Minggu, 10 Juni 2018
Pengalaman Awal Mula Menjadi Dosen
Jumat, 23 Maret 2018
Dilema Fresh Graduate
Minggu, 27 Agustus 2017
Ketika Hidayah Menyapa
Oleh : Alya Rohalia
Sabtu, 22 April 2017
Secercah harapanku
"Arma bagaimana di' tidak haidhka selama 2 bulan lebih . nah kamu pernah kamu alami ?
" tidak jhi saya selama ini selalu teratur, mungkin hamil biasanya begitu"
"Ih... Bisanya itu nah tidak pernahka saya pacar-pacaran, nah biasanya kalau orang hamil mual-mual , muntah-muntah padahal ini tidak"
"Siapa tau semut kasih hamil hehehe"
"Arghh... Tidak jhi deh.."
Yang aku tau dulu sewaktu remaja saya memang punya masalah haidh yang tidak teratur , bahkan jika haidh dapat mengeluarkan darah yang banyak sekali. Setiap disekolah pasti ROK yang kukenakan selalu tembus , banyak teman-teman bilang biasanya kalau seperti itu akan susah mempunyai keturunan tapi saya tidak terlalu memikirkankan karna umur yang masih terbilang sangat muda yang kupikir hanya " jika susah punya keturunan bisa adopsi anak atau menyuruh suami nikah lagi apa susahnya khan ?" (tapi itu dulu, sekarang saya sangat memimpikan suatu hari nanti punya keturunan yang shalih shalihah calon pemimpin umat yang kudidik dengan penuh cinta dan dari darah dagingku sendiri dan suami sangat sayang kepadaku tanpa pernah berniat memadu)
Waktu kelas 2 SMA saya pernah drop jatuh pinsang dilarikan ke RS pangkajenne Karna kekurangan darah yang sangat banyak. Pernah sempat di USG katanya ada sesuatu didalam rahim yang masih sangat kecil (ntah apa) yang jelas disuruh berobat rutin siapa tau Dengan minum obat yang didalam rahim bisa meletus atau tidak tumbuh besar, sebenarnya bisa dihilangkan dengan cara dikuret tapi dokter sangat menyayangkan karna umur masih terbilang sangat muda dan masih gadis.
Seiring berjalannya waktu dan tempat karna sekolah berpindah-pindah, saya juga selalu pindah-pindah dokter spesialis kandungan (soppeng, nunukan, makassar) dan setiap dokter yang kutemui bilang "tidak mengapa, biasa terjadi diusia segini, dan ini hanya gejala hormon, nanti juga bakalan berhenti sendiri asalkan rutin berobat". Saya sedikit lega mendengarnya tapi saya tidak pernah rutin berobat hanya diawal saja.
Tidak lama kemudian, beberapa tahun lamanya tdk pernah check up akhirnya drop dan pendarahan haidh yang banyak sekali dan pada saat saya mau keluar ke arah pintu kamar kos tiba-tiba kepala terbentur digagang pintu hingga pinsang
Beberapa menit pinsang tak sadarkan diri dikamar. Selepas sadar, saya hanya bisa menangis "Yaa Tuhan, kalau memang ajalku sudah dekat tak mengapa kau ambil aku sekarang". Tiba-tiba pintu kamar kos terketuk dan ternyata itu ibu kos'ku berteriak diluar :
" Lola .. Lola kamu didalam kah ? Buka pintumu dulu". Lalu dengan tertatih aku bukakan pintu
"iye pung tunggu sebentar (sambil membersihkan darah yang dilantai)"
"Kamu lola, jangan selalu tutup pintu kamarmu, nanti kalau ada apa-apamu nah tidak ditau-tau ? bapakmu barusan menelpon bilang ada itu lola dikamar nah tidak bisa mhi bergerak,
bikin kaget-kaget. Jadi bagaimana mhi perasaanmu ?"
"Tidak apa-apa jhi ini pung, berhenti sendiri jhi nanti pung"
"Mau dibawah ke RS atau dokter praktek ? Nah hujanki jg skarang atau bagaimanakah kuat jhi kalau dibonceng naik motor?"
"Jangan mhi pung nanti phi besok saya ke RS sama temanku, mau jha ini pung minta tolong dibelikan pembalut sama obat diapotek"
"Oh iya sini mhi, nanti saya minta tolong Sama anak disini"
Setelah obatnya sudah, saya minum Dan saya rasa perut saya seperti ditinju-tinju Dan esok harinya haidh berhenti kembali.
***
2 hari kemudian haidh saya kembali lagi Karna berhenti mengkonsumsi obat itu Dan pendarahan yang begitu hebatnya hingga saya serasa tak kuat lagi, sehingga saya dilarikan ke Rumah sakit awall bross makassar, karna kondisi tidak memungkinkan akhirnya diopname dan transfursi darah 4 kantong karna HB begitu rendah.
