaya selama perawatan dikasih diskon . Bukan hanya dokternya, saya juga bersukur bisa mengenal perawat-perawat yang seperti bidadari . Alhamdulillah alhamdulillah... semoga pengerjaan skripsi saya dipermudah oleh Allah dan bisa bermanfaat bagi pasien ibu-ibu hamil dan rumah sakit tersebut.

Satu pesan yang saya dapatkan dari mamaku "cepat sembuh, cepat selesai ,sehingga bisa berkumpul lagi bersama disini" aamiin ya Allah dan semoga juga cepat dapat jodohnya.

Dan pada saat tulisan ini ditulis saya masih mencoba menyusun skripsi dan masih dalam tahap pemulihan setelah operasi. Tidak sabar rasanya ingin sembuh dan berkumpul kembali bersama teman-teman dan ingin rasanya membuka diri kedalam jalinan pertemanan lebih luas lagi tanpa terlalu kaku membawa diri.

Kamis, 02 Februari 2017

Guru idaman

0 komentar


Guru-guru di SMKN 1 Majene sangat welcome dengan kami anak-anak KKN , kami disambut bagaikan tamu kehormatan yang begitu penting, saya tidak akan lupa hari itu begitu juga masyarakatnya begitu ramah dengan kami. Ada satu guru yang sampai sekarang membuat saya penasaran,  saya  masih belum tau sosok wajah dibalik cadar itu ... dia adalah ibu Rahmania, dia itu guru yang sangat disukai oleh siswa-siswanya,  dengar-dengar dia adalah pembina PMR dulu tapi sekarang berhenti (ntah karna apa) dan PMR di SMKN 1 Majene statusnya tidak aktif,  ibu Rahmania sering mengobrol dengan saya yaaa... karna kami satu manhaj yaitu “Manhaj Salaf” ibu Rahmania pernah bilang kalau dia itu dulu dan suaminya adalah wahdah islamiyah tapi sekarang hijrah ke salafi dan pemaahamannya tidak beda jauh dengan wahdah , biar bagaimanapun dia masih tetap mendukung dakwah yang disampaikan oleh wahdah islamiyah. Dalam diri saya berharap semoga suatu saat kelak saya bisa hijrah ke salafi, saya mau merasakan bagaimana rasanya, sepertinya bagus.
Saya selalu dipanggil untuk jalan-jalan kerumahnya, tapi saya selalu tidak sempat, saya pernah ditraktir, ibu Rahmania itu  begitu baik dan ramah, bahkan dia yang menyarankan saya untuk mengisi kajian jumatnya adek-adek tapi terlebih dahulu melakukan observasi dimushollah dan memberi tau ibu Kurnia (guru agama) dan ibu Muli yang rutin mengisi kamat disana . Tidak pakai pikir panjang saya lansung  senang, bagaimana tidak ? ini bisa jadi  ladang dakwah sekaligus amal jariyah untuk saya, dan setelah itu saya lansung memberi tahukan info ini kepada ukhti husni (saudari seimanku).

Begitupun saya mengenal ibu Muli yang begitu baik, pernah saya berpapasan di alfamidi, lansung saya dikasi 2 roti bungkusan untuk pulang. Ibu Muli itu orang yang baik banget, tapi saya heran mengapa siswa-siswa menyebutnya guru killer ? dan teman-teman posko semuanya takut berhadapan sama ibu Muli katanya teman-teman pernah ditegur gara-gara cara pakaiaanya yang begitu “wauuw” (khusus cewek) , sama proker-proker yang diadakan teman-teman tidak syar’i . tapi ibu Muli itu baik dan ramah kok yang saya sukai dari ibu Muli cara menyampaikan dakwahnya itu terkesan lucu dan gaul membuat kami tertawa. ibu Muli juga menyarankan kami untuk mengisi adek-adek setiap jumat, ibu Muli itu sosok guru yang cerdas selain cerdas ibu Muli juga pintar vokal.

(pada saat hari jumat)
(lansung lihat daftar materi kamat yang tertempel ditembok)
“ukhti... terlalu umum’ki  materinya, kebanyakan tentang fiqih ,  kurasa bisa jhi’qi bergantian mengisi kalau materi seperti ini, kan umum jhi meskipun kita berbeda pemahaman kurasa kalau materi seperti ini tidak menimbulkan persoalan)

(ibu Kurnia lansung datang)
Ibu Kurnia           : Silahkan pilih materinya yang mau dibawakan .
Alya & husni       : lansung senyum-senyum J belum ada persiapan.
Alya                       : ukhtii... bagaimana mhi ini belum phi ini ada ini persiapanta , kita mho pale duluan yang mengisi nah.
Husni                     : aihhh... belakangan phi itu , baruki ini mau observasi, dan nanti kita tanyaki ibu. Yang penting masuk meki dulu.
Alya                       : Oke...


(tampak ibu Kurnia sedang mengisi tahzin)
.......
Ibu Kurnia           : (sementara menjelaskan hukum-hukum bacaaan dalam surah al-baqarah)
Alya                       : (bisik-bisik) ukhti... kalau tahzin kayaknya bisa jhi deh saya , sebelumku KKN sdh mmg dites ikhtibar halaqoh . Atau begini saja saya mengisi tahzin , kita yang mengisi kajiannya . bagaimana , adil toh ?
Husni                     : (bisik-bisik) tanyaki dulu ibu nah...
Ibu Muli               : Assalamu Alaikum... (memasuki mushollah)
Serentak              : Waalaikum Salam
Ibu Kurnia           : (selesai mengisi tahzin) ..... mungkin cukup sekian apa yang saya  bawahkan hari ini dan kepada mahasiswa KKN ada yang ingin disampaikan ?
Husni                     : begini ibu, kami disini , hari ini masih sementara mau melakukan observasi, kebetulan kami juga masih mau belajar sama ibu sebelum kami terjun lansung mengisi adik-adik, mungkin ibu bisa mengajari  kami sebelum kami mengisi adik-adik.
Alya                       : (bisik-bisik ditelinga husni) ukhti,,, ndag ada kayaknya waktunya ibu untuk itu, atau begini saja sesuai kesepakatan tadi yang kubilang, saya tanya mhi ibu nah....”
Alya                       : maaf bu sebelumnya, sebenarnya kami tau beberapa , tapi Cuma perlu bimbingan/didampingi oleh ibu. Saya mau menawarkan diri mengajar tahzinnya adek-adek, sedangkan husni mengisi kajian jumat adek-adek. Kalau ibu berkenan.
Ibu Muli               : iyaa kan mhi saja ibu Kurnia, cocokmi juga itu..,, supaya bisa juga  ibu Kurnia untuk sementara waku istirahat dan mengurus anak sama suaminya.
Ibu Kurnia           : tahzin hanya 2x dalam sebulan. Setiap jumat itu selang seling antara kajian umum dan  tahzin, misalnya pekan ini tahzin, kemudian pekan depan itu kajian umum jadi kalian bisa saling ganti-gantian. Adapun ibu Muli juga sering mengisi kajian khusus setelah selesai tahzin.
Alya                       : jadi , sampai jam berapa selesai bu kalau tahzin ?
Ibu Kurnia           : sampai selesai tidak ditentukan jam’nya bisa mulai jam 11;30 jam pulangnya anak-anak  dan selesai sampai jam 13.00.

Dan semenjak saat itu saya dan husni mengisi, banyak siswa berbondong-bondong datang bahkakan menunggu kami kalau sebelumnya hanya 4-5 orang saat ini mencapai hampir 20 orang berbagai jurusan (tidak terlalu banyak sih tapi lumayan bertambah) . Saya tidak tau apa penyebab datangnya , ntah karna diwajibkan dan takut sama ibu Muli (ibu Muli adalah wali kelas) atau  memang hidayah telah menggerakkannya atau sebab lain pengen kenal-kenal sama kakak yang mengisi. Tapi apapun itu wajib disyukuri. Alhamdulillah... mereka adalah adik-adik yang terpilih oleh Allah untuk ditunjuki kebaikan.




Perbedaan hijabers dan hijrahbers

0 komentar
Sampai sekarang saya masih heran teman-teman poskoku semasa KKN sampai sekarang masih memanggil saya dengan husni sebutan hijabers, Setiap kali bertemu / berpapasan lansung sapa atau teriak  “HIJABERS !!!!” . Hmmm... apakah mereka tidak tau ya ??? atau mereka tau atau salah sebut kata ??? yoweslah... tidak perlu terlalu dipermasalahkan mungkin hanya salah sebut.


Hijabers dan hijrahbers jelas berbeda, hijabers yaitu orang yang berjilbab modis, bergaya ,  penuh pernak-pernik yang mencolok, dan warna-warna nge-Jreng.. Jreng.. Jreng... sedangkan  Hijrahbers yaitu orang yang masih belajar memperbaiki diri , orang yang hijrah meninggalkan kemaksiatan menuju kebaikan, meninggalkan kegelapan menuju cahaya, orang-orang yang benar-benar mau merubah diri dan penampilannya secara syar’i. Nah teman-teman , sudah taukan perbedaannya ???

kakak andalangku

0 komentar
Selamat malam sahabat blog...
maaf sudah lama tidak posting akibat banyak sekali kesibukan akhir-akhir ini, 
ini adalah percakapan waktu tanggal 28/12/2016 Percakapan malam itu berkaitan tentang jodoh dan baru sempat diposting.

“kak cum...  pasti kriteria laki-laki idamanta itu yang pertama beriman, kedua itu pasti berpendidikan, dan yang ketiga itu pasti berasal dari keluarga baik-baik”. Kataku
“sotta lagi alya, tidak jhi juga deh... berpendidikan yang bagaimana ?” kata kak cum.
“berpendidikan maksudku pasti mempunyai sifat  kepemimpinan yang baik.” jawabku.
“tidak jhi juga saya alya, itu kriteria yang kamu sebutkan tadi adalah kriteria standar wanita zaman sekarang, kalau saya biar tidak berpendidikan asalkan dia mau bekerja keras dan mau berusaha. Karna saya itu alya paling ilfill lihat cowok yang apa-apa semuanya disebutkan kebaikannya misalnya begini “baikka saya nah, sholat tahajjudka tadi malam, tadi toh pergika donor darah bla bla bla...”.itu yang tidak kusuka saya dari cowok alya mending itu yang diam-diam tapi kelihatan sendiri jhi itu nantinya...”. kata kak sumi
“ohhhh iya di kak seperti pengibaratan pucuk es dikutub utara yang kelihatan pucuk-pucuknya saja tapi dibagian dalamnya terdapat bagian raksasa.” Kataku
“iya seperti itulah alya” kata kak cum.


*Beberapa detik kemudian
“alya tidak sengajaka ketemuka tadi dengan orang yang bisa membaca garis tangan , katanya toh ini tangan kiriku bagus sekali katanya dan bisa untuk simpan uang , tapi pada saat dibaca garis jodohku katanya masih jauh, memang nah alya pernahka juga dulu ketemu sama bapak-bapak yang bisa baca garis tangan dan sama jhi itu na’bilang “jodohmu masih belum kelihatan nak, tapi meskipun begitu alya saya merasa toh kalau dalam waktu dekat-dekat ini bakalan baguski karierku , bakalan terus melonjak naik tapi kalau masalah jodoh belum ada kelihatan,”kata kak cum.
“kalau itu dirasa kak berarti itu mhi nanti yang terjadi karna Allah itu sesuai dengan persangkaan hambanya dan bakalan itu mhi, dan kalau bisa saya bacaki , kita itu orangnya kak kalau masalah percintaan dan pernikahan tidak terlalu pusing dan diurutkan kenomor sekian dan urutan pertama itu adalah prioritasta pasti  karier meskipun tidak dinafikkan ada seseorang didalam hati dan itu yang ditunggu-tunggu belum phi juga datang-datang,” Kataku kepada kak cum.
“alya... alya kuingat’i sedding kata-katanya kak irma bilang “itu sumi mau sekali mhi bde menikah tapi belum phi dilamar-lamar, hehehe kalau kuingat jatuh sedding harga diri tapi lucu toh seandainya na tau teman kos’ku itu pasti dibully’ka lagi bilang “mentong kau cum... tidak laku-lakuko,” dan lihatmi alya kalau salah tangkapki anak-anak disebelah,”. Kata kak cum.
“begitulah kak , salah tangkapki dan biasa terjadi”
“yakinka ini alya kalau masalah jodoh pasti orang terdekatnya jhi na’temani menikah” . kata kak cum kepadaku.
(sontak)
“Ahhh kak janganki sotta belah, dari mana bisa ditau , padahal saya sendiri tidak tau?,” tanyaku.
Dari tingkahmu saja bisa ditau, pasti ada mhi na simpan-simpankan ko itu bapakmu,”kata kak cum.
Kalaupun misalnya ada dan itu bukan pilihanku sendiri bagaimana ?,” jawabku
Yakinka bakalan menurut jhi’ko itu apa-apa yang dibilang sama orang tuamu,” Kata kak cum.
“Iyakah ?,” kataku.
“alya toh berpikir lagi, aminkan mhi saja karna siapa tau ikhwan dari soppeng atau ikhwan dari nunukan ,?. (kata husni)
“hmmm husni toh siapa tau bukan,”kataku.
“kenapaikah alya ? kalau kulihat-lihat memendam perasaan sekali sama seseorang ?,”kata kak cum.
“masa weh kak ? dari mana lagi ditau ? pintar meramal ? ,” kataku.
“bukan masalah pintar meramal, kan kalau meramal itu dalam islam sama saja dengan syirik dan tidak akan diterima sholatta 40 hari 40 malam, tapi ada yang saya tau dari ilmu psikologi kalau kulihat itu bagian bawah mata’ta mengkerutki naik keatas seperti ini (sambil memperagakan) berarti ada itu  dipendam.”kata kak cum.
“terus bagaimana bisa kita tau kalau orang terdekatku jhi nanti kutemani menikah ?,” kataku.
“kalau kulihatki kita terlalu kaku’ki sama orang baru berarti nanti tidak jauh jhi itu jodohta palingan orang-orang terdekatta jhi,” kata kak cum.
“ohh... masa weh kak ?,”tanyaku.
“Allahu’ WA’lam terserah mau percaya atau tidak kan saya bukan tuhan yang bisa dipercaya seutuhnya,”kata kak cum.

Ada hal yang membuat saya kagum dengan sosok kak sumi walaupun orangnya cenderung keras, tapi dia berhati keibuan dan banyak hal yang bisa pelajari dari dia yaitu ilmu dan pengalaman, saya belajar sedikit mengenai proposal dan persuratan, ilmu psikologi, bisnis dan keuangan, karya seni, dan petikan-petikan ilmu kehidupan lainnya dari dia, bahkan belajar ilmu agama dari perkataan dia meskipun bukanlah orang yang taat insyaa Allah dia adalah orang yang hanif (baik) . Husni selalu berkata “cocokki alya ketemu sama kak cum, karna alya itu banyak bertanya sedangkan kak cum banyak menjawab”.

“Iyakah alya banyak sekali pertanyaannya terkadang harus dijelaskan sampai keakar-akarnya, selesai satu masih ada lanjutannya terus bagaimana tidak buat kesal ?,” kata kak cum.