Setelah hasil USG keluar, ternyata penyebabnya sudah ditemukan yaitu Ada miom didalam dinding rahim sebelah kanan 4x5 cm dan harus diangkat Kata dokternya "nanti kalau sudah tidak haidh lagi Dan kondisi fisik sudah bagus, Baru kita bisa angkat dan terserah kapan siapnya"
"Tidak apa-apakah itu dok kalau sudah wisuda baru diangkat itu penyakitnya Karna maumi INI dok target selesai bulan-bulan 8?" Tanya bapakku.
"Oh tidak apa-apa yang penting rajin kontrol tiap bulan, tapi saya hanya bisa kasih obat pengatur hormon agar teratur siklus haidnya, Karna kalau tidak diangkat ini miomnya akan begini terus secara berulang haidhnya tidak teratur dan banyak darah keluar"
"Tidak berpengaruh dok sama kandungannya ?"
Tidak, yakin saja.
(Kemudian dokter natalie berlalu)
"Ingat nah sayang, diangkat kalau mau cepat sembuh tidak dikasih nanti cucu bapakta"
"Hehehe iya dok"
Setelah beberapa lama rajin check up ke dokter akhirnya obatnya habis juga dan pada saat obatnya habis terjadi pendarahan lagi, karna sudah panik ,keluarga akhirnya malam-malam dibawah kedokter praktek RSIA amanat dan dokternya juga bilang hal yang sama "sebaiknya diangkat"
Awalnya saya sangat takut dengan operasi, selain minum obat dokter saya juga minum ramuan herbal air rebusan daun sirsak dan kunyit putih tetapi untuk ramuan herbal khasiatnya memang butuh waktu lama dan tidak secepat operasi , sementara keluarga tidak tega melihat saya kesakitan terus menerus akhirnya saya berubah pikiran mau segera dioperasi saya jadi teringat kata-kata keluarga :
"Itu rahim sudah seperti jantungnya wanita, kasihanilah calon suamimu kelak jika tidak bisa memberikan keturunan karna rahim disitulah ada kehidupan" quote kak tiar
"Ndag usah pikir apa-apa, fokus saja sama penyakitmu, kalaupun harus diangkat tidak apa-apa, jangan pikirkan biaya, karna jangan sampai dibuangko sama suamimu nanti kalau tidak ada keturunanmu, biar bagaimanapun banyaknya uangmu. Kata bapakku.
"Jangan mhi khawatir nak, banyak jhi juga keluarga dan orang yang punya penyakit seperti itu nah bisa jhi melahirkan , banyak tonji anaknya" kata pung bonga
"Kamu tau itu ussy yg artis ? Istrinya andhika ? Sama penyakitmu itu nah 3 mhi anaknya". kata kk tina
banyak keluarga memberi dorongan semangat untuk sembuh, sambil menggepalkan tangan menunjukkan semangat persatuan 45 saya serasa berada dizaman penjajahan indonesia dimana tubuhku dijajah penyakit antara memilih berjuang atau memilih untuk gugur atau mundur..
satu hal yang selalu kusyukuri dalam hidup ini tinggal ditengah-tengah keluarga yang begitu baik dan peduli dan dari mereka saya belajar untuk membuka diri karna selama ini mungkin saya tertutup .
Setelah operasi saya mendapat pelajaran yang begitu sangat berharga meskipun pada awalnya sempat kusesali "Ya Allah, rasanya sakit sekali, saya seperti orang melahirkan yang dioperasi caesar , ini yang kutanggung diusiaku yang masih sangat muda 21 thn, kasihanilah aku, ini terlalu berat"
Tiap hari adalah waktu dimana untuk muhasabah diri, dosa apa yang kulakukan sedang aku selalu menjalankan perintahNya? Menjaga diriku dari apa yang Dia haramkan. Aku kembali Flash back ke masa sekarang dan kemasa lalu saya tidak bisa menyalakan takdir, aku tau Allah memberi cobaan karna Allah sayang sama saya, Allah tau kalau saya orang yang baik dan ingin menyadarkanku lebih awal supaya tidak dicoba dengan penyakit yang lebih parah lagi. mungkin saja saya pernah menyakiti hati kedua orang tua dan membuatnya menangis (dan kuakui memang pernah) , mungkin saja dulu saya suka berbohong, mungkin saja dulu saya menolak banyak cinta laki-laki sehingga membuat salah satu mereka sakit hati dan membuat saya menderita sakit seperti ini, atau mungkin saja dulu saya pernah bersikap sombong dan angkuh sehingga ada yang menyumpahi, Tapi biar bagaimanapun saya tetap positif thinking ini adalah ujian dari Allah yang pasti ada hikmah dibaliknya, mungkin saja dengan ujian ini membuat saya tersadar atas kesalahan-kesalahan yang saya buat, dan saya kini mulai menyadari bahwa memang saya adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan.
Ternyata keluarga adalah segalanya, sesuatu yang harus dijaga silaturahminya kalau saya tidak sakit mana mungkin saya tinggal dirumah keluarga ? Keluarga adalah orang yang pertama peduli, dan turut bersedih. Sehingga saya menemukan secercah harapan untuk terus bangkit kembali dan semangat untuk cepat sembuh
Keluarga yg mengatur makanan bergizi, keluarga yang turut membantu jika ada keperluan, keluarga adalah segalanya.
Sekarang, Saya mulai sedikit memahami dan mencoba menerima bahwa antara adat, budaya dan agama memang tidak bisa dipisahkan dalam hidup ini, perlahan-lahan saya mencoba membuka diri untuk lingkungan yang baru.
Saya juga bersyukur judul skripsi saya yang di ACC "sistem pakar panduan untuk ibu selama proses kehamilan" sesuai dengan saya, dirumah sakit yang saya teliti tempatku dioperasi, saya juga baru tau dokternya punya hubungan keluarga dan pemilik rumah sakit baru tersebut yang saya syukuri biaya selama perawatan dikasih diskon . Bukan hanya dokternya, saya juga bersukur bisa mengenal perawat-perawat yang seperti bidadari . Alhamdulillah alhamdulillah... semoga pengerjaan skripsi saya dipermudah oleh Allah dan bisa bermanfaat bagi pasien ibu-ibu hamil dan rumah sakit tersebut.
Satu pesan yang saya dapatkan dari mamaku "cepat sembuh, cepat selesai ,sehingga bisa berkumpul lagi bersama disini" aamiin ya Allah dan semoga juga cepat dapat jodohnya.
Dan pada saat tulisan ini ditulis saya masih mencoba menyusun skripsi dan masih dalam tahap pemulihan setelah operasi. Tidak sabar rasanya ingin sembuh dan berkumpul kembali bersama teman-teman dan ingin rasanya membuka diri kedalam jalinan pertemanan lebih luas lagi tanpa terlalu kaku membawa diri.
Kamis, 02 Februari 2017
Guru idaman
Guru-guru di SMKN 1 Majene sangat welcome dengan kami anak-anak KKN , kami disambut bagaikan tamu kehormatan yang begitu penting, saya tidak akan lupa hari itu begitu juga masyarakatnya begitu ramah dengan kami. Ada satu guru yang sampai sekarang membuat saya penasaran, saya masih belum tau sosok wajah dibalik cadar itu ... dia adalah ibu Rahmania, dia itu guru yang sangat disukai oleh siswa-siswanya, dengar-dengar dia adalah pembina PMR dulu tapi sekarang berhenti (ntah karna apa) dan PMR di SMKN 1 Majene statusnya tidak aktif, ibu Rahmania sering mengobrol dengan saya yaaa... karna kami satu manhaj yaitu “Manhaj Salaf” ibu Rahmania pernah bilang kalau dia itu dulu dan suaminya adalah wahdah islamiyah tapi sekarang hijrah ke salafi dan pemaahamannya tidak beda jauh dengan wahdah , biar bagaimanapun dia masih tetap mendukung dakwah yang disampaikan oleh wahdah islamiyah. Dalam diri saya berharap semoga suatu saat kelak saya bisa hijrah ke salafi, saya mau merasakan bagaimana rasanya, sepertinya bagus.
Perbedaan hijabers dan hijrahbers
kakak andalangku
Rabu, 17 Agustus 2016
Lomba makan kerupuk
Tadi saling kirim mengirim photo tentang 17-san dan gak sengaja ambil photo ini dari hp teman kebetulan dia juga asal jeprat jepret eh ternyata ada juga saya disini.
Photo ini punya cerita tersendiri, itu adalah saya yang mukanya saya tutupin love biru (sengaja) dan yang di lingkaran putih itu adalah ibu dan anak (saya tidak tau apakah ibu dan anak sedarah/ kandung atau layaknya ibu-ibu zaman sekarang yang panggil anak ke siapa saja)
Ceritanya begini :
Pada saat perlombaan dimulai, ibu itu berkata kepadaku "adek.. Coba lihat berdarahki gusinya ini anak akibat mengunyah kerupuk". Kemudian saya jawab : "iye ibu berdarah, jadi bagaimana apa ndag apa-apa ?" (sambil memegang pundak anak tersebut untuk menginstruksikan berhenti )
Kemudian ibu itu berkata kepada anak ini : "ayo nak ndag apa-apa berdarah lanjutkan saja makan kerupuknya meskipun berdarah-darah namanya juga perjuangan. Ayoo.. Nak ... Dan anak tersebut tetap melanjutkan makan kerupuk sampai perlombaan selesai, meskipun saya ndag tega melihat giginya berdarah-darah tapi anak tersebut begitu sangat gigih sampai akhir perlombaan anak itu mendapat juara pertama. alhamdulillah ...yeeee menang *tepuk tangan meriahpun disemai.