 Saya, husni , dan kak sumi satu kamar dan kak sumi selalu curhat sama kita, dan yang bikin aku kagum sama sosoknya adalah dia tidak pernah pacaran kak sumi selalu berkata ;

“buat apa pacaran kalau hanya jadi main-mainan cowok ? yakinka kalau misalnya sebelum pernikahan sudah banyak mantan , apa disisakan untuk suamita nanti ? dan coba bandingkan sama orang yang tidak pernah pacaran dalam hidupnya kalau misalnya ditanya “berapa orang pernah pacaran sama kamu dulu ?,” dan kalau dijawab “tidak ada dan tidak pernahka pacaran,” yakinka akan dihargai sekaliki sama laki-laki. Dan itu jhi saya kupegang prinsipku dari dulu, saya tidak mau dimain-maini sebelum menikah laki-laki cari wanita yang cantik untuk dipacari tapi pada saat mau menikah dia pasti cari yang sholehah, dan saya bukanlah pantas untuk dipacari tapi pantasnya untuk dinikahi.” ~ kak cum.




Rabu, 17 Agustus 2016

Lomba makan kerupuk

1 komentar

Tadi saling kirim mengirim photo tentang 17-san dan gak sengaja ambil photo ini dari hp teman kebetulan dia juga asal jeprat jepret eh ternyata ada juga saya disini.

Photo ini punya cerita tersendiri, itu adalah saya yang mukanya saya tutupin love biru (sengaja) dan yang di lingkaran putih itu adalah ibu dan anak (saya tidak tau apakah ibu dan anak sedarah/ kandung atau layaknya ibu-ibu zaman sekarang yang panggil anak ke siapa saja)

Ceritanya begini :

Pada saat perlombaan dimulai, ibu itu berkata kepadaku "adek.. Coba lihat berdarahki gusinya ini anak akibat mengunyah kerupuk". Kemudian saya jawab : "iye ibu berdarah, jadi bagaimana apa ndag apa-apa ?" (sambil memegang pundak anak tersebut untuk menginstruksikan berhenti )

Kemudian ibu itu berkata  kepada anak ini : "ayo nak ndag apa-apa berdarah lanjutkan saja makan kerupuknya meskipun berdarah-darah namanya juga perjuangan. Ayoo.. Nak ... Dan anak tersebut tetap melanjutkan makan kerupuk sampai perlombaan selesai, meskipun saya ndag tega melihat giginya berdarah-darah tapi anak tersebut begitu sangat gigih sampai akhir perlombaan anak itu mendapat juara pertama. alhamdulillah ...yeeee menang *tepuk tangan meriahpun disemai.

Seharusnya kita harus belajar dari ibu dan anak ini, hari ini mereka mengajarkan saya tentang perjuangan bahwa untuk mencapai kemenangan yang sesungguhnya bukan berhenti lalu menyerah, meskipun tertatih-tatih peluh hingga berdarah-darah tapi kelak kemenangan itu akan kita tuai sepanjang kita tak pernah berhenti berjuang. Perjuangan itu akan terasa indah bagi orang-orang yang memahami.

#harikemerdekaan #17agustus #jayalahindonesiaku #anakbangsa #lombamakankerupuk #perjuangan


Senin, 15 Agustus 2016

Teman hijrah

1 komentar



Malam ini tempat ternyaman adalah kasur setelah seharian bekerja dikantor untuk praktek industri menguras energi , disertai hembusan kipas angin membuatku ingin tidur sejenak tiba-tiba ada bunyi dari pintu kamarku membuyarkan istirahatku.

"Assalamu Alaikum", ucap seseorang yang berada dibalik pintu kamarku.

"Waalaikum salam", jawabku, sambil berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar.

"Boleh masuk ?" ucapnya disertai senyum.

"Oh salwa..Iyaa... Boleh, silahkan", sambil mempersilahkannya masuk.

"Tujuanku kesini langsung saja ada sesuatu yang ingin kusampaikan," katanya kepadaku.

"Apa itu salwa ?", kataku kepada salwa yang saat ini dihadapanku disertai dengan rasa hati yang bercampur aduk dan was-was dan menerka-nerka.

***
pikirku dalam hati
Jangan-jangan mengenai wajan yang itu hari kupakai dan belum kucuci tempo hari? Atau saya jarang membersihkan dihari minggu ? Atau mengenai kompor minyak tanah yang didapur ? Padahal sudah saya isi minyak tanah. Atau masalah jemuran yang full, kan saya tidak mencuci, pakaian saya ada di laundry sekarang. Atau apa yaa.... ???
***

"Hmmm begini atau kusampaikan mhi sekarang," kata salwa.

"Iya .." jawabku.

"Begini, kan saya rencana mau pindah kamar tapi saya cari orang yang mau bimbing saya untuk hijrah." katanya.

"Kenapa dikamar sebelumnya ?," kataku.

"Sebenarnya di kamar sana merasa tidak kuatka dan ada-ada saja godaannya, dan selalu ribut serta selalu putar musik dan saya sudah bertekad sekarang untuk hijrah dan carika lingkungan yang bisa membimbing," katanya kepadaku.

"Pernah ditawari akhwat untuk tinggal dipondokan ?," kataku.

"Tidak ,". Sambil menggelengkan kepala Jawabnya.

mungkin dia belum jadi pengurus terus kucoba untuk bertanya lagi "tarbiyahnya sudah berapa lama ?".

"Baru-baru ini juga sih, perlahan-lahan mau mencoba untuk hijrah sedikit demi sedikit mau mencoba jilbab yang besar," jawabnya.

"Oh ... Pantesan saya lihat perubahannya salwa sudah agak menutupi dada kerudungnya dan udah agak tebal, terus yang ajak tarbiyah siapa ?". Tanyaku kepadanya.

"banyak akhwat disana , salah satunya kita tau pasti vera temanku ? Dia yang ajakka juga," jawabnya.

"Oh tau... Vera yang dari soppeng itu toh ? Temannya marina juga ? Seringka ketemu." kataku.

"Iya itu... Dia yang tanyaka supaya ada juga akhwat kutemani sama-sama kos biar mencegah futur karna setiap hari rasanya itu selalu musik-musik didengar di telinga." katanya.

"Yakin mau pindah kos ? Disini juga selalu kedengaran musik, apalagi yang disebelah sini samping kiri kanan kadang juga putar musik,"

"Itu mhi juga kupikir tapi bisa jhiqi kita bertahan toh ? Dalam hatiku toh berkata "lamanya mhi, sanggupnya Lola bertahan dengan keadaan seperti ini, kalau misalnya Lola bisa kenapa saya tidak bisa ?." katanya.

***
Dalam hatiku berkata, mana sanggup juga aku bertahan, tapi kucoba bertahan demi almarhumah nenek disana yang selalu melarangku pindah kos karna kebetulan ini juga rumah ada hubungan keluarga dengan ibu kos . dan orang tuaku juga selalu larang-larang pindah .
***

"Oke pale,,, kalau mauki pindah, kapan rencanata mau pindah dikamarku ?," tanyaku kepadanya.

"Nanti kalau sudah mulai orang pembayaran kos baru saya pindah disini," jawabnya.

"Oke pale," jawabku.

"Yeee akhirnya ada kutemani, (sambil menutup mulutnya, sesekali memegang kedua pipinya dengan ekspresi penuh kegirangan) .makasih nah lola," ucapnya kepadaku dan berlalu pergi.

"Iya sama2," jawabku.

Satu hal yang saya tidak bisa untuk berkata "tidak" meskipun saya sudah terbiasa untuk hidup sendiri dikamar ini selama 3 tahun tapi untuk masalah ini saya tidak bisa berkata "tidak" karna niatnya itu baik dia mau hijrah.

Semua manusia pasti ada niat untuk berubah menjadi lebih baik, setiap dari mereka pernah melakukan kesalahan dan bahkan tak sedikit dari mereka yang merasa menyesal dan berharap kesalahan itu tidak akan terulang lagi. Dan aku, sama seperti mereka yang pernah melakukan sebuah kesalahan, tidak! bukan hanya sebuah, namun banyak sekali kesalahan yang pernah aku lakukan sebelum hijrah. Lantas, apa alasanku untuk tidak membantunya ?

Hijrah....

5 kata itu juga yang mengubah hidupku dan sampai sekarang juga saya masih menjalani prosesnya, hidayah bisa menyapa kapan saja kepada pemilik hati yang Allah kehendaki kebaikan, mau itu cepat ataukah lambat apabila hati sudah dikehendaki Allah dengan kebaikan maka wajib bagi kita untuk "sa'mina wa'atona" meskipun terkadang futur melanda diri, dengan adanya teman hijrah bisa saling menguatkan dan menasehati agar tetap berjalan bersama dijalan-Nya. Tak peduli siapa duluan karna hijrah bukanlah lomba cepat-cepatan melainkan saling merangkul berpegangan tangan dan sama-sama berjalan ataupun berlari menuju-Nya. Dan ketika salah satunya terjatuh, ada yang bisa mengajaknya berdiri untuk bangkit kembali.

Untuk terakhir saya kutip sebuah hadis qudsi :

"Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Apabila hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal,maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sehasta,maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dgn berjalan,maka aku akan datang kepadanya dgn berlari" (Hadits qudsi riwayat Bukhari dr Anas)

#Melangkah Menuju-Nya.


Selasa, 28 Juni 2016

Nikah muda ?

0 komentar

.......
Sambil mengutak atik laptop tiba-tiba saya menimpa sebuah pertanyaan.

"Kenapa yaaa kalau anak-anak uztads atau ulama-ulama dinikahkan pada saat usia muda ? Bahkan ada yang sedari SMP udah menikah ? Seperti itu waktuta pergi acara seminar tahfidz Alquran yg pematerinya 3 bersaudara yg sdh menikah semua ?," tanyaku kepada Khadijah.

"Iyaa... Kenapa kira2 itu di ?," melemparkan pertanyaan balik.

"Iya karna orang tuanya sudah paham , bukankah sudah dicontohkan oleh aisyah putri abu bakar yang saat menikah masih berumur 9 tahun ? Dan juga dicontohkan oleh Fatimah az-zahra dan Ali Bin Abi Thalib Dan menikah juga itu lebih berpahala  dari pada anak-anak terjerumus dalam dosa pacaran mending dinikahkan cepat2 agar supaya ada yang jaga dan tidak diganggu,"menjawab pertanyaanya.

"tapi bukanki kita kwodong anak uztads , kalau orang tua'ta mungkin bilang "selesaikanmi dulu kuliahmu". Kata Khadijah.

"Bah iya  sama jhiqi Khadijah," kataku.

***
Tiba-tiba teringat dengan percakapan telpon waktu lalu dengan orang tua , ntah apa yang ada menjurus dikepalaku tanpa pikir panjang langsung meleset sebuah perkataan :
A : pa.. Aku mau menikah
C : mauko menikah dengan siapa ?
A : tidak tau , tidak ada calonnya. Makanya carikan.
C : kenapa na plin plan sekali. ? Mau menisatunyau kuliah ?
A : mauka ke dua-duanya kalau bisa. Menikah sambil kuliah.
C : itu tujuan orang kuliah utk apa ? Untuk dapat kerja toh ?
A : yaa itu salah satunya tapi tdk apa-apa menikah juga nah kayak seniorku ada yang menikah waktu semester 5 dan sambil kuliah juga.
B : mauko jhe menikah sama siapa ? Itukah yg dulu mu kasih tau mamamu ?
A : bukan dan tdk ada ini calonnya makanya carikanka.
C : phuaa... Kuliah meko dulu . sudahmi
A : iyaa pale...

....... .

"Ukhti... Sebenarnya saya ada mhi calon dari orang tuaku" kata ukhti Khadijah kepada saya membuyarkan lamunanku seketika.

"Kayak gimana itu ukhti ? Orang paham2 jhi jg ?", yang aku kepadanya.

"Tidak sih iyaaa... Bukan dari kalangan ikhwan," katanya kepadaku.

"Tapi kita pasti mauqi cari yang sepaham toh sama-sama wahdah ?," kataku kepada Khadijah.

"Kalau bisa sih iya tapi itu tidak kupermasalahkan mau ikhwan ataupun bukan, pernah juga bilang mamaku itu hari "sembarang jhi kamu mauko kuliah atau kerja" karna dewasa meki juga toh ? Dan tdk terlalu kutanggapi jhi juga itu masalah perjodohan kan keputusan ada ditanganku,"kata Khadijah kepadaku.

"Bah iya ukhti bisa jhi juga kayaknya yang bukan ikhwan karna siapa tau dapat hidayah melalui perantara'ta juga , tapi terkadang ada juga cerita kudengar kalau dia tidak mengikut di kita , kita yang bakal mengikut di dia. Kita yang  mewarnai atau terwarnai ? Pilih-pilih meki." kataku kepadanya.

"Tidak menikah-menikah meki itu sampai tua kalau banyak pilih2 , intinya yang bagus akhlaqnya saya kucari, "katanya kepadaku.

"Bah iya.. Sama jhi,"ucapku.


Jumat, 17 Juni 2016

Cita-Cita Ukhtiku Menghapal 30 Juz

0 komentar





.....
Disela sela obrolan pada saat menunggu di ruang BAaK lantai 2 phinisi untuk pengurusan password yang terlupa, kemudian saya pun melanjutkan percakapan yang tadi "ukhti tadi kita bilang ada sekelasta dari soppeng yang juga seorang ikhwan ? Bagaimana itu orangnya ukhti ?'',kataku sambil menatap wajah ukhtiku setengah penasaran.

"Sebenarnya bukan orang soppeng sih ukh tapi orang wajo," katanya

"Oh wajo hampir jhi dekat-dekat dengan soppeng," ucapku.

jangan mi itu ukh ada uztad hafizh 30 juz dari madinah", ucapnya dengan senyum menggelitik.

''Ohhh. . kutahu mhi ukh pasti itu targetta toh ?" ucapku dengan senyum menggodanya.

"Ah... Tidak jhi saya ukh , tidak berharap jha yang hafizh 30 juz kalau diriku sendiri belum hapal 30 juz", kata ukhtiku sambil menunduk namun disertai dengan ketawa-ketawa kecil dipipinya.

"Sama jhi qi ukhti , saya juga tidak berharap yang hafizh 30 juz karna kapasitasku ndag cukup. Asalkan adalah beberapa hapalannya," Kataku.

"Iya ukhti saya juga asalkan sholeh jhi dan baik agama dan akhlaqnya," katanya kepadaku.

"Iya jelasmi itu ukhti, Hmmm... Ngomong2 ukhti itu uztadnya yang hafizh ndag tua jhi ?",kataku.

"Bah tidak jhi ukhti... Seumuran kak innah jhi, ndag tua jhi itu toh ?."

"Tidak jhi ukhti , masih tergolong muda itu untuk seorang hafizh"

(Sambil ukhti menepuk pundak kananku)  "Ukhti, Ada ceritaku," ucapnya dengan mata yang bersinar disertai senyum yang mengembang"

Kubalas senyum itu dengan senyum yang sama "Cerita apa ukhti?", tanyaku.

"Begini Ada seorang ikhwan mau pergi untuk melamar seorang akhwat. Disaat itu, si ikhwan mau melakukan nazhar syar'i (melihat calon istrinya ).

Calon istrinya bertanya : "Berapa hafalan AlQuranmu ?"

Si ikhwan menjawab : "Saya tidak hafal banyak tapi SAYA INGIN MENJADI LELAKI YANG SHALIH"

Si ikhwan lalu berkata kepada calon istrinya : "Kalau kamu ?"

Calon istrinya menjawab : "Saya hafal juz amma"

Calonnya kemudian sepakat untuk menikah karena merasa dia (laki-laki yg datang melamar ini) jujur.

"Terus ukh ?". Ucapku dengan penuh menyimak meskipun awalnya sudah kuterka ceritanya sudah pernah kudengar sebelumnya.

"Setelah mereka menikahmi.
Ini Sang Istri lalu memintanya untuk membantunya menghafal AlQuran.

Sang suami berkata : "Mengapa kita tidak saling membantu dalam menghafal bersama-sama?"

Lalu mereka sama-sama mhi menghafal Alquran dengan Surah Maryam kemudian berikutnya dan berikutnya
sampai hafalan Qurannya selesai dan mereka berdua mendapat Ijazah hafalan Quran, "Lanjut ukhtiku bercerita.

"Masya Allah kegigihannya mereka berdua", trus apalagi ukh ? Tanyaku dengan senyuman.

Kemudian toh ini istrinya menawarkan : "Mungkin kita juga bisa memulai menghafal Hadits-hadits Bukhari.." kemudian mereka lanjut mhi menghapal hadis2 bukhari..

"Terus apalagi ukh", tanyaku sambil terus menyimak.

"Kemudian , Di sebuah kesempatan ketika si ikhwan berziarah kerumah mertuanya, ini ikhwan mengabarkan kepada mertuanya kalau anaknya yang menjadi istrinya sekarang sudah hafal AlQuran Al Karim, Alhamdulillah.

Terus kaget mhi ini dengan apa yg dikatakan menantunya, ini orang tua lalu masuk ke kamar anaknya seraya memperlihatkan banyak kertas kepada menantunya.
Sontak dan alangkah kaget dan bingungnya mhi ini sang suami, Istrinya ternyata memiliki ijazah hafalan Alquran dan Kutub Sittah (kumpulan kitab2 hadits) bahkan sebelum dia menikah dengan ini istrinya.

Masyaa Allah ...ini si istri tidak mempermasalahkan dari awal sedikitnya ilmu yang dimiliki sang calon suami, dan dia kemudian membantunya menghafalkan Al Quran sebagaimana dia telah menghafalnya disaat dia merasa kalau memang sang suami adalah orang Shalih ini istrinya juga tidak berdusta ketika dia berkata saya hafal juz amma karena dia tidak menafikan bahwa dia juga hafal surat yg lainnya.

"Masya Allah akhwatnya begitu rendah hati, dan pandai menyembunyikan sesuatu. bagus juga ukhti ceritanya", kataku memberi pujian .

"Ukhti..  Mauka curhat,"katanya.

"Iye... Curhat meki ukh,"kataku.

"Ukhti sebenarnya saya toh disuruhka lanjut s2 sama orang tuaku bila perlu kalau bisa sampai s3", katanya kepadaku

"Kesempatan bagus itu menurutku ukhti . bagus jhi orang tua'ta dan bisa jhi'qi kurasa berdakwah sambil lanjut kuliah lagi seperti kak Rina, bukannya menimba ilmu itu bagus ukh ? Ilmu memang harus selalu dikejar ?", ucapku meyakinkannya.

"Iya sih ukh... Tapi masih mau kupertimbangkanki" ucapnya setengah ragu2.

"Jadi ukhti tidak mauki menikah setelah wisuda kan mauki lanjut s2 itu kayaknya?," ucapku kepadanya.

***
Kembali Teringat kata-kata ukhtiku beberapa bulan yang lalu pada saat awal semester 6 pada saat saya menemaninya mencari industri pabrik roti untuk tugas kuliahnya meskipun berbeda jurusan setidaknya saya belajar banyak darinya, pada saat ruang diruang tunggu industri tersebut kami bercerita.

"Ukhti ada lembaga walimah di makassar . Nanti toh sebelum lulus ikut meki juga seminar pra nikah yang akan diadakan, saya phi carikanki calon orang yang dari daerahku yang juga ikhwan. Masyaaa Allah sekali itu ukhti wisudaki sama-sama, luluski sama-sama, kemudian berdakwahki sama-sama satu daerah" kata ukhti kepadaku.

"Ukhti, jangan mhi repot2 datang sendiri jhi itu nanti. Jawabku.

Dan pada saat hari yang lain juga kemarin dia berkata kepadaku disertai dengan ketawa kecil-kecil.
"Ukhti...  saya phi carikanki"
***

Sambil memikirkan perkataan yang lalu sambil menyimak perkataannya dia melanjutkan.
"Ukhti, tidak kutahu mhi juga ukh masih ada pertimbangan lainnku, dan belum kutahu juga "katanya kepadaku dengan agak bimbang.

(Dalam hati berkata sebenarnya ukhti kita punya kesempatan yang sama sih melanjutkan studi lagi tapi disisi lain saya juga ingin menikah kalau jodohnya ada yang sesuai dan bagus akhlaq dan agamanya, kenapa tidak ? menikah untuk menyempurnakan ibadah, untuk menjaga kehormatan diri. kalaupun jodohnya belum ada saya akan melanjutkan studi lagi.)

Kembali aku kembali bertanya kepadanya, "Apa yang dipertimbangkan ukhti?", tanyaku sambil menatapnya dalam-dalam serasa ingin membaca dan menerka apa yang tersirat didalam pikirannya.

"Mauka juga ikut program menghapal Alquran yang ada disnini dimakassar, mauka fokus menghapal sampai 30 juz," katanya.

"Lah, bagus itu ukhti... Setuju jhi orang tua'ta ?," Tanyaku.

"Begini juga ukhti saya kan 6 bersaudara dan adikku ini ada mhi yang menikah dan yang lainnya masih kecil-kecil dan ini yang kecil-kecil yang kelas 5 SD mauka jadikan hafizh (penghapal Alquran) . kan kebetulan adikku masih kecil-kecilki dan ada mhi yang menikah dan merasa tidak enakka juga sama orang tuaku karna biaya kuliah kayak lari ke saya semua, dan saya benar-benar difokuskan ini untuk melanjutkan studi s2 bila perlu sampai s3 , dan kebetulan juga ada adikku yang  sudah menikah ditanyaki adekku sama mamaku "jangan mhi minta2 uang yaa... Karna ada mhi suamimu yang tanggung semuanya, sekarang biaya mau difokuskan untuk kakakmu buat studi'nya", begitu kata mamaku ke adikku," ceritanya kepadaku.

"Ukhti... Pasti anak pertama ki toh?," tanya ku.

"Iya ukhti... Kita?,"tanyanya menimpa balik.

"Bah sama jhi ukhti... Saya juga anak pertamaka dan memang kalau anak pertama itu memang dituntut untuk sekolah setinggi-tingginya biar bisa jadi contoh juga untuk adik-adiknya, kurasa itu keputusan orangtua'ta juga bagus mhi. Manfaatkan kesempatan yang ada. Ukhti... Saya mau tanya, kita golongan darah O yaaa ?,"tanyaku mencoba memahami karakternya.

"Bukan ukhti saya golongan darah A yang na'bilang itu ceramah uztad itu kalau golongan darah A cepat tersinggung yaaa?? Kalau golongan darah O yang cepat marah dan cepat juga baik ya ? Kalau kita apa ?," tanya nya.

"Saya golongan darah O dan saya pikir kita golongan darah O juga bukan berarti kita suka marah2 yaa bukan begitu, tapi ada yang saya baca di internet salah satu karakteristik orang yang bergolongan darah O adalah ada bakat2'nya menjadi pemimpin dan kurasa kuterka itu dalam diri'ta ternyata dugaanku salah mungkin efek karakternya karna kita anak pertama yaaa.?,"

"Iyaa ukhti... Tapi masih bingungka ukhti... Mauka juga fokus menghapal Alquran 30 juz" ucapnya sambil mengadukan keluhannya.

"Begini solusi ku ukhti, nganggur meki 1 tahun untuk fokus dihapalanta 30 juz kemudian lanjutkan mhi kuliah lagi. kira-kira bisa jhi itu selama 1 tahun 30 juz ? Bagaimana ?," solusiku kepadanya.

"Iya ukhti pokoknya saya harus bisa menghapal bila perlu sampai 30 juz, dan cita-citaku saya ingin menjadi penghapal Alquran juga sebagai bentuk hadiahku kepada kedua orang tuaku" berucap dengan penuh ambisi disertai senyuman yang mengembang sambil terus membuka lembar demi lembar Alquran yang dia pegang.

(Dalam hatiku berkata "Masyaa Allah saya kagum dengan semangatnya ukhtiku, dia ingin menghadiahkan cahaya kemuliaan bagi kedua orang tuanya, diakhirat nanti orang tuanya akan diangkat derajatnya oleh Allah dan dipasangkan mahkota kemuliaan berkat kegigihan anaknya, beruntungnya orang tua memiliki anak seperti dia.")

"Ukhti sampai mana mhi hapalanta ?," tanyanya kepadaku sambil membuka lembar demi lembar Alqurannya.

"Saya baru sampai sini ukhti.. Kalau kita sampai mana mhi ?," tanyaku.

Sambil menghitung-hitung surah Alquran "Ini tinggal 7 surah lagi baru sampai juz 30, Insyaa Allah bisa jhiqi selesaikan tahun ini sampai juz 30 kemudian merangkakki lagi ke juz 29,28. Insyaa Allah bisa jhi."

(Dalam hati aku berkata "Lincahnya ini ukhtiku, perasaan beberapa minggu sebelum ramadhan hapalan kita sama dan sekarang mendahului ku,").

"na'am ukhti... insyaa Allah bisa jhi itu ukhti yang penting yakin." ucapku dengan senyum yg optimis

"Semangatqi ukhti..., " ucapnya yang keluar dari mulut nya disertai semangat yang menyala-nyala dan sorot mata yang bersinar memancarkan semangat juga kepadaku."

Ruangan pengurusan BAAk tampak sedikit hening karna para laki laki semuanya bergegas untuk pergi sholat jumat, yang ada hanya mahasiswa perempuan yang duduk diruang tunggu maupun staf wanita yang stand by di ruang kerjanya. dan jam pun menunjukkan pukul 12:34

"Ukhti..  Kurasa sudah waktunya kita juga untuk sholat," kata ukhtiku.

"Saya pikir adzan ke dua ya ukh ? Karna ada yang pernah saya dengar adzan kedua baru bisa sholat." kataku .

"Sebenarnya adzan pertama kalau sudah waktunya sholat yaaa.. Bisa meki sholat dan masuk mhi juga waktunya,". Ucapnya.

"Ayo mhi pale ukhti," kataku sambil berdiri ingin meninggalkan tempat.

Lalu kami pun bergegas menuju Musholla dekat BAak dan mulai berwudhu kemudian sholat bersama.


Tampilkan postingan dengan label storie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label storie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2018

Pengalaman Awal Mula Menjadi Dosen

Diposting oleh Unknown di 01.57 0 komentar

Saya adalah salah satu dosen lokal dipoliteknik negeri yang ada didaerah saya meskipun belum berstatus dosen tetap, masih berstatus dosen tidak tetap tapi tak mengapa karna ini adalah awal karier saya yang sesungguhnya dan ini adalah cita-cita saya dari dulu. Menjadi dosen itu adalah salah satu target hidup saya dan saya tidak menyangka bisa menjadi dosen diusia yang begitu sangat muda usia 22 tahun pada saat saya baru lulus dijenjang S1.

Baru kemarin rasanya menjadi mahasiswa, masih berkutat pada tugas akhir yaitu skripsi, masih setia menunggu untuk konsultasi dengan pembimbing, masih terus mengejar-ngejar dosen untuk mendapatkan tanda tangannya, masih suka berorganisasi dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk pengembangan diri semasa ditanah rantau. Ahhh… Baru kemarin rasanya pikirku diwaktu itu dan kemudian saya berada didunia yang masih asing bagiku “Dunia Dosen”.

Di awal karier saya menjadi dosen, rasanya agak canggung itu pasti, saya melihat wajah para dosen-dosen lama, pikirku waktu itu “apa bisa ya saya berbaur dengan mereka?”. Sementara saya menganggap diri saya masih seperti mahasiswa bukan dosen, ingatanku kembali pada saat menjadi mahasiswa menganggap mereka adalah dosen saya.

Saya sangat bersyukur ketika disuruh berkoordinasi dengan dosen tamu dari samarinda untuk melanjutkan mata kuliah yang dia ajarkan disitu saya belajar supaya tidak canggung lagi, dosen yang terpaut jauh umurnya diatas saya sekitar umur 50-an itu memanggil saya dengan sebutan “ibu” dan disitu saya merasa menjadi dosen sesungguhnya dan saya beranggapan jika memasuki dunia kerja adapun panggilan ibu/bapak itu adalah panggilan formal untuk menghormati orang lain. Dan saya juga merasa bersyukur sekali disuruh berkoordinasi juga dengan pak d***** dosen senior disana yang sama dengan jurusanku jadi saya bisa leluasa bertanya tentang apa-apa yang tidak saya ketahui dan memang orangnya masih muda ramah, baik hati serta tidak sombong.

Saya menunggu lama untuk masuk mengajar setelah dosen tamu dari samarinda kembali, Untuk pertemuan pertama saya tidak masuk karna terasa mendadak dan belum ada pemberitahuan tetapi cukup kaget ketika tiba-tiba ada mahasiswa menelepon dinomor saya dan saya belum ada persiapan materinya dan rumah saya sangat jauh dari kampus tapi pertemuan selanjutnya saya mencoba masuk dengan persiapan yang cukup.

Meskipun diterpa hujan ditengah jalan menuju kampus, saya mencoba untuk tetap datang dan memberanikan diri, pikiran mulai bertanya-tanya apakah saya ini sudah terlihat seperti dosen atau masih seperti mahasiswa? Kira-kira mahasiswanya gak tua dari saya kah ? kira-kira mereka hormat gak ya sama saya ? dan berjuta pertanyaan-pertanyaan lain mengelilingi pikiranku. Kemudian sesampai dikampus, disamping tangga saya melihat banyak mahasiswa berkumpul menunggu dosennya kemudian saya hampiri dan bertanya
“Dek Kelas 1A yang mana ya ?”
kemudian mereka menjawab “tidak ada kelas 1A kak, kelas 2A ”
“Jadi ini kelas berapa?”
“Kelas 2A”
“Oh iya maksud saya itu, belajar di Lab’kan ?”
“iya”
“Kalau begitu kalian masuk di Lab sekarang”
Kemudian mereka mengikuti saya dari belakang untuk bersama-sama menuju lab, tampak ada mahasiswa yang tidak begitu menghormati saya, dia tertawa sambil berjalan Ntah menertawakan saya atau hanya perasaanku saja.

Ketika semuanya sudah berkumpul hal pertama yang saya lakukan adalah meminta maaf karna salah ucap kelas dan meminta maaf karna tidak sempat hadir pekan lalu kemudian saya lanjutkan dengan perkenalan, saya melihat mereka begitu tertarik tentang perkenalan kali ini dan mereka merespon dengan baik setelah perkenalan saya melakukan Tanya jawab tentang sejauh mana materi yang mereka dapatkan dari dosen samarinda kemudian saya lanjutkan materi setelahnya.