Seharusnya kita harus belajar dari ibu dan anak ini, hari ini mereka mengajarkan saya tentang perjuangan bahwa untuk mencapai kemenangan yang sesungguhnya bukan berhenti lalu menyerah, meskipun tertatih-tatih peluh hingga berdarah-darah tapi kelak kemenangan itu akan kita tuai sepanjang kita tak pernah berhenti berjuang. Perjuangan itu akan terasa indah bagi orang-orang yang memahami.
#harikemerdekaan #17agustus #jayalahindonesiaku #anakbangsa #lombamakankerupuk #perjuangan
Senin, 15 Agustus 2016
Teman hijrah
Malam ini tempat ternyaman adalah kasur setelah seharian bekerja dikantor untuk praktek industri menguras energi , disertai hembusan kipas angin membuatku ingin tidur sejenak tiba-tiba ada bunyi dari pintu kamarku membuyarkan istirahatku.
"Assalamu Alaikum", ucap seseorang yang berada dibalik pintu kamarku.
"Waalaikum salam", jawabku, sambil berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar.
"Boleh masuk ?" ucapnya disertai senyum.
"Oh salwa..Iyaa... Boleh, silahkan", sambil mempersilahkannya masuk.
"Tujuanku kesini langsung saja ada sesuatu yang ingin kusampaikan," katanya kepadaku.
"Apa itu salwa ?", kataku kepada salwa yang saat ini dihadapanku disertai dengan rasa hati yang bercampur aduk dan was-was dan menerka-nerka.
***
pikirku dalam hati
Jangan-jangan mengenai wajan yang itu hari kupakai dan belum kucuci tempo hari? Atau saya jarang membersihkan dihari minggu ? Atau mengenai kompor minyak tanah yang didapur ? Padahal sudah saya isi minyak tanah. Atau masalah jemuran yang full, kan saya tidak mencuci, pakaian saya ada di laundry sekarang. Atau apa yaa.... ???
***
"Hmmm begini atau kusampaikan mhi sekarang," kata salwa.
"Iya .." jawabku.
"Begini, kan saya rencana mau pindah kamar tapi saya cari orang yang mau bimbing saya untuk hijrah." katanya.
"Kenapa dikamar sebelumnya ?," kataku.
"Sebenarnya di kamar sana merasa tidak kuatka dan ada-ada saja godaannya, dan selalu ribut serta selalu putar musik dan saya sudah bertekad sekarang untuk hijrah dan carika lingkungan yang bisa membimbing," katanya kepadaku.
"Pernah ditawari akhwat untuk tinggal dipondokan ?," kataku.
"Tidak ,". Sambil menggelengkan kepala Jawabnya.
mungkin dia belum jadi pengurus terus kucoba untuk bertanya lagi "tarbiyahnya sudah berapa lama ?".
"Baru-baru ini juga sih, perlahan-lahan mau mencoba untuk hijrah sedikit demi sedikit mau mencoba jilbab yang besar," jawabnya.
"Oh ... Pantesan saya lihat perubahannya salwa sudah agak menutupi dada kerudungnya dan udah agak tebal, terus yang ajak tarbiyah siapa ?". Tanyaku kepadanya.
"banyak akhwat disana , salah satunya kita tau pasti vera temanku ? Dia yang ajakka juga," jawabnya.
"Oh tau... Vera yang dari soppeng itu toh ? Temannya marina juga ? Seringka ketemu." kataku.
"Iya itu... Dia yang tanyaka supaya ada juga akhwat kutemani sama-sama kos biar mencegah futur karna setiap hari rasanya itu selalu musik-musik didengar di telinga." katanya.
"Yakin mau pindah kos ? Disini juga selalu kedengaran musik, apalagi yang disebelah sini samping kiri kanan kadang juga putar musik,"
"Itu mhi juga kupikir tapi bisa jhiqi kita bertahan toh ? Dalam hatiku toh berkata "lamanya mhi, sanggupnya Lola bertahan dengan keadaan seperti ini, kalau misalnya Lola bisa kenapa saya tidak bisa ?." katanya.
***
Dalam hatiku berkata, mana sanggup juga aku bertahan, tapi kucoba bertahan demi almarhumah nenek disana yang selalu melarangku pindah kos karna kebetulan ini juga rumah ada hubungan keluarga dengan ibu kos . dan orang tuaku juga selalu larang-larang pindah .
***
"Oke pale,,, kalau mauki pindah, kapan rencanata mau pindah dikamarku ?," tanyaku kepadanya.
"Nanti kalau sudah mulai orang pembayaran kos baru saya pindah disini," jawabnya.
"Oke pale," jawabku.
"Yeee akhirnya ada kutemani, (sambil menutup mulutnya, sesekali memegang kedua pipinya dengan ekspresi penuh kegirangan) .makasih nah lola," ucapnya kepadaku dan berlalu pergi.
"Iya sama2," jawabku.
Satu hal yang saya tidak bisa untuk berkata "tidak" meskipun saya sudah terbiasa untuk hidup sendiri dikamar ini selama 3 tahun tapi untuk masalah ini saya tidak bisa berkata "tidak" karna niatnya itu baik dia mau hijrah.
Semua manusia pasti ada niat untuk berubah menjadi lebih baik, setiap dari mereka pernah melakukan kesalahan dan bahkan tak sedikit dari mereka yang merasa menyesal dan berharap kesalahan itu tidak akan terulang lagi. Dan aku, sama seperti mereka yang pernah melakukan sebuah kesalahan, tidak! bukan hanya sebuah, namun banyak sekali kesalahan yang pernah aku lakukan sebelum hijrah. Lantas, apa alasanku untuk tidak membantunya ?
Hijrah....
5 kata itu juga yang mengubah hidupku dan sampai sekarang juga saya masih menjalani prosesnya, hidayah bisa menyapa kapan saja kepada pemilik hati yang Allah kehendaki kebaikan, mau itu cepat ataukah lambat apabila hati sudah dikehendaki Allah dengan kebaikan maka wajib bagi kita untuk "sa'mina wa'atona" meskipun terkadang futur melanda diri, dengan adanya teman hijrah bisa saling menguatkan dan menasehati agar tetap berjalan bersama dijalan-Nya. Tak peduli siapa duluan karna hijrah bukanlah lomba cepat-cepatan melainkan saling merangkul berpegangan tangan dan sama-sama berjalan ataupun berlari menuju-Nya. Dan ketika salah satunya terjatuh, ada yang bisa mengajaknya berdiri untuk bangkit kembali.
Untuk terakhir saya kutip sebuah hadis qudsi :
"Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Apabila hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal,maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sehasta,maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dgn berjalan,maka aku akan datang kepadanya dgn berlari" (Hadits qudsi riwayat Bukhari dr Anas)
#Melangkah Menuju-Nya.
Selasa, 28 Juni 2016
Nikah muda ?
.......
Sambil mengutak atik laptop tiba-tiba saya menimpa sebuah pertanyaan.
"Kenapa yaaa kalau anak-anak uztads atau ulama-ulama dinikahkan pada saat usia muda ? Bahkan ada yang sedari SMP udah menikah ? Seperti itu waktuta pergi acara seminar tahfidz Alquran yg pematerinya 3 bersaudara yg sdh menikah semua ?," tanyaku kepada Khadijah.
"Iyaa... Kenapa kira2 itu di ?," melemparkan pertanyaan balik.
"Iya karna orang tuanya sudah paham , bukankah sudah dicontohkan oleh aisyah putri abu bakar yang saat menikah masih berumur 9 tahun ? Dan juga dicontohkan oleh Fatimah az-zahra dan Ali Bin Abi Thalib Dan menikah juga itu lebih berpahala dari pada anak-anak terjerumus dalam dosa pacaran mending dinikahkan cepat2 agar supaya ada yang jaga dan tidak diganggu,"menjawab pertanyaanya.
"tapi bukanki kita kwodong anak uztads , kalau orang tua'ta mungkin bilang "selesaikanmi dulu kuliahmu". Kata Khadijah.
"Bah iya sama jhiqi Khadijah," kataku.
***
Tiba-tiba teringat dengan percakapan telpon waktu lalu dengan orang tua , ntah apa yang ada menjurus dikepalaku tanpa pikir panjang langsung meleset sebuah perkataan :
A : pa.. Aku mau menikah
C : mauko menikah dengan siapa ?
A : tidak tau , tidak ada calonnya. Makanya carikan.
C : kenapa na plin plan sekali. ? Mau menisatunyau kuliah ?
A : mauka ke dua-duanya kalau bisa. Menikah sambil kuliah.
C : itu tujuan orang kuliah utk apa ? Untuk dapat kerja toh ?
A : yaa itu salah satunya tapi tdk apa-apa menikah juga nah kayak seniorku ada yang menikah waktu semester 5 dan sambil kuliah juga.
B : mauko jhe menikah sama siapa ? Itukah yg dulu mu kasih tau mamamu ?
A : bukan dan tdk ada ini calonnya makanya carikanka.
C : phuaa... Kuliah meko dulu . sudahmi
A : iyaa pale...
....... .
"Ukhti... Sebenarnya saya ada mhi calon dari orang tuaku" kata ukhti Khadijah kepada saya membuyarkan lamunanku seketika.
"Kayak gimana itu ukhti ? Orang paham2 jhi jg ?", yang aku kepadanya.