Saya begitu senang melihat mereka begitu menghormati dosennya, begitu memperhatikan jika saya menjelaskan, dan tenang pada saat mata kuliah yang saya bawakan dan juga ada beberapa mereka yang canggung saat saya panggil dan berhadapan dengan saya. Di awal awal mata kuliah yang saya bawakan saya bercerita tentang pengalaman semasa kuliah dulu dan mereka begitu tertarik jika saya bercerita dan itupun  bukan mudah bagi saya bercerita kalau selama ini saya pribadi yang tertutup, Dan saya adalah pribadi yang serius dan sangat serius untuk mencapai target.

Dipertemuan terakhir saya masuk dalam kelas mahasiswa disitu saya menyampaikan hal-hal apa yang harus mereka pelajari untuk UAS dan diakhir kata saya menyuruh mahasiswa saya untuk memberikan kritik dan saran terhadap cara mengajar saya selama ini dan rata-rata mereka banyak menyampaikan uneg-uneg terhadap saya. Maaf terkadang saya tidak menyadarinya dan saya rasanya masih banyak kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna. Ternyata benar kata pepatah menilai orang lain itu mudah tetapi menilai diri sendiri itu sulit, untuk melihat dirimu tanyakan saja kepada orang lain. Dan diakhir kata saya mengucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya dan saya juga mengundang mereka semua untuk datang pada hari raya kerumah saya bertamu. Semoga aja mereka datang.

Sebagai dosen baru yang minim pengalaman saya harusnya banyak-banyak lagi menguasai keadaan kelas, tidak terburu-buru dalam menjelaskan, memperhatikan mahasiswa yang ketinggalan, memberi contoh yang mudah dipahami,selalu memberi umpan balik serta menerapkan metode-metode pengajaran yang mudah dimengerti oleh mahasiwa. Semoga saya masih diberi kesempatan ntah dikelas mereka lagi atau dikelas lain, saya ingin mengubah cara saya mengajar, dan melakukan pendekatan lebih dalam terhadap peserta didik.

Jumat, 23 Maret 2018

Dilema Fresh Graduate

Diposting oleh Unknown di 09.30 1 komentar



Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sesungguhnya rezeki itu milik Allah tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongannya, tempat kami meminta dan berserah hanya kepada-Nya. Allahu Rabbi..
Izinkan saya membagi sebuah kisah yang saya alami sendiri semasa lulus kuliah dan mungkin sebagian dari kita juga yang masih fresh gruadate’pun juga sama mengalami yang namanya dilema pekerjaan.

Saya baru lulus kuliah waktu Desember 2017 jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer disalah satu kampus negeri yang ada dikota makassar. Setelah pindah dari dunia kampus inilah saatnya untuk saya mencari pekerjaan untuk mengaplikasikan ilmu saya ditengah masyarakat. Saya kembali ke’kampung saya meninggalkan kehidupan di kota besar yang dimana banyak sekali pengalaman dan teman-teman yang saya dapatkan disana dan bukan mudah untuk lepas dari sebuah kota yang memberikan banyak cerita dan kisah menarik, memberikan banyak ilmu, pelajaran dan pengalaman. Dan kini rindu,,, apa kabarmu ??? dan ingin lagi, dan ingin lagi jumpa (kok jadi nyanyi lagunya dilan yaa ??).

Setelah ijazahku dan berkas-berkas lainku sudah ada pada tanggal 29 januari saya lansung memasukkan 3 berkas lamaran di Poltek, SMK, dan MTS sedangkan teman yang saya temani sama-sama untuk mencari sekolah memasukkan 6 berkas lamaran ke sekolah-sekolah. Saya bertanya :

“kok banyak sekali sih?”
dia jawab “iya kan La,, kan belum tentu keterima semua.
“kalau nanti kepanggil semua gimana? Kan gak enak ”
“tinggal dipilih ajha La, kan belum tentu kita dipanggil semua”

Hari demi hari menunggu tidak sampai 1 pekan pada akhirnya teman saya dipanggil untuk mengajar di SD tempat memasukkan berkas lamarannya dulu Alhamdulillah… Sedangkan saya masih menanti panggilan tetapi tak kunjung datang hanya tinggal dirumah melakukan pekerjaan beres-beres rumah, memasak yang terkadang air mata saya menetes karna mengupas bawang dan menumbuk cabe :’( . Saya gak berhenti menghubungi teman saya itu yang sudah mengajar di SD untuk tanya perkembangan selanjutnya.

“Rat,,, memang gitu yaaa.. biasanya lama ditunggu panggilan ?”
jawabnya “Tunggulah aja La.. susah memang kalau gak ada yang dikenal didalam, biasanya berbulan-bulan ditunggu sampainya benar-benar membutuhkan guru atau tahun ajaran baru mulai, beruntung jika dapat panggilan sehari atau dua hari.

Orang tua juga turut berperan mencarikan lowongan dibeberapa kenalannya untuk dicarikan pekerjaan. Dan mungkin aku terlalu pemilih katanya seandainya kamu kerja dikantor atau jadi staff  mungkin sudah kerja sekarang dan gajinya 1,5jt biar tidak sesuai jurusan banyak juga yang seperti itu dari pada guru honor yang 3 bulan dapat 400.000. begitu katanya meskipun orang tua sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan gaji hanya berusaha mengalihkanku agar pindah haluan karna belum mendapat panggilan. Tetapi passion ku memanglah mengajar bukan berarti saya tidak bisa kerja dikantor tetapi memang pengen mengajar.

Untuk mengobati kegalauan saya cari motivasi dengar ceramahnya uztad kholid, uztad syafiq dan uztad-uztad lainnya diyoutube dan baca artikel-artikel diinternet tentang problem yang saya hadapi. Setidaknya saya dapat ilmu lalu saya amalkan. Saya mencoba merutinkan sholat dhuha dan memperbanyak istighfar setiap harinya lalu saya berbenah diri mungkin saya kurang sabar, mungkin saya pemilih tetapi apa salahnya mengajar ? bukan masalah gaji asalkan kepuasan hati yang bisa memberi manfaat kepada manusia dan sebagai amal jariyahku nantinya. Berdasarkan hadis Rasulullah

Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

"Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya" (Hadis Riwayat Muslim).

Kemudian aku dapat saran dari tante untuk coba sementara kerja dikantor dulu, nanti kalau misalnya terbuka pendaftaran guru nanti kamu bisa daftar katanya dari pada nganggur.. (hmmm…boleh juga fikirku tapi nanti dilihat). Selain itu saran lainnya perbanyak amalan sunnah mungkin saat ini hanya dhuha yang dirutinkan tetapi coba sholat tahajjud juga, hajad sama tasbih. kemudian saya turuti sarannya dan malam itu saya kepikiran dan terbangun buat sholat tetapi sholat tahajjud sama hajad ajha, kalau sholat tasbih masih terasa asing jadi gak dilaksanain hanya tahajjud sama hajad aja.

Ditengah kegalauan hamba yang lemah ini saya berdoa curhat sama Allah penuh pengharapan dengan potongan doa :

“Ya Allah sesungguhnya engkau maha tau keresahan hamba, masalah hambamu ini, apa yang hamba butuhkan, sesungguhnya hamba sangat menginginkan kebaikan yang engkau turunkan kepada hambamu ini, Ya Allah takdirkan sesuatu itu jika memang baik untukku berikanlah pekerjaan yang baik bagi hamba, yang engkau ridhoi dan dapat bermanfaat bagi manusia”

Hari-hari berikutnya saya berpikir mungkin saya harus membuat berkas lamaran lagi yang sebelumnya lamaran saya diketiga tempat tersebut belum ada panggilan, mungkin memang tempat itu tidak membutuhkan seorang pengajar fikirku. Hari ahad’nya tanggal 11 Februari saya membuat surat lamaran untuk disetor besoknya hari senin ke kantor dinas pendidikan, kominfo dan di SD, dan saya juga berencana besok ke SMK berdasarkan saran teman saya agar bertemu langsung dengan kepseknya dan menanyakan tentang lamaran saya. Hari itu takdir Allah berkata lain pada saat saya mau nulis lamaran tiba-tiba tetangga depan rumah yang merupakan dosen sekaligus PR III (Pembantu Rektor III) yang kerja di Politeknik Negeri Nnk manggil saya katanya “rezekimu memang mungkin ini kali dek, pernah malamnya saya dapat sms dari sekertaris jurusan administrasi bisnis katanya ibu haji adakah jurusan Komputer buat bantu-bantu ibu Mega ngajar ? kemudian saya lihat berkasmu ada disebelah tempat tidurku dan saya pikir “Alhamdulillah mungkin rezekinya memang ini anak".

Tak ada kata yang bisa saya ucapkan selain Alhamdulillah… yang dulunya saya gak pernah dijanjikan untuk diterima karna sudah ada dosen yang isi lalu kuasa Allah memberi rezeki kepada hambanya. Dosen yang jurusan komputer itu mau pulang kekampungnya buat menikah dan kemungkinan dia sudah tidak kembali lagi karna ikut dengan suaminya yang sudah pegawai negeri. Apalagi katanya dosen yang saya gantikan ini adalah dosen terbaik kebetulan bapakku juga kenal dengan orang tuanya. Dia termasuk dosen muda juga umurnya 3 tahun diatasku..

Alhamdulillah,,, Terucap syukurku kepada Allah yang Maha Esa karna Allah tau apa yang saya butuhkan, Pekerjaan yang selama ini saya targetkan waktu masih menjalani KKN akhirnya saya dapatkan dan ini memang salah satu cita-cita saya. Pekerjaan itu memang tidak pernah dijanjikan ke saya tapi itu adalah target saya setelah lulus. Meskipun belum jadi dosen tetap karna dosen tetap haruslah minimal bertitel S2 (doain yaa semoga nantinya jadi tetap) agar dapat gaji bulanan yang lumayan dan dapat tunjangan . meskipun saya belumlah jadi dosen tetap setidaknya saya bersyukur ilmu yang saya dapatkan dibangku perkuliahan tidak sia-sia, dan setidaknya gajinya juga cukup untuk saya sendiri.

Waktu hari kamis tanggal 15 Februari 2018 saya dipanggil ke kampus Poltek bertemu dengan ibu Lisa dan diatas meja ibu Lisa terdapat berceceran beberapa lamaran, sama dengan jurusanku tetapi beda kampus, ada yang dari malang dan jogja.dan semuanya laki-laki, saya berpikir kalau laki-laki itu jago banget ya kalau masalah komputer apalagi menyangkut teknisi atau perbaikan komputer, jagonya banget tuh,,, apalagi kalau dia tau ngoding, tau beberapa bahasa pemrograman, hebat banget menurut aku kalau dia tau , aku mah apa atuh gak terlalu mendalami yang kayak gitu . kalau beberapa bahasa pemrograman hanya dasarnya saja tapi kalau mengajar insyaa Allah saya bisa lagian kan yang aku ajarkan tidak berkaitan dengan itu semua. Saya gak melewati tes ataupun interview yang kebanyakan pencari kerja lakukan, saya lansung diberikan pilihan materi atau istilahnya SAP (Satuan Acara Perkuliahan) yang mana yang saya kuasai, kemudian saya pilih yang paling mudah yang sedari dulu sangat saya kuasai yang  akan saya ajarkan kepada mahasiswa nantinya, selanjutnya nanti dipanggil/ dihubungi kembali katanya untuk tanda tangan kesiapan mengajar. Alhamdulillah dimudahkan…

Qadarullah pada saat hari selasa  20 Februari 2018 saya masuk rumah sakit dan rawat inap, selama dirumah sakit saya menunggu untuk dapat panggilan selanjutnya, dan ternyata Allah maha tau keadaan hambanya pada hari jumat saat saya keluar dari RS saya diberitahukan kalau dosen samarinda yang duluan untuk masuk mengajar nanti kalau sudah pulang baru giliran saya. Pikirku waktu itu Alhamdulillah tak mengapa Ibu Lisa juga pernah memberitahukan kalau biasanya materinya dirolling 3 bulan untuk dosen samarinda dan 3 bulan untuk dosen lokal tetapi kadang juga tidak sampai. Selama menunggu saya lebih fokuskan untuk memulihkan kondisi saya yang baru keluar dari RS, 14 hari setelah keluar dari RS, saya masuk RS lagi dan rawat inap lagi. Allahu Rabbi :’( itu ujian buat saya dan kekurangan saya penyakit penebalan dinding rahim yang menyiksa pada saat datang menstruasi, menstruasi yang lama sampai keram yang dahsyat, sakit pinggang, dan terkadang pendarahan yang banyak yang membuat saya pucat, lemas, pusing sampai harus transfursi darah 5 kantong trakhir ini. Mungkin kalau rahimnya diangkat saya sudah sembuh total, gak ada lagi sakit-sakit kayak gitu (pikirku) tapi saya juga berpikir suatu saat saya juga ingin menikah dan punya anak dan insyaa Allah ini bisa disembuhkan.

Ditengah sakit yang saya pikirkan hanya satu “SAYA HARUS SEHAT” karna saya akan bekerja, meskipun dosen pekerjaannya santai, dan tiap hari gak masuk serta banyak liburnya , dan bisa pindahkan jadwal sesukanya, tidak sepadat guru. Tetapi saya tetaplah harus menjadi contoh yang baik, harus rajin, disiplin, saya tidak mau mahasiswa melewatkan suatu ilmu karna dosennya jarang masuk seperti yang dulu saya alami waktu jadi mahasiswa dan itu sangat merugikan sekali.

Tanggal 20 Maret saya dipanggil kembali untuk mengikuti rapat sekalian perkenalan dosen baru, dan dosen lama yang baru selesai menyelesaikan studi S2 dan S3’nya diluar kota dan diluar negeri. Disitu saya sempat canggung karna saya ini baru lulus S1 dan mungkin saya yang paling muda (pikirku) ternyata ada juga loh yang seumuran saya baru tau kalau dia juga baru lulus satu universitas lagi cuma beda fakultas, mungkin dilain waktu saya akan mencoba mengenalnya jika bertemu lagi karna waktu itu gak sempat nanya-nanya juga.

Galau itu wajar bagi fresh graduate, teman-teman seangkatan saya masih ada yang sementara mencari dan mengeluhkan susahnya untuk mencari pekerjaan, kegalauan yang saya alami juga meskipun saya cepat mendapat panggilan dan sudah dipastikan kerja tetapi masih menunggu dosen samarinda pulang. terkadang jika menelpon ataupun chat dengan teman lama hal yang ditanyakan adalah “udah kerja belum?” bukan cuma itu kalaupun saya mau mengganti KTP elektrik, memperpanjang SIM, membuat Paspor, pertanyaan yang tidak lepas dari itu semua adalah pekerjaan kan gak mungkin juga sudah kita nulis pelajar/mahasiswa sedangkan kita bukan pelajar/mahasiswa lagi. Begitupun waktu dirawat dirumah sakit ditanyain pekerjaannya apa ? yaaa… jawab saja belum/nganggur. Kan nyesek ya .. hehehe

Rupanya bukan hanya aku saja ya,,, (yeeee ada temennya) menunggu kapan masuk saya juga punya beberapa teman yang mesti menunggu tahun ajaran sampai bulan 6 baru bisa masuk mengajar, ini lebih pasti dan menjanjikan dibanding menunggu seseorang yang tidak pasti . Intinya banyak-banyak bersyukur banyak diluar sana yang selama 1th  bahkan sampai 5th nganggur. ini baru beberapa bulan kan hal biasa. Apalagi kalian masih diberi kesempatan/ waktu untuk menikmati masa ketenangan jauh dari beban akademik sebelum beban tekanan kerja menghampiri, isi waktumu juga dengan hal-hal positif, hobi misalnya, banyaklah membaca dan menggali informasi tentang lowongan kerja.