"Tidak sih iyaaa... Bukan dari kalangan ikhwan," katanya kepadaku.
"Tapi kita pasti mauqi cari yang sepaham toh sama-sama wahdah ?," kataku kepada Khadijah.
"Kalau bisa sih iya tapi itu tidak kupermasalahkan mau ikhwan ataupun bukan, pernah juga bilang mamaku itu hari "sembarang jhi kamu mauko kuliah atau kerja" karna dewasa meki juga toh ? Dan tdk terlalu kutanggapi jhi juga itu masalah perjodohan kan keputusan ada ditanganku,"kata Khadijah kepadaku.
"Bah iya ukhti bisa jhi juga kayaknya yang bukan ikhwan karna siapa tau dapat hidayah melalui perantara'ta juga , tapi terkadang ada juga cerita kudengar kalau dia tidak mengikut di kita , kita yang bakal mengikut di dia. Kita yang mewarnai atau terwarnai ? Pilih-pilih meki." kataku kepadanya.
"Tidak menikah-menikah meki itu sampai tua kalau banyak pilih2 , intinya yang bagus akhlaqnya saya kucari, "katanya kepadaku.
"Bah iya.. Sama jhi,"ucapku.
Jumat, 17 Juni 2016
Cita-Cita Ukhtiku Menghapal 30 Juz

.....
Disela sela obrolan pada saat menunggu di ruang BAaK lantai 2 phinisi untuk pengurusan password yang terlupa, kemudian saya pun melanjutkan percakapan yang tadi "ukhti tadi kita bilang ada sekelasta dari soppeng yang juga seorang ikhwan ? Bagaimana itu orangnya ukhti ?'',kataku sambil menatap wajah ukhtiku setengah penasaran.
"Sebenarnya bukan orang soppeng sih ukh tapi orang wajo," katanya
"Oh wajo hampir jhi dekat-dekat dengan soppeng," ucapku.
jangan mi itu ukh ada uztad hafizh 30 juz dari madinah", ucapnya dengan senyum menggelitik.
''Ohhh. . kutahu mhi ukh pasti itu targetta toh ?" ucapku dengan senyum menggodanya.
"Ah... Tidak jhi saya ukh , tidak berharap jha yang hafizh 30 juz kalau diriku sendiri belum hapal 30 juz", kata ukhtiku sambil menunduk namun disertai dengan ketawa-ketawa kecil dipipinya.
"Sama jhi qi ukhti , saya juga tidak berharap yang hafizh 30 juz karna kapasitasku ndag cukup. Asalkan adalah beberapa hapalannya," Kataku.
"Iya ukhti saya juga asalkan sholeh jhi dan baik agama dan akhlaqnya," katanya kepadaku.
"Iya jelasmi itu ukhti, Hmmm... Ngomong2 ukhti itu uztadnya yang hafizh ndag tua jhi ?",kataku.
"Bah tidak jhi ukhti... Seumuran kak innah jhi, ndag tua jhi itu toh ?."
"Tidak jhi ukhti , masih tergolong muda itu untuk seorang hafizh"
(Sambil ukhti menepuk pundak kananku) "Ukhti, Ada ceritaku," ucapnya dengan mata yang bersinar disertai senyum yang mengembang"
Kubalas senyum itu dengan senyum yang sama "Cerita apa ukhti?", tanyaku.
"Begini Ada seorang ikhwan mau pergi untuk melamar seorang akhwat. Disaat itu, si ikhwan mau melakukan nazhar syar'i (melihat calon istrinya ).
Calon istrinya bertanya : "Berapa hafalan AlQuranmu ?"
Si ikhwan menjawab : "Saya tidak hafal banyak tapi SAYA INGIN MENJADI LELAKI YANG SHALIH"
Si ikhwan lalu berkata kepada calon istrinya : "Kalau kamu ?"
Calon istrinya menjawab : "Saya hafal juz amma"
Calonnya kemudian sepakat untuk menikah karena merasa dia (laki-laki yg datang melamar ini) jujur.
"Terus ukh ?". Ucapku dengan penuh menyimak meskipun awalnya sudah kuterka ceritanya sudah pernah kudengar sebelumnya.
"Setelah mereka menikahmi.
Ini Sang Istri lalu memintanya untuk membantunya menghafal AlQuran.
Sang suami berkata : "Mengapa kita tidak saling membantu dalam menghafal bersama-sama?"
Lalu mereka sama-sama mhi menghafal Alquran dengan Surah Maryam kemudian berikutnya dan berikutnya
sampai hafalan Qurannya selesai dan mereka berdua mendapat Ijazah hafalan Quran, "Lanjut ukhtiku bercerita.
"Masya Allah kegigihannya mereka berdua", trus apalagi ukh ? Tanyaku dengan senyuman.