Adapun pekerjaan yang sudah kita dapatkan ini tidak lain adalah dari Allah yang memberikan rezeki kepada hambanya, adapun para pencari kerja yang masih galau hal yang wajib dilakukan adalah minta sama Allah adapun manusia hanya sebagai perantara.

Apa yang saya peroleh tentunya ini tidak lepas dari dukungan dan doa orang tua saya yang ingin melihat anak-anaknya berhasil. Ini belumlah seberapa dan tak ada yang perlu dibanggakan karna diatas langit masih ada langit setidaknya ini adalah langkah awal untuk menggapai cita-cita selanjutnya. Teruslah belajar, Ntah belajar dari pengalaman, belajar dari guru, belajar dari hal-hal yang ditemui disekitar, karna belajar adalah proses yang tidak berkesudahan. Sebagai penutut Saya kutip motto dari dosen saya

“HIDUP ADALAH BELAJAR !” pak ysgi

Dan motto saya : “HIDUP ADALAH PILIHAN ! karna engkau sendiri yang menetukan arah dan tujuan hidupmu diatas pilihanmu sendiri tetapi ingatlah kematian itu juga pasti terjadi”

Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya yang jauh dari kata sempurna ini karna kesempurnaan hanya milik Allah Subhana Wata’aala dan adapun kekurangan adalah milik saya pribadi . Semoga dapat mengambil manfaat, Semoga yang belum lulus dapat lulus meraih gelar sarjananya, semoga yang masih menganggur sebentar lagi mendapat pekerjaan, adapun yang sudah mendapat pekerjaan baru semoga betah dan mencintai pekerjaannya, adapun yang lama bekerja semoga naik jabatan, yang sakit semoga disembuhkan, yang galau dan dilema dilapangkan hatinya, yang single didekatkan jodohnya, aamiin….
Akhir kata Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Minggu, 27 Agustus 2017

Ketika Hidayah Menyapa

Diposting oleh Unknown di 04.06 0 komentar


Ketika Hidayah Menyapa
Oleh : Alya Rohalia

Angin terik menerpa wajahku, debu polusi bagai noda yang menutupi gelapnya wajah tetapi kulihat teriknya siang bersinar bagai cahaya penuntun perjalananku, mobil yang kutumpangi berhenti sejenak, dibalik kaca jendela mobil saya melihat sesosok wanita berjilbab besar dan cadar beramai-ramai berjalan kaki disudut jalan kota sambil  kuperhatikan lamat-lamat tampak ada yang aneh, “siapakah mereka?” pikirku waktu itu. Tetiba kudengar suara nenek menyahut rasa penasaranku “kalo ko kuliah dimakassar nanti, pasti bakalan banyak seperti itu ko temui, pesanku janganko ikut-ikutan seperti mereka terlalu menakutkan”. Kemudian sang supir menimpali balik pernyataan nenek “terlalu ekstreamki belah, tidak mau terlalu kenal sama laki-laki dan tidak mau’i juga jabat tangan. Obrolanpun terus berlanjut mengunkap tabir penyelewengan wanita-wanita bercadar, Aku hanya bisa diam mengangguk sambil menyimak memperhatikan nenek dan supir sambil menghibah wanita-wanita berjilbab besar dan cadar karna pada saat itu saya tidak tau apa-apa tentang wanita-wanita tersebut.

Pada saat memasuki awal kuliah saya ditawari oleh teman-teman untuk mengikuti bisnis MLM dan disisi lain saya juga sering diajak pergi kajian oleh pengurus lembaga-lembaga keislaman internal  kampus, dan disitulah saya mulai mengenal akhwat-akhwat yang berjilbab besar dan bercadar. Pada saat teman-teman yang lain menghindar mengikuti kajian-kajian justru saya ingin mengikuti berbagai kajian yang ada karna saya tau diri saya ini mudah sekali terbawah pengaruh, ketika saya dulu semasa SMA terbawah pengaruh oleh teman-teman yang kurang baik kini saatnya dimasa kuliah ini saya ingin menjadi sosok yang lebih baik , ingin menjadi anak yang shalihah untuk kedua orang tuaku, dan ingin menjadi hamba yang taat pada Allah dan Rasulnya.

Memasuki semester 2 saya mulai mengenal tarbiyah, saya dikenalkan tarbiyah oleh tutor SAINS’ku namanya Kak Innah seorang akhwat yang bercadar, disitu persepsi negatif saya tentang cadar mulai sirna, saya diam-diam menyimpan kekaguman pada sosok ayu nan cerdas yang tertutup dihadapanku, padahal mudah saja bagi ia menuai banyak pujian dikarnakan kecantikannya, keramahannhya, kelembutannya, kecerdasannya, tetapi ia lebih memilih menjadi mutiara yang tersembunyi itu. Pernah suatu hari ada adik yang lansung menyatakan kekaguman dikakak tersebut.

“kakak jujur kagumka sama kita” ungkap sang adik,
 “jangan kagum sama saya dek”
“kenapa memang kak ?”
“Karna jika kita kagum kepada seseorang, dan kemudian kita lihat kekurangannya biar sekecil  apapun niscaya kita akan kecewa” menjawab petanyaan sang adik dengan begitu tawadhunya.

Disitu saya merasa iri melihat kakak ini, bukan hanya Kak Innah tetapi kakak-kakak akhwat yang lain yang menempuh jalan hidayah, yang istiqomah memegang teguh agamanya, yang berjuang teguh dijalan-Nya meski kesukaran dan kesulitan datang saling tumpah tindih saling menempa jiwa yang rapuh, mereka lebih memilih untuk mengejar ridho-Nya dibanding ridho manusia, aku iri kepada mereka yang terasing bagai memegang bara api, yang menikmati panasnya terik dunia, yang mesra jiwa-Nya dengan Rabb’nya seolah cacian, makian, hinaan, olokan sudah biasa berlalu karna keteguhan hatinya yang senantiasa mendamba titah Rabb’nya. Jujur aku iri...

“Aku juga ingin seperti mereka” batinku berkata lirih tetapi belum mampu mengamalkan semua, kemudian aku hijrah perlahan memasuki semester 2, langkah awal saya museumkan hijab bermotif yang saya selalu padu padakan dengan tutorial yang ada dan saya museumkan juga baju-baju transparan dan menarik perhatian, dan baju-baju yang tidak menutup aurat, karna dulu saya berhijab buka tutup tanpa tau ilmunya. Inilah awal hijrahku setidaknya menutup aurat dengan sempurna dulu insya Allah jika kita niatkan dengan baik karna Allah, ketaatan-ketaatan yang lainnya akan mengikut.

Diawal hijrah saya mulai memakai gamis dan kerudung menutupi dada, berbagai sebutan tersemai dalam diri baik itu sebutan uztadzah, ibu hadjah, ibu-ibu, dll bukan hanya itu penentangan dari pihak keluarga begitu mengguncang keimanan disertai ancaman untuk meninggalkan apa yang saya yakini selama ini, tetapi saya berusaha tetap bersitegas untuk mempertahankan walau kadang rapuh dalam raga tetapi jalan ini telah membuatku jatuh cinta pada Dia yang menunjukkanku jalan kebenaran, bukan hanya ancaman iming-iming gemerlipan hadiah’pun disemai berharap imanku akan goyah dan mengikuti kata mereka tetapi sesungguhnya nikmat surga lebih indah dibanding itu semua. Biar bagaimanapun saya sangat menyayangi mereka semua, mereka seperti itu karna mereka sayang sama saya dan menginginkan kebaikan pada diri saya.

Semakin berjalannya semester semakin hari saya hijrah secara perlahan, meninggalkan sesuatu yang Allah haramkan dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan burukku tetapi yang kudapati ujian dari Allah begitu menusuk raga, mengguncang keimanan, mengundang deraian air mata, menghentakkan kesombongan jiwa dan menyadarkan kealpaan raga. Nenek yang selama ini dekat denganku yang perlahan mulai sedikit demi sedikit menerima penampilan hijrahku, yang merawatku sedari kecil, memberiku kasih sayang penuh, kini Allah telah memanggilnya kehadapan-Nya, ditambah amukan sijago merah membakar habis tempat hasil berjualan orang tuaku dan Alhamdulillah sekarang semuanya berjalan baik-baik saja, sudah beberapa tahun yang lalu berlalu berakhir dan kini semester 8 saya ditimpa sebuah penyakit miom yang mengharuskan saya untuk operasi dan Alhamdulillah saya sudah menjalani operasi tersebut. Aku tau Allah tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuan hambaNya, semakin tinggi tingkat keimanan seseorang sebesar itupun ujian yang diterima, Allah beri kita ujian untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya, Allah memberikan kita ujian karna Allah tau kita mampu,  Allah sayang sama kita, sunnguh Allah rindu mendengar rintihan hamba-Nya yang memerlukan pertolongannya. Ujian ini tidaklah seberapa dengan ujian yang dialami oleh para nabi dan Rasul sera wali-wali Allah yang lain, saya yakin setiap ujian pasti menyimpan hikmah dibaliknya kalaupun tidak sekarang kita mengetahuinya Insyaa Allah nanti, dan setiap kejadian itu akan mengajarkan kita untuk semakin mendewasa dan bijak.

Sabtu, 22 April 2017

Secercah harapanku

Diposting oleh Unknown di 21.51 0 komentar
Cerita ini dimulai dari awal aku mendapat haidh pertama yaitu kelas 3 SMP dimana saya sering curhat bersama temanku tentang permasalahan yang kuhadapi :

"Arma bagaimana di' tidak haidhka selama 2 bulan lebih . nah kamu pernah kamu alami ?

" tidak jhi saya selama ini selalu teratur, mungkin hamil biasanya begitu"

"Ih... Bisanya itu nah tidak pernahka saya pacar-pacaran, nah biasanya kalau orang hamil mual-mual , muntah-muntah padahal ini tidak"

"Siapa tau semut kasih hamil hehehe"

"Arghh... Tidak jhi deh.."

Yang aku tau dulu sewaktu remaja saya memang punya masalah haidh yang tidak teratur , bahkan jika haidh dapat mengeluarkan darah yang banyak sekali. Setiap disekolah pasti ROK yang kukenakan selalu tembus , banyak teman-teman bilang biasanya kalau seperti itu akan susah mempunyai keturunan tapi saya tidak terlalu memikirkankan karna umur yang masih terbilang sangat muda yang kupikir hanya " jika susah punya keturunan bisa adopsi anak atau menyuruh suami nikah lagi apa susahnya khan ?" (tapi itu dulu, sekarang saya sangat memimpikan suatu hari nanti punya keturunan yang shalih shalihah calon pemimpin umat yang kudidik dengan penuh cinta dan dari darah dagingku sendiri dan suami sangat sayang kepadaku tanpa pernah berniat memadu)

Waktu kelas 2 SMA saya pernah drop jatuh pinsang dilarikan ke RS pangkajenne Karna kekurangan darah yang sangat banyak. Pernah sempat di USG katanya ada sesuatu didalam rahim yang masih sangat kecil (ntah apa) yang jelas disuruh berobat rutin siapa tau Dengan minum obat yang didalam rahim bisa meletus atau tidak tumbuh besar, sebenarnya bisa dihilangkan dengan cara dikuret tapi dokter sangat menyayangkan karna umur masih terbilang sangat muda dan masih gadis.

Seiring berjalannya waktu dan tempat karna sekolah berpindah-pindah, saya juga selalu pindah-pindah dokter spesialis kandungan (soppeng, nunukan, makassar) dan setiap dokter yang kutemui bilang "tidak mengapa, biasa terjadi diusia segini, dan ini hanya gejala hormon, nanti juga bakalan berhenti sendiri asalkan rutin berobat". Saya sedikit lega mendengarnya tapi saya tidak pernah rutin berobat hanya diawal saja.

Tidak lama kemudian, beberapa tahun lamanya tdk pernah check up akhirnya drop dan pendarahan haidh yang banyak sekali dan pada saat saya mau keluar ke arah pintu kamar kos tiba-tiba kepala terbentur digagang pintu hingga pinsang
Beberapa menit pinsang tak sadarkan diri dikamar. Selepas sadar, saya hanya bisa menangis "Yaa Tuhan, kalau memang ajalku sudah dekat tak mengapa kau ambil aku sekarang". Tiba-tiba pintu kamar kos terketuk dan ternyata itu ibu kos'ku berteriak diluar :

" Lola .. Lola kamu didalam kah ? Buka pintumu dulu". Lalu dengan tertatih aku bukakan pintu

"iye pung tunggu sebentar (sambil membersihkan darah yang dilantai)"

"Kamu lola, jangan selalu tutup pintu kamarmu, nanti kalau ada apa-apamu nah tidak ditau-tau ? bapakmu barusan menelpon bilang ada itu lola dikamar nah tidak bisa mhi bergerak,
bikin kaget-kaget. Jadi bagaimana mhi perasaanmu ?"

"Tidak apa-apa jhi ini pung, berhenti sendiri jhi nanti pung"

"Mau dibawah ke RS atau dokter praktek ? Nah hujanki jg skarang atau bagaimanakah kuat jhi kalau dibonceng naik motor?"

"Jangan mhi pung nanti phi besok saya ke RS sama temanku, mau jha ini pung minta tolong dibelikan pembalut sama obat diapotek"

"Oh iya sini mhi, nanti saya minta tolong Sama anak disini"

Setelah obatnya sudah, saya minum Dan saya rasa perut saya seperti ditinju-tinju Dan esok harinya haidh berhenti kembali.

***
2 hari kemudian haidh saya kembali lagi Karna berhenti mengkonsumsi obat itu Dan pendarahan yang begitu hebatnya hingga saya serasa tak kuat lagi, sehingga saya dilarikan ke Rumah sakit awall bross makassar, karna kondisi tidak memungkinkan akhirnya diopname dan transfursi darah 4 kantong karna HB begitu rendah.

Setelah hasil USG keluar, ternyata penyebabnya sudah ditemukan yaitu Ada miom didalam dinding rahim sebelah kanan 4x5 cm dan harus diangkat Kata dokternya "nanti kalau sudah tidak haidh lagi Dan kondisi fisik sudah bagus, Baru kita bisa angkat dan terserah kapan siapnya"

"Tidak apa-apakah itu dok kalau sudah wisuda baru diangkat itu penyakitnya Karna maumi INI dok target selesai bulan-bulan 8?" Tanya bapakku.

"Oh tidak apa-apa yang penting rajin kontrol tiap bulan, tapi saya hanya bisa kasih obat pengatur hormon agar teratur siklus haidnya, Karna kalau tidak diangkat ini miomnya akan begini terus secara berulang haidhnya tidak teratur dan banyak darah keluar"

"Tidak berpengaruh dok sama kandungannya ?"

Tidak, yakin saja.

(Kemudian dokter natalie berlalu)

"Ingat nah sayang, diangkat kalau mau cepat sembuh tidak dikasih nanti cucu bapakta"

"Hehehe iya dok"

Setelah beberapa lama rajin check up ke dokter akhirnya obatnya habis juga dan pada saat obatnya habis terjadi pendarahan lagi, karna sudah panik ,keluarga akhirnya malam-malam dibawah kedokter praktek RSIA amanat dan dokternya juga bilang hal yang sama "sebaiknya diangkat"

Awalnya saya sangat takut dengan operasi, selain minum obat dokter saya juga minum ramuan herbal air rebusan daun sirsak dan kunyit putih tetapi untuk ramuan herbal khasiatnya memang butuh waktu lama dan tidak secepat operasi , sementara keluarga tidak tega melihat saya kesakitan terus menerus akhirnya saya berubah pikiran mau segera dioperasi saya jadi teringat kata-kata keluarga :

"Itu rahim sudah seperti jantungnya wanita, kasihanilah calon suamimu kelak jika tidak bisa memberikan keturunan karna rahim disitulah ada kehidupan" quote kak tiar

"Ndag usah pikir apa-apa, fokus saja sama penyakitmu, kalaupun harus diangkat tidak apa-apa, jangan pikirkan biaya, karna jangan sampai dibuangko sama suamimu nanti kalau tidak ada keturunanmu, biar bagaimanapun banyaknya uangmu. Kata bapakku.

"Jangan mhi khawatir nak, banyak jhi juga keluarga dan orang yang punya penyakit seperti itu nah bisa jhi melahirkan , banyak tonji anaknya" kata pung bonga

"Kamu tau itu ussy yg artis ? Istrinya andhika ? Sama penyakitmu itu nah 3 mhi anaknya". kata kk tina

banyak keluarga memberi dorongan semangat untuk sembuh, sambil menggepalkan tangan menunjukkan semangat persatuan 45 saya serasa berada dizaman penjajahan indonesia dimana tubuhku dijajah penyakit antara memilih berjuang atau memilih untuk gugur atau mundur..

satu hal yang selalu kusyukuri dalam hidup ini tinggal ditengah-tengah keluarga yang begitu baik dan peduli dan dari mereka saya belajar untuk membuka diri karna selama ini mungkin saya tertutup .

Setelah operasi saya mendapat pelajaran yang begitu sangat berharga meskipun pada awalnya sempat kusesali "Ya Allah, rasanya sakit sekali, saya seperti orang melahirkan yang dioperasi caesar , ini yang kutanggung diusiaku yang masih sangat muda 21 thn, kasihanilah aku, ini terlalu berat"

Tiap hari adalah waktu dimana untuk muhasabah diri, dosa apa yang kulakukan sedang aku selalu menjalankan perintahNya? Menjaga diriku dari apa yang Dia haramkan. Aku kembali Flash back ke masa sekarang dan kemasa lalu saya tidak bisa menyalakan takdir, aku tau Allah memberi cobaan karna Allah sayang sama saya, Allah tau kalau saya orang yang baik dan ingin menyadarkanku lebih awal supaya tidak dicoba dengan penyakit yang lebih parah lagi. mungkin saja saya pernah menyakiti hati kedua orang tua dan membuatnya menangis (dan kuakui memang pernah) , mungkin saja dulu saya suka berbohong, mungkin saja dulu saya menolak banyak cinta laki-laki sehingga membuat salah satu mereka sakit hati dan membuat saya menderita sakit seperti ini, atau mungkin saja dulu saya pernah bersikap sombong dan angkuh sehingga ada yang menyumpahi, Tapi biar bagaimanapun saya tetap positif thinking ini adalah ujian dari Allah yang pasti ada hikmah dibaliknya, mungkin saja dengan ujian ini membuat saya tersadar atas kesalahan-kesalahan yang saya buat, dan saya kini mulai menyadari bahwa memang saya adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan.

Ternyata keluarga adalah segalanya, sesuatu yang harus dijaga silaturahminya kalau saya tidak sakit mana mungkin saya tinggal dirumah keluarga ? Keluarga adalah orang yang pertama peduli, dan turut bersedih. Sehingga saya menemukan secercah harapan untuk terus bangkit kembali dan semangat untuk cepat sembuh

Keluarga yg mengatur makanan bergizi, keluarga yang turut membantu jika ada keperluan, keluarga adalah segalanya.

Sekarang, Saya mulai sedikit memahami dan mencoba menerima bahwa antara adat, budaya dan agama memang tidak bisa dipisahkan dalam hidup ini, perlahan-lahan saya mencoba membuka diri untuk lingkungan yang baru.

Saya juga bersyukur judul skripsi saya yang di ACC "sistem pakar panduan untuk ibu selama proses kehamilan" sesuai dengan saya, dirumah sakit yang saya teliti tempatku dioperasi, saya juga baru tau dokternya punya hubungan keluarga dan pemilik rumah sakit baru tersebut yang saya syukuri biaya selama perawatan dikasih diskon . Bukan hanya dokternya, saya juga bersukur bisa mengenal perawat-perawat yang seperti bidadari . Alhamdulillah alhamdulillah... semoga pengerjaan skripsi saya dipermudah oleh Allah dan bisa bermanfaat bagi pasien ibu-ibu hamil dan rumah sakit tersebut.

Satu pesan yang saya dapatkan dari mamaku "cepat sembuh, cepat selesai ,sehingga bisa berkumpul lagi bersama disini" aamiin ya Allah dan semoga juga cepat dapat jodohnya.

Dan pada saat tulisan ini ditulis saya masih mencoba menyusun skripsi dan masih dalam tahap pemulihan setelah operasi. Tidak sabar rasanya ingin sembuh dan berkumpul kembali bersama teman-teman dan ingin rasanya membuka diri kedalam jalinan pertemanan lebih luas lagi tanpa terlalu kaku membawa diri.

Kamis, 02 Februari 2017

Guru idaman

Diposting oleh Unknown di 08.53 0 komentar


Guru-guru di SMKN 1 Majene sangat welcome dengan kami anak-anak KKN , kami disambut bagaikan tamu kehormatan yang begitu penting, saya tidak akan lupa hari itu begitu juga masyarakatnya begitu ramah dengan kami. Ada satu guru yang sampai sekarang membuat saya penasaran,  saya  masih belum tau sosok wajah dibalik cadar itu ... dia adalah ibu Rahmania, dia itu guru yang sangat disukai oleh siswa-siswanya,  dengar-dengar dia adalah pembina PMR dulu tapi sekarang berhenti (ntah karna apa) dan PMR di SMKN 1 Majene statusnya tidak aktif,  ibu Rahmania sering mengobrol dengan saya yaaa... karna kami satu manhaj yaitu “Manhaj Salaf” ibu Rahmania pernah bilang kalau dia itu dulu dan suaminya adalah wahdah islamiyah tapi sekarang hijrah ke salafi dan pemaahamannya tidak beda jauh dengan wahdah , biar bagaimanapun dia masih tetap mendukung dakwah yang disampaikan oleh wahdah islamiyah. Dalam diri saya berharap semoga suatu saat kelak saya bisa hijrah ke salafi, saya mau merasakan bagaimana rasanya, sepertinya bagus.
Saya selalu dipanggil untuk jalan-jalan kerumahnya, tapi saya selalu tidak sempat, saya pernah ditraktir, ibu Rahmania itu  begitu baik dan ramah, bahkan dia yang menyarankan saya untuk mengisi kajian jumatnya adek-adek tapi terlebih dahulu melakukan observasi dimushollah dan memberi tau ibu Kurnia (guru agama) dan ibu Muli yang rutin mengisi kamat disana . Tidak pakai pikir panjang saya lansung  senang, bagaimana tidak ? ini bisa jadi  ladang dakwah sekaligus amal jariyah untuk saya, dan setelah itu saya lansung memberi tahukan info ini kepada ukhti husni (saudari seimanku).

Begitupun saya mengenal ibu Muli yang begitu baik, pernah saya berpapasan di alfamidi, lansung saya dikasi 2 roti bungkusan untuk pulang. Ibu Muli itu orang yang baik banget, tapi saya heran mengapa siswa-siswa menyebutnya guru killer ? dan teman-teman posko semuanya takut berhadapan sama ibu Muli katanya teman-teman pernah ditegur gara-gara cara pakaiaanya yang begitu “wauuw” (khusus cewek) , sama proker-proker yang diadakan teman-teman tidak syar’i . tapi ibu Muli itu baik dan ramah kok yang saya sukai dari ibu Muli cara menyampaikan dakwahnya itu terkesan lucu dan gaul membuat kami tertawa. ibu Muli juga menyarankan kami untuk mengisi adek-adek setiap jumat, ibu Muli itu sosok guru yang cerdas selain cerdas ibu Muli juga pintar vokal.

(pada saat hari jumat)
(lansung lihat daftar materi kamat yang tertempel ditembok)
“ukhti... terlalu umum’ki  materinya, kebanyakan tentang fiqih ,  kurasa bisa jhi’qi bergantian mengisi kalau materi seperti ini, kan umum jhi meskipun kita berbeda pemahaman kurasa kalau materi seperti ini tidak menimbulkan persoalan)

(ibu Kurnia lansung datang)
Ibu Kurnia           : Silahkan pilih materinya yang mau dibawakan .
Alya & husni       : lansung senyum-senyum J belum ada persiapan.
Alya                       : ukhtii... bagaimana mhi ini belum phi ini ada ini persiapanta , kita mho pale duluan yang mengisi nah.
Husni                     : aihhh... belakangan phi itu , baruki ini mau observasi, dan nanti kita tanyaki ibu. Yang penting masuk meki dulu.
Alya                       : Oke...


(tampak ibu Kurnia sedang mengisi tahzin)
.......
Ibu Kurnia           : (sementara menjelaskan hukum-hukum bacaaan dalam surah al-baqarah)
Alya                       : (bisik-bisik) ukhti... kalau tahzin kayaknya bisa jhi deh saya , sebelumku KKN sdh mmg dites ikhtibar halaqoh . Atau begini saja saya mengisi tahzin , kita yang mengisi kajiannya . bagaimana , adil toh ?
Husni                     : (bisik-bisik) tanyaki dulu ibu nah...
Ibu Muli               : Assalamu Alaikum... (memasuki mushollah)
Serentak              : Waalaikum Salam
Ibu Kurnia           : (selesai mengisi tahzin) ..... mungkin cukup sekian apa yang saya  bawahkan hari ini dan kepada mahasiswa KKN ada yang ingin disampaikan ?
Husni                     : begini ibu, kami disini , hari ini masih sementara mau melakukan observasi, kebetulan kami juga masih mau belajar sama ibu sebelum kami terjun lansung mengisi adik-adik, mungkin ibu bisa mengajari  kami sebelum kami mengisi adik-adik.
Alya                       : (bisik-bisik ditelinga husni) ukhti,,, ndag ada kayaknya waktunya ibu untuk itu, atau begini saja sesuai kesepakatan tadi yang kubilang, saya tanya mhi ibu nah....”
Alya                       : maaf bu sebelumnya, sebenarnya kami tau beberapa , tapi Cuma perlu bimbingan/didampingi oleh ibu. Saya mau menawarkan diri mengajar tahzinnya adek-adek, sedangkan husni mengisi kajian jumat adek-adek. Kalau ibu berkenan.
Ibu Muli               : iyaa kan mhi saja ibu Kurnia, cocokmi juga itu..,, supaya bisa juga  ibu Kurnia untuk sementara waku istirahat dan mengurus anak sama suaminya.
Ibu Kurnia           : tahzin hanya 2x dalam sebulan. Setiap jumat itu selang seling antara kajian umum dan  tahzin, misalnya pekan ini tahzin, kemudian pekan depan itu kajian umum jadi kalian bisa saling ganti-gantian. Adapun ibu Muli juga sering mengisi kajian khusus setelah selesai tahzin.
Alya                       : jadi , sampai jam berapa selesai bu kalau tahzin ?
Ibu Kurnia           : sampai selesai tidak ditentukan jam’nya bisa mulai jam 11;30 jam pulangnya anak-anak  dan selesai sampai jam 13.00.

Dan semenjak saat itu saya dan husni mengisi, banyak siswa berbondong-bondong datang bahkakan menunggu kami kalau sebelumnya hanya 4-5 orang saat ini mencapai hampir 20 orang berbagai jurusan (tidak terlalu banyak sih tapi lumayan bertambah) . Saya tidak tau apa penyebab datangnya , ntah karna diwajibkan dan takut sama ibu Muli (ibu Muli adalah wali kelas) atau  memang hidayah telah menggerakkannya atau sebab lain pengen kenal-kenal sama kakak yang mengisi. Tapi apapun itu wajib disyukuri. Alhamdulillah... mereka adalah adik-adik yang terpilih oleh Allah untuk ditunjuki kebaikan.




Perbedaan hijabers dan hijrahbers

Diposting oleh Unknown di 07.03 0 komentar
Sampai sekarang saya masih heran teman-teman poskoku semasa KKN sampai sekarang masih memanggil saya dengan husni sebutan hijabers, Setiap kali bertemu / berpapasan lansung sapa atau teriak  “HIJABERS !!!!” . Hmmm... apakah mereka tidak tau ya ??? atau mereka tau atau salah sebut kata ??? yoweslah... tidak perlu terlalu dipermasalahkan mungkin hanya salah sebut.


Hijabers dan hijrahbers jelas berbeda, hijabers yaitu orang yang berjilbab modis, bergaya ,  penuh pernak-pernik yang mencolok, dan warna-warna nge-Jreng.. Jreng.. Jreng... sedangkan  Hijrahbers yaitu orang yang masih belajar memperbaiki diri , orang yang hijrah meninggalkan kemaksiatan menuju kebaikan, meninggalkan kegelapan menuju cahaya, orang-orang yang benar-benar mau merubah diri dan penampilannya secara syar’i. Nah teman-teman , sudah taukan perbedaannya ???

kakak andalangku

Diposting oleh Unknown di 06.50 0 komentar
Selamat malam sahabat blog...
maaf sudah lama tidak posting akibat banyak sekali kesibukan akhir-akhir ini, 
ini adalah percakapan waktu tanggal 28/12/2016 Percakapan malam itu berkaitan tentang jodoh dan baru sempat diposting.

“kak cum...  pasti kriteria laki-laki idamanta itu yang pertama beriman, kedua itu pasti berpendidikan, dan yang ketiga itu pasti berasal dari keluarga baik-baik”. Kataku
“sotta lagi alya, tidak jhi juga deh... berpendidikan yang bagaimana ?” kata kak cum.
“berpendidikan maksudku pasti mempunyai sifat  kepemimpinan yang baik.” jawabku.
“tidak jhi juga saya alya, itu kriteria yang kamu sebutkan tadi adalah kriteria standar wanita zaman sekarang, kalau saya biar tidak berpendidikan asalkan dia mau bekerja keras dan mau berusaha. Karna saya itu alya paling ilfill lihat cowok yang apa-apa semuanya disebutkan kebaikannya misalnya begini “baikka saya nah, sholat tahajjudka tadi malam, tadi toh pergika donor darah bla bla bla...”.itu yang tidak kusuka saya dari cowok alya mending itu yang diam-diam tapi kelihatan sendiri jhi itu nantinya...”. kata kak sumi
“ohhhh iya di kak seperti pengibaratan pucuk es dikutub utara yang kelihatan pucuk-pucuknya saja tapi dibagian dalamnya terdapat bagian raksasa.” Kataku
“iya seperti itulah alya” kata kak cum.