Kemudian toh ini istrinya menawarkan : "Mungkin kita juga bisa memulai menghafal Hadits-hadits Bukhari.." kemudian mereka lanjut mhi menghapal hadis2 bukhari..
"Terus apalagi ukh", tanyaku sambil terus menyimak.
"Kemudian , Di sebuah kesempatan ketika si ikhwan berziarah kerumah mertuanya, ini ikhwan mengabarkan kepada mertuanya kalau anaknya yang menjadi istrinya sekarang sudah hafal AlQuran Al Karim, Alhamdulillah.
Terus kaget mhi ini dengan apa yg dikatakan menantunya, ini orang tua lalu masuk ke kamar anaknya seraya memperlihatkan banyak kertas kepada menantunya.
Sontak dan alangkah kaget dan bingungnya mhi ini sang suami, Istrinya ternyata memiliki ijazah hafalan Alquran dan Kutub Sittah (kumpulan kitab2 hadits) bahkan sebelum dia menikah dengan ini istrinya.
Masyaa Allah ...ini si istri tidak mempermasalahkan dari awal sedikitnya ilmu yang dimiliki sang calon suami, dan dia kemudian membantunya menghafalkan Al Quran sebagaimana dia telah menghafalnya disaat dia merasa kalau memang sang suami adalah orang Shalih ini istrinya juga tidak berdusta ketika dia berkata saya hafal juz amma karena dia tidak menafikan bahwa dia juga hafal surat yg lainnya.
"Masya Allah akhwatnya begitu rendah hati, dan pandai menyembunyikan sesuatu. bagus juga ukhti ceritanya", kataku memberi pujian .
"Ukhti.. Mauka curhat,"katanya.
"Iye... Curhat meki ukh,"kataku.
"Ukhti sebenarnya saya toh disuruhka lanjut s2 sama orang tuaku bila perlu kalau bisa sampai s3", katanya kepadaku
"Kesempatan bagus itu menurutku ukhti . bagus jhi orang tua'ta dan bisa jhi'qi kurasa berdakwah sambil lanjut kuliah lagi seperti kak Rina, bukannya menimba ilmu itu bagus ukh ? Ilmu memang harus selalu dikejar ?", ucapku meyakinkannya.
"Iya sih ukh... Tapi masih mau kupertimbangkanki" ucapnya setengah ragu2.
"Jadi ukhti tidak mauki menikah setelah wisuda kan mauki lanjut s2 itu kayaknya?," ucapku kepadanya.
***
Kembali Teringat kata-kata ukhtiku beberapa bulan yang lalu pada saat awal semester 6 pada saat saya menemaninya mencari industri pabrik roti untuk tugas kuliahnya meskipun berbeda jurusan setidaknya saya belajar banyak darinya, pada saat ruang diruang tunggu industri tersebut kami bercerita.
"Ukhti ada lembaga walimah di makassar . Nanti toh sebelum lulus ikut meki juga seminar pra nikah yang akan diadakan, saya phi carikanki calon orang yang dari daerahku yang juga ikhwan. Masyaaa Allah sekali itu ukhti wisudaki sama-sama, luluski sama-sama, kemudian berdakwahki sama-sama satu daerah" kata ukhti kepadaku.
"Ukhti, jangan mhi repot2 datang sendiri jhi itu nanti. Jawabku.
Dan pada saat hari yang lain juga kemarin dia berkata kepadaku disertai dengan ketawa kecil-kecil.
"Ukhti... saya phi carikanki"
***
Sambil memikirkan perkataan yang lalu sambil menyimak perkataannya dia melanjutkan.
"Ukhti, tidak kutahu mhi juga ukh masih ada pertimbangan lainnku, dan belum kutahu juga "katanya kepadaku dengan agak bimbang.
(Dalam hati berkata sebenarnya ukhti kita punya kesempatan yang sama sih melanjutkan studi lagi tapi disisi lain saya juga ingin menikah kalau jodohnya ada yang sesuai dan bagus akhlaq dan agamanya, kenapa tidak ? menikah untuk menyempurnakan ibadah, untuk menjaga kehormatan diri. kalaupun jodohnya belum ada saya akan melanjutkan studi lagi.)
Kembali aku kembali bertanya kepadanya, "Apa yang dipertimbangkan ukhti?", tanyaku sambil menatapnya dalam-dalam serasa ingin membaca dan menerka apa yang tersirat didalam pikirannya.
"Mauka juga ikut program menghapal Alquran yang ada disnini dimakassar, mauka fokus menghapal sampai 30 juz," katanya.
"Lah, bagus itu ukhti... Setuju jhi orang tua'ta ?," Tanyaku.
"Begini juga ukhti saya kan 6 bersaudara dan adikku ini ada mhi yang menikah dan yang lainnya masih kecil-kecil dan ini yang kecil-kecil yang kelas 5 SD mauka jadikan hafizh (penghapal Alquran) . kan kebetulan adikku masih kecil-kecilki dan ada mhi yang menikah dan merasa tidak enakka juga sama orang tuaku karna biaya kuliah kayak lari ke saya semua, dan saya benar-benar difokuskan ini untuk melanjutkan studi s2 bila perlu sampai s3 , dan kebetulan juga ada adikku yang sudah menikah ditanyaki adekku sama mamaku "jangan mhi minta2 uang yaa... Karna ada mhi suamimu yang tanggung semuanya, sekarang biaya mau difokuskan untuk kakakmu buat studi'nya", begitu kata mamaku ke adikku," ceritanya kepadaku.
"Ukhti... Pasti anak pertama ki toh?," tanya ku.
"Iya ukhti... Kita?,"tanyanya menimpa balik.
"Bah sama jhi ukhti... Saya juga anak pertamaka dan memang kalau anak pertama itu memang dituntut untuk sekolah setinggi-tingginya biar bisa jadi contoh juga untuk adik-adiknya, kurasa itu keputusan orangtua'ta juga bagus mhi. Manfaatkan kesempatan yang ada. Ukhti... Saya mau tanya, kita golongan darah O yaaa ?,"tanyaku mencoba memahami karakternya.
"Bukan ukhti saya golongan darah A yang na'bilang itu ceramah uztad itu kalau golongan darah A cepat tersinggung yaaa?? Kalau golongan darah O yang cepat marah dan cepat juga baik ya ? Kalau kita apa ?," tanya nya.
"Saya golongan darah O dan saya pikir kita golongan darah O juga bukan berarti kita suka marah2 yaa bukan begitu, tapi ada yang saya baca di internet salah satu karakteristik orang yang bergolongan darah O adalah ada bakat2'nya menjadi pemimpin dan kurasa kuterka itu dalam diri'ta ternyata dugaanku salah mungkin efek karakternya karna kita anak pertama yaaa.?,"
"Iyaa ukhti... Tapi masih bingungka ukhti... Mauka juga fokus menghapal Alquran 30 juz" ucapnya sambil mengadukan keluhannya.
"Begini solusi ku ukhti, nganggur meki 1 tahun untuk fokus dihapalanta 30 juz kemudian lanjutkan mhi kuliah lagi. kira-kira bisa jhi itu selama 1 tahun 30 juz ? Bagaimana ?," solusiku kepadanya.
"Iya ukhti pokoknya saya harus bisa menghapal bila perlu sampai 30 juz, dan cita-citaku saya ingin menjadi penghapal Alquran juga sebagai bentuk hadiahku kepada kedua orang tuaku" berucap dengan penuh ambisi disertai senyuman yang mengembang sambil terus membuka lembar demi lembar Alquran yang dia pegang.
(Dalam hatiku berkata "Masyaa Allah saya kagum dengan semangatnya ukhtiku, dia ingin menghadiahkan cahaya kemuliaan bagi kedua orang tuanya, diakhirat nanti orang tuanya akan diangkat derajatnya oleh Allah dan dipasangkan mahkota kemuliaan berkat kegigihan anaknya, beruntungnya orang tua memiliki anak seperti dia.")
"Ukhti sampai mana mhi hapalanta ?," tanyanya kepadaku sambil membuka lembar demi lembar Alqurannya.
"Saya baru sampai sini ukhti.. Kalau kita sampai mana mhi ?," tanyaku.
Sambil menghitung-hitung surah Alquran "Ini tinggal 7 surah lagi baru sampai juz 30, Insyaa Allah bisa jhiqi selesaikan tahun ini sampai juz 30 kemudian merangkakki lagi ke juz 29,28. Insyaa Allah bisa jhi."
(Dalam hati aku berkata "Lincahnya ini ukhtiku, perasaan beberapa minggu sebelum ramadhan hapalan kita sama dan sekarang mendahului ku,").
"na'am ukhti... insyaa Allah bisa jhi itu ukhti yang penting yakin." ucapku dengan senyum yg optimis
"Semangatqi ukhti..., " ucapnya yang keluar dari mulut nya disertai semangat yang menyala-nyala dan sorot mata yang bersinar memancarkan semangat juga kepadaku."
Ruangan pengurusan BAAk tampak sedikit hening karna para laki laki semuanya bergegas untuk pergi sholat jumat, yang ada hanya mahasiswa perempuan yang duduk diruang tunggu maupun staf wanita yang stand by di ruang kerjanya. dan jam pun menunjukkan pukul 12:34
"Ukhti.. Kurasa sudah waktunya kita juga untuk sholat," kata ukhtiku.
"Saya pikir adzan ke dua ya ukh ? Karna ada yang pernah saya dengar adzan kedua baru bisa sholat." kataku .
"Sebenarnya adzan pertama kalau sudah waktunya sholat yaaa.. Bisa