*Beberapa detik kemudian
“alya tidak sengajaka ketemuka tadi dengan orang yang bisa membaca garis tangan , katanya toh ini tangan kiriku bagus sekali katanya dan bisa untuk simpan uang , tapi pada saat dibaca garis jodohku katanya masih jauh, memang nah alya pernahka juga dulu ketemu sama bapak-bapak yang bisa baca garis tangan dan sama jhi itu na’bilang “jodohmu masih belum kelihatan nak, tapi meskipun begitu alya saya merasa toh kalau dalam waktu dekat-dekat ini bakalan baguski karierku , bakalan terus melonjak naik tapi kalau masalah jodoh belum ada kelihatan,”kata kak cum.
“kalau itu dirasa kak berarti itu mhi nanti yang terjadi karna Allah itu sesuai dengan persangkaan hambanya dan bakalan itu mhi, dan kalau bisa saya bacaki , kita itu orangnya kak kalau masalah percintaan dan pernikahan tidak terlalu pusing dan diurutkan kenomor sekian dan urutan pertama itu adalah prioritasta pasti  karier meskipun tidak dinafikkan ada seseorang didalam hati dan itu yang ditunggu-tunggu belum phi juga datang-datang,” Kataku kepada kak cum.
“alya... alya kuingat’i sedding kata-katanya kak irma bilang “itu sumi mau sekali mhi bde menikah tapi belum phi dilamar-lamar, hehehe kalau kuingat jatuh sedding harga diri tapi lucu toh seandainya na tau teman kos’ku itu pasti dibully’ka lagi bilang “mentong kau cum... tidak laku-lakuko,” dan lihatmi alya kalau salah tangkapki anak-anak disebelah,”. Kata kak cum.
“begitulah kak , salah tangkapki dan biasa terjadi”
“yakinka ini alya kalau masalah jodoh pasti orang terdekatnya jhi na’temani menikah” . kata kak cum kepadaku.
(sontak)
“Ahhh kak janganki sotta belah, dari mana bisa ditau , padahal saya sendiri tidak tau?,” tanyaku.
Dari tingkahmu saja bisa ditau, pasti ada mhi na simpan-simpankan ko itu bapakmu,”kata kak cum.
Kalaupun misalnya ada dan itu bukan pilihanku sendiri bagaimana ?,” jawabku
Yakinka bakalan menurut jhi’ko itu apa-apa yang dibilang sama orang tuamu,” Kata kak cum.
“Iyakah ?,” kataku.
“alya toh berpikir lagi, aminkan mhi saja karna siapa tau ikhwan dari soppeng atau ikhwan dari nunukan ,?. (kata husni)
“hmmm husni toh siapa tau bukan,”kataku.
“kenapaikah alya ? kalau kulihat-lihat memendam perasaan sekali sama seseorang ?,”kata kak cum.
“masa weh kak ? dari mana lagi ditau ? pintar meramal ? ,” kataku.
“bukan masalah pintar meramal, kan kalau meramal itu dalam islam sama saja dengan syirik dan tidak akan diterima sholatta 40 hari 40 malam, tapi ada yang saya tau dari ilmu psikologi kalau kulihat itu bagian bawah mata’ta mengkerutki naik keatas seperti ini (sambil memperagakan) berarti ada itu  dipendam.”kata kak cum.
“terus bagaimana bisa kita tau kalau orang terdekatku jhi nanti kutemani menikah ?,” kataku.
“kalau kulihatki kita terlalu kaku’ki sama orang baru berarti nanti tidak jauh jhi itu jodohta palingan orang-orang terdekatta jhi,” kata kak cum.
“ohh... masa weh kak ?,”tanyaku.
“Allahu’ WA’lam terserah mau percaya atau tidak kan saya bukan tuhan yang bisa dipercaya seutuhnya,”kata kak cum.

Ada hal yang membuat saya kagum dengan sosok kak sumi walaupun orangnya cenderung keras, tapi dia berhati keibuan dan banyak hal yang bisa pelajari dari dia yaitu ilmu dan pengalaman, saya belajar sedikit mengenai proposal dan persuratan, ilmu psikologi, bisnis dan keuangan, karya seni, dan petikan-petikan ilmu kehidupan lainnya dari dia, bahkan belajar ilmu agama dari perkataan dia meskipun bukanlah orang yang taat insyaa Allah dia adalah orang yang hanif (baik) . Husni selalu berkata “cocokki alya ketemu sama kak cum, karna alya itu banyak bertanya sedangkan kak cum banyak menjawab”.

“Iyakah alya banyak sekali pertanyaannya terkadang harus dijelaskan sampai keakar-akarnya, selesai satu masih ada lanjutannya terus bagaimana tidak buat kesal ?,” kata kak cum.

 Saya, husni , dan kak sumi satu kamar dan kak sumi selalu curhat sama kita, dan yang bikin aku kagum sama sosoknya adalah dia tidak pernah pacaran kak sumi selalu berkata ;

“buat apa pacaran kalau hanya jadi main-mainan cowok ? yakinka kalau misalnya sebelum pernikahan sudah banyak mantan , apa disisakan untuk suamita nanti ? dan coba bandingkan sama orang yang tidak pernah pacaran dalam hidupnya kalau misalnya ditanya “berapa orang pernah pacaran sama kamu dulu ?,” dan kalau dijawab “tidak ada dan tidak pernahka pacaran,” yakinka akan dihargai sekaliki sama laki-laki. Dan itu jhi saya kupegang prinsipku dari dulu, saya tidak mau dimain-maini sebelum menikah laki-laki cari wanita yang cantik untuk dipacari tapi pada saat mau menikah dia pasti cari yang sholehah, dan saya bukanlah pantas untuk dipacari tapi pantasnya untuk dinikahi.” ~ kak cum.




Rabu, 17 Agustus 2016

Lomba makan kerupuk

Diposting oleh Unknown di 17.06 1 komentar

Tadi saling kirim mengirim photo tentang 17-san dan gak sengaja ambil photo ini dari hp teman kebetulan dia juga asal jeprat jepret eh ternyata ada juga saya disini.

Photo ini punya cerita tersendiri, itu adalah saya yang mukanya saya tutupin love biru (sengaja) dan yang di lingkaran putih itu adalah ibu dan anak (saya tidak tau apakah ibu dan anak sedarah/ kandung atau layaknya ibu-ibu zaman sekarang yang panggil anak ke siapa saja)

Ceritanya begini :

Pada saat perlombaan dimulai, ibu itu berkata kepadaku "adek.. Coba lihat berdarahki gusinya ini anak akibat mengunyah kerupuk". Kemudian saya jawab : "iye ibu berdarah, jadi bagaimana apa ndag apa-apa ?" (sambil memegang pundak anak tersebut untuk menginstruksikan berhenti )

Kemudian ibu itu berkata  kepada anak ini : "ayo nak ndag apa-apa berdarah lanjutkan saja makan kerupuknya meskipun berdarah-darah namanya juga perjuangan. Ayoo.. Nak ... Dan anak tersebut tetap melanjutkan makan kerupuk sampai perlombaan selesai, meskipun saya ndag tega melihat giginya berdarah-darah tapi anak tersebut begitu sangat gigih sampai akhir perlombaan anak itu mendapat juara pertama. alhamdulillah ...yeeee menang *tepuk tangan meriahpun disemai.

Seharusnya kita harus belajar dari ibu dan anak ini, hari ini mereka mengajarkan saya tentang perjuangan bahwa untuk mencapai kemenangan yang sesungguhnya bukan berhenti lalu menyerah, meskipun tertatih-tatih peluh hingga berdarah-darah tapi kelak kemenangan itu akan kita tuai sepanjang kita tak pernah berhenti berjuang. Perjuangan itu akan terasa indah bagi orang-orang yang memahami.

#harikemerdekaan #17agustus #jayalahindonesiaku #anakbangsa #lombamakankerupuk #perjuangan


Senin, 15 Agustus 2016

Teman hijrah

Diposting oleh Unknown di 06.59 1 komentar



Malam ini tempat ternyaman adalah kasur setelah seharian bekerja dikantor untuk praktek industri menguras energi , disertai hembusan kipas angin membuatku ingin tidur sejenak tiba-tiba ada bunyi dari pintu kamarku membuyarkan istirahatku.

"Assalamu Alaikum", ucap seseorang yang berada dibalik pintu kamarku.

"Waalaikum salam", jawabku, sambil berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar.

"Boleh masuk ?" ucapnya disertai senyum.

"Oh salwa..Iyaa... Boleh, silahkan", sambil mempersilahkannya masuk.

"Tujuanku kesini langsung saja ada sesuatu yang ingin kusampaikan," katanya kepadaku.

"Apa itu salwa ?", kataku kepada salwa yang saat ini dihadapanku disertai dengan rasa hati yang bercampur aduk dan was-was dan menerka-nerka.

***
pikirku dalam hati
Jangan-jangan mengenai wajan yang itu hari kupakai dan belum kucuci tempo hari? Atau saya jarang membersihkan dihari minggu ? Atau mengenai kompor minyak tanah yang didapur ? Padahal sudah saya isi minyak tanah. Atau masalah jemuran yang full, kan saya tidak mencuci, pakaian saya ada di laundry sekarang. Atau apa yaa.... ???
***

"Hmmm begini atau kusampaikan mhi sekarang," kata salwa.

"Iya .." jawabku.

"Begini, kan saya rencana mau pindah kamar tapi saya cari orang yang mau bimbing saya untuk hijrah." katanya.

"Kenapa dikamar sebelumnya ?," kataku.

"Sebenarnya di kamar sana merasa tidak kuatka dan ada-ada saja godaannya, dan selalu ribut serta selalu putar musik dan saya sudah bertekad sekarang untuk hijrah dan carika lingkungan yang bisa membimbing," katanya kepadaku.

"Pernah ditawari akhwat untuk tinggal dipondokan ?," kataku.

"Tidak ,". Sambil menggelengkan kepala Jawabnya.

mungkin dia belum jadi pengurus terus kucoba untuk bertanya lagi "tarbiyahnya sudah berapa lama ?".

"Baru-baru ini juga sih, perlahan-lahan mau mencoba untuk hijrah sedikit demi sedikit mau mencoba jilbab yang besar," jawabnya.

"Oh ... Pantesan saya lihat perubahannya salwa sudah agak menutupi dada kerudungnya dan udah agak tebal, terus yang ajak tarbiyah siapa ?". Tanyaku kepadanya.

"banyak akhwat disana , salah satunya kita tau pasti vera temanku ? Dia yang ajakka juga," jawabnya.

"Oh tau... Vera yang dari soppeng itu toh ? Temannya marina juga ? Seringka ketemu." kataku.

"Iya itu... Dia yang tanyaka supaya ada juga akhwat kutemani sama-sama kos biar mencegah futur karna setiap hari rasanya itu selalu musik-musik didengar di telinga." katanya.

"Yakin mau pindah kos ? Disini juga selalu kedengaran musik, apalagi yang disebelah sini samping kiri kanan kadang juga putar musik,"

"Itu mhi juga kupikir tapi bisa jhiqi kita bertahan toh ? Dalam hatiku toh berkata "lamanya mhi, sanggupnya Lola bertahan dengan keadaan seperti ini, kalau misalnya Lola bisa kenapa saya tidak bisa ?." katanya.

***
Dalam hatiku berkata, mana sanggup juga aku bertahan, tapi kucoba bertahan demi almarhumah nenek disana yang selalu melarangku pindah kos karna kebetulan ini juga rumah ada hubungan keluarga dengan ibu kos . dan orang tuaku juga selalu larang-larang pindah .
***

"Oke pale,,, kalau mauki pindah, kapan rencanata mau pindah dikamarku ?," tanyaku kepadanya.

"Nanti kalau sudah mulai orang pembayaran kos baru saya pindah disini," jawabnya.

"Oke pale," jawabku.

"Yeee akhirnya ada kutemani, (sambil menutup mulutnya, sesekali memegang kedua pipinya dengan ekspresi penuh kegirangan) .makasih nah lola," ucapnya kepadaku dan berlalu pergi.

"Iya sama2," jawabku.

Satu hal yang saya tidak bisa untuk berkata "tidak" meskipun saya sudah terbiasa untuk hidup sendiri dikamar ini selama 3 tahun tapi untuk masalah ini saya tidak bisa berkata "tidak" karna niatnya itu baik dia mau hijrah.

Semua manusia pasti ada niat untuk berubah menjadi lebih baik, setiap dari mereka pernah melakukan kesalahan dan bahkan tak sedikit dari mereka yang merasa menyesal dan berharap kesalahan itu tidak akan terulang lagi. Dan aku, sama seperti mereka yang pernah melakukan sebuah kesalahan, tidak! bukan hanya sebuah, namun banyak sekali kesalahan yang pernah aku lakukan sebelum hijrah. Lantas, apa alasanku untuk tidak membantunya ?

Hijrah....

5 kata itu juga yang mengubah hidupku dan sampai sekarang juga saya masih menjalani prosesnya, hidayah bisa menyapa kapan saja kepada pemilik hati yang Allah kehendaki kebaikan, mau itu cepat ataukah lambat apabila hati sudah dikehendaki Allah dengan kebaikan maka wajib bagi kita untuk "sa'mina wa'atona" meskipun terkadang futur melanda diri, dengan adanya teman hijrah bisa saling menguatkan dan menasehati agar tetap berjalan bersama dijalan-Nya. Tak peduli siapa duluan karna hijrah bukanlah lomba cepat-cepatan melainkan saling merangkul berpegangan tangan dan sama-sama berjalan ataupun berlari menuju-Nya. Dan ketika salah satunya terjatuh, ada yang bisa mengajaknya berdiri untuk bangkit kembali.

Untuk terakhir saya kutip sebuah hadis qudsi :

"Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Apabila hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal,maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sehasta,maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dgn berjalan,maka aku akan datang kepadanya dgn berlari" (Hadits qudsi riwayat Bukhari dr Anas)

#Melangkah Menuju-Nya.


Selasa, 28 Juni 2016

Nikah muda ?

Diposting oleh Unknown di 20.43 0 komentar

.......
Sambil mengutak atik laptop tiba-tiba saya menimpa sebuah pertanyaan.

"Kenapa yaaa kalau anak-anak uztads atau ulama-ulama dinikahkan pada saat usia muda ? Bahkan ada yang sedari SMP udah menikah ? Seperti itu waktuta pergi acara seminar tahfidz Alquran yg pematerinya 3 bersaudara yg sdh menikah semua ?," tanyaku kepada Khadijah.

"Iyaa... Kenapa kira2 itu di ?," melemparkan pertanyaan balik.

"Iya karna orang tuanya sudah paham , bukankah sudah dicontohkan oleh aisyah putri abu bakar yang saat menikah masih berumur 9 tahun ? Dan juga dicontohkan oleh Fatimah az-zahra dan Ali Bin Abi Thalib Dan menikah juga itu lebih berpahala  dari pada anak-anak terjerumus dalam dosa pacaran mending dinikahkan cepat2 agar supaya ada yang jaga dan tidak diganggu,"menjawab pertanyaanya.

"tapi bukanki kita kwodong anak uztads , kalau orang tua'ta mungkin bilang "selesaikanmi dulu kuliahmu". Kata Khadijah.

"Bah iya  sama jhiqi Khadijah," kataku.

***
Tiba-tiba teringat dengan percakapan telpon waktu lalu dengan orang tua , ntah apa yang ada menjurus dikepalaku tanpa pikir panjang langsung meleset sebuah perkataan :
A : pa.. Aku mau menikah
C : mauko menikah dengan siapa ?
A : tidak tau , tidak ada calonnya. Makanya carikan.
C : kenapa na plin plan sekali. ? Mau menisatunyau kuliah ?
A : mauka ke dua-duanya kalau bisa. Menikah sambil kuliah.
C : itu tujuan orang kuliah utk apa ? Untuk dapat kerja toh ?
A : yaa itu salah satunya tapi tdk apa-apa menikah juga nah kayak seniorku ada yang menikah waktu semester 5 dan sambil kuliah juga.
B : mauko jhe menikah sama siapa ? Itukah yg dulu mu kasih tau mamamu ?
A : bukan dan tdk ada ini calonnya makanya carikanka.
C : phuaa... Kuliah meko dulu . sudahmi
A : iyaa pale...

....... .

"Ukhti... Sebenarnya saya ada mhi calon dari orang tuaku" kata ukhti Khadijah kepada saya membuyarkan lamunanku seketika.

"Kayak gimana itu ukhti ? Orang paham2 jhi jg ?", yang aku kepadanya.

"Tidak sih iyaaa... Bukan dari kalangan ikhwan," katanya kepadaku.

"Tapi kita pasti mauqi cari yang sepaham toh sama-sama wahdah ?," kataku kepada Khadijah.

"Kalau bisa sih iya tapi itu tidak kupermasalahkan mau ikhwan ataupun bukan, pernah juga bilang mamaku itu hari "sembarang jhi kamu mauko kuliah atau kerja" karna dewasa meki juga toh ? Dan tdk terlalu kutanggapi jhi juga itu masalah perjodohan kan keputusan ada ditanganku,"kata Khadijah kepadaku.

"Bah iya ukhti bisa jhi juga kayaknya yang bukan ikhwan karna siapa tau dapat hidayah melalui perantara'ta juga , tapi terkadang ada juga cerita kudengar kalau dia tidak mengikut di kita , kita yang bakal mengikut di dia. Kita yang  mewarnai atau terwarnai ? Pilih-pilih meki." kataku kepadanya.

"Tidak menikah-menikah meki itu sampai tua kalau banyak pilih2 , intinya yang bagus akhlaqnya saya kucari, "katanya kepadaku.

"Bah iya.. Sama jhi,"ucapku.


Jumat, 17 Juni 2016

Cita-Cita Ukhtiku Menghapal 30 Juz

Diposting oleh Unknown di 08.53 0 komentar





.....
Disela sela obrolan pada saat menunggu di ruang BAaK lantai 2 phinisi untuk pengurusan password yang terlupa, kemudian saya pun melanjutkan percakapan yang tadi "ukhti tadi kita bilang ada sekelasta dari soppeng yang juga seorang ikhwan ? Bagaimana itu orangnya ukhti ?'',kataku sambil menatap wajah ukhtiku setengah penasaran.

"Sebenarnya bukan orang soppeng sih ukh tapi orang wajo," katanya

"Oh wajo hampir jhi dekat-dekat dengan soppeng," ucapku.

jangan mi itu ukh ada uztad hafizh 30 juz dari madinah", ucapnya dengan senyum menggelitik.

''Ohhh. . kutahu mhi ukh pasti itu targetta toh ?" ucapku dengan senyum menggodanya.

"Ah... Tidak jhi saya ukh , tidak berharap jha yang hafizh 30 juz kalau diriku sendiri belum hapal 30 juz", kata ukhtiku sambil menunduk namun disertai dengan ketawa-ketawa kecil dipipinya.

"Sama jhi qi ukhti , saya juga tidak berharap yang hafizh 30 juz karna kapasitasku ndag cukup. Asalkan adalah beberapa hapalannya," Kataku.

"Iya ukhti saya juga asalkan sholeh jhi dan baik agama dan akhlaqnya," katanya kepadaku.

"Iya jelasmi itu ukhti, Hmmm... Ngomong2 ukhti itu uztadnya yang hafizh ndag tua jhi ?",kataku.

"Bah tidak jhi ukhti... Seumuran kak innah jhi, ndag tua jhi itu toh ?."

"Tidak jhi ukhti , masih tergolong muda itu untuk seorang hafizh"

(Sambil ukhti menepuk pundak kananku)  "Ukhti, Ada ceritaku," ucapnya dengan mata yang bersinar disertai senyum yang mengembang"

Kubalas senyum itu dengan senyum yang sama "Cerita apa ukhti?", tanyaku.

"Begini Ada seorang ikhwan mau pergi untuk melamar seorang akhwat. Disaat itu, si ikhwan mau melakukan nazhar syar'i (melihat calon istrinya ).

Calon istrinya bertanya : "Berapa hafalan AlQuranmu ?"

Si ikhwan menjawab : "Saya tidak hafal banyak tapi SAYA INGIN MENJADI LELAKI YANG SHALIH"

Si ikhwan lalu berkata kepada calon istrinya : "Kalau kamu ?"

Calon istrinya menjawab : "Saya hafal juz amma"

Calonnya kemudian sepakat untuk menikah karena merasa dia (laki-laki yg datang melamar ini) jujur.

"Terus ukh ?". Ucapku dengan penuh menyimak meskipun awalnya sudah kuterka ceritanya sudah pernah kudengar sebelumnya.

"Setelah mereka menikahmi.
Ini Sang Istri lalu memintanya untuk membantunya menghafal AlQuran.

Sang suami berkata : "Mengapa kita tidak saling membantu dalam menghafal bersama-sama?"

Lalu mereka sama-sama mhi menghafal Alquran dengan Surah Maryam kemudian berikutnya dan berikutnya
sampai hafalan Qurannya selesai dan mereka berdua mendapat Ijazah hafalan Quran, "Lanjut ukhtiku bercerita.

"Masya Allah kegigihannya mereka berdua", trus apalagi ukh ? Tanyaku dengan senyuman.

Kemudian toh ini istrinya menawarkan : "Mungkin kita juga bisa memulai menghafal Hadits-hadits Bukhari.." kemudian mereka lanjut mhi menghapal hadis2 bukhari..

"Terus apalagi ukh", tanyaku sambil terus menyimak.

"Kemudian , Di sebuah kesempatan ketika si ikhwan berziarah kerumah mertuanya, ini ikhwan mengabarkan kepada mertuanya kalau anaknya yang menjadi istrinya sekarang sudah hafal AlQuran Al Karim, Alhamdulillah.

Terus kaget mhi ini dengan apa yg dikatakan menantunya, ini orang tua lalu masuk ke kamar anaknya seraya memperlihatkan banyak kertas kepada menantunya.
Sontak dan alangkah kaget dan bingungnya mhi ini sang suami, Istrinya ternyata memiliki ijazah hafalan Alquran dan Kutub Sittah (kumpulan kitab2 hadits) bahkan sebelum dia menikah dengan ini istrinya.

Masyaa Allah ...ini si istri tidak mempermasalahkan dari awal sedikitnya ilmu yang dimiliki sang calon suami, dan dia kemudian membantunya menghafalkan Al Quran sebagaimana dia telah menghafalnya disaat dia merasa kalau memang sang suami adalah orang Shalih ini istrinya juga tidak berdusta ketika dia berkata saya hafal juz amma karena dia tidak menafikan bahwa dia juga hafal surat yg lainnya.

"Masya Allah akhwatnya begitu rendah hati, dan pandai menyembunyikan sesuatu. bagus juga ukhti ceritanya", kataku memberi pujian .

"Ukhti..  Mauka curhat,"katanya.

"Iye... Curhat meki ukh,"kataku.

"Ukhti sebenarnya saya toh disuruhka lanjut s2 sama orang tuaku bila perlu kalau bisa sampai s3", katanya kepadaku

"Kesempatan bagus itu menurutku ukhti . bagus jhi orang tua'ta dan bisa jhi'qi kurasa berdakwah sambil lanjut kuliah lagi seperti kak Rina, bukannya menimba ilmu itu bagus ukh ? Ilmu memang harus selalu dikejar ?", ucapku meyakinkannya.

"Iya sih ukh... Tapi masih mau kupertimbangkanki" ucapnya setengah ragu2.

"Jadi ukhti tidak mauki menikah setelah wisuda kan mauki lanjut s2 itu kayaknya?," ucapku kepadanya.

***
Kembali Teringat kata-kata ukhtiku beberapa bulan yang lalu pada saat awal semester 6 pada saat saya menemaninya mencari industri pabrik roti untuk tugas kuliahnya meskipun berbeda jurusan setidaknya saya belajar banyak darinya, pada saat ruang diruang tunggu industri tersebut kami bercerita.

"Ukhti ada lembaga walimah di makassar . Nanti toh sebelum lulus ikut meki juga seminar pra nikah yang akan diadakan, saya phi carikanki calon orang yang dari daerahku yang juga ikhwan. Masyaaa Allah sekali itu ukhti wisudaki sama-sama, luluski sama-sama, kemudian berdakwahki sama-sama satu daerah" kata ukhti kepadaku.

"Ukhti, jangan mhi repot2 datang sendiri jhi itu nanti. Jawabku.

Dan pada saat hari yang lain juga kemarin dia berkata kepadaku disertai dengan ketawa kecil-kecil.
"Ukhti...  saya phi carikanki"
***

Sambil memikirkan perkataan yang lalu sambil menyimak perkataannya dia melanjutkan.
"Ukhti, tidak kutahu mhi juga ukh masih ada pertimbangan lainnku, dan belum kutahu juga "katanya kepadaku dengan agak bimbang.

(Dalam hati berkata sebenarnya ukhti kita punya kesempatan yang sama sih melanjutkan studi lagi tapi disisi lain saya juga ingin menikah kalau jodohnya ada yang sesuai dan bagus akhlaq dan agamanya, kenapa tidak ? menikah untuk menyempurnakan ibadah, untuk menjaga kehormatan diri. kalaupun jodohnya belum ada saya akan melanjutkan studi lagi.)

Kembali aku kembali bertanya kepadanya, "Apa yang dipertimbangkan ukhti?", tanyaku sambil menatapnya dalam-dalam serasa ingin membaca dan menerka apa yang tersirat didalam pikirannya.

"Mauka juga ikut program menghapal Alquran yang ada disnini dimakassar, mauka fokus menghapal sampai 30 juz," katanya.

"Lah, bagus itu ukhti... Setuju jhi orang tua'ta ?," Tanyaku.

"Begini juga ukhti saya kan 6 bersaudara dan adikku ini ada mhi yang menikah dan yang lainnya masih kecil-kecil dan ini yang kecil-kecil yang kelas 5 SD mauka jadikan hafizh (penghapal Alquran) . kan kebetulan adikku masih kecil-kecilki dan ada mhi yang menikah dan merasa tidak enakka juga sama orang tuaku karna biaya kuliah kayak lari ke saya semua, dan saya benar-benar difokuskan ini untuk melanjutkan studi s2 bila perlu sampai s3 , dan kebetulan juga ada adikku yang  sudah menikah ditanyaki adekku sama mamaku "jangan mhi minta2 uang yaa... Karna ada mhi suamimu yang tanggung semuanya, sekarang biaya mau difokuskan untuk kakakmu buat studi'nya", begitu kata mamaku ke adikku," ceritanya kepadaku.

"Ukhti... Pasti anak pertama ki toh?," tanya ku.

"Iya ukhti... Kita?,"tanyanya menimpa balik.

"Bah sama jhi ukhti... Saya juga anak pertamaka dan memang kalau anak pertama itu memang dituntut untuk sekolah setinggi-tingginya biar bisa jadi contoh juga untuk adik-adiknya, kurasa itu keputusan orangtua'ta juga bagus mhi. Manfaatkan kesempatan yang ada. Ukhti... Saya mau tanya, kita golongan darah O yaaa ?,"tanyaku mencoba memahami karakternya.

"Bukan ukhti saya golongan darah A yang na'bilang itu ceramah uztad itu kalau golongan darah A cepat tersinggung yaaa?? Kalau golongan darah O yang cepat marah dan cepat juga baik ya ? Kalau kita apa ?," tanya nya.

"Saya golongan darah O dan saya pikir kita golongan darah O juga bukan berarti kita suka marah2 yaa bukan begitu, tapi ada yang saya baca di internet salah satu karakteristik orang yang bergolongan darah O adalah ada bakat2'nya menjadi pemimpin dan kurasa kuterka itu dalam diri'ta ternyata dugaanku salah mungkin efek karakternya karna kita anak pertama yaaa.?,"

"Iyaa ukhti... Tapi masih bingungka ukhti... Mauka juga fokus menghapal Alquran 30 juz" ucapnya sambil mengadukan keluhannya.

"Begini solusi ku ukhti, nganggur meki 1 tahun untuk fokus dihapalanta 30 juz kemudian lanjutkan mhi kuliah lagi. kira-kira bisa jhi itu selama 1 tahun 30 juz ? Bagaimana ?," solusiku kepadanya.

"Iya ukhti pokoknya saya harus bisa menghapal bila perlu sampai 30 juz, dan cita-citaku saya ingin menjadi penghapal Alquran juga sebagai bentuk hadiahku kepada kedua orang tuaku" berucap dengan penuh ambisi disertai senyuman yang mengembang sambil terus membuka lembar demi lembar Alquran yang dia pegang.

(Dalam hatiku berkata "Masyaa Allah saya kagum dengan semangatnya ukhtiku, dia ingin menghadiahkan cahaya kemuliaan bagi kedua orang tuanya, diakhirat nanti orang tuanya akan diangkat derajatnya oleh Allah dan dipasangkan mahkota kemuliaan berkat kegigihan anaknya, beruntungnya orang tua memiliki anak seperti dia.")

"Ukhti sampai mana mhi hapalanta ?," tanyanya kepadaku sambil membuka lembar demi lembar Alqurannya.

"Saya baru sampai sini ukhti.. Kalau kita sampai mana mhi ?," tanyaku.

Sambil menghitung-hitung surah Alquran "Ini tinggal 7 surah lagi baru sampai juz 30, Insyaa Allah bisa jhiqi selesaikan tahun ini sampai juz 30 kemudian merangkakki lagi ke juz 29,28. Insyaa Allah bisa jhi."

(Dalam hati aku berkata "Lincahnya ini ukhtiku, perasaan beberapa minggu sebelum ramadhan hapalan kita sama dan sekarang mendahului ku,").

"na'am ukhti... insyaa Allah bisa jhi itu ukhti yang penting yakin." ucapku dengan senyum yg optimis

"Semangatqi ukhti..., " ucapnya yang keluar dari mulut nya disertai semangat yang menyala-nyala dan sorot mata yang bersinar memancarkan semangat juga kepadaku."

Ruangan pengurusan BAAk tampak sedikit hening karna para laki laki semuanya bergegas untuk pergi sholat jumat, yang ada hanya mahasiswa perempuan yang duduk diruang tunggu maupun staf wanita yang stand by di ruang kerjanya. dan jam pun menunjukkan pukul 12:34

"Ukhti..  Kurasa sudah waktunya kita juga untuk sholat," kata ukhtiku.

"Saya pikir adzan ke dua ya ukh ? Karna ada yang pernah saya dengar adzan kedua baru bisa sholat." kataku .

"Sebenarnya adzan pertama kalau sudah waktunya sholat yaaa.. Bisa meki sholat dan masuk mhi juga waktunya,". Ucapnya.

"Ayo mhi pale ukhti," kataku sambil berdiri ingin meninggalkan tempat.

Lalu kami pun bergegas menuju Musholla dekat BAak dan mulai berwudhu kemudian sholat bersama.


Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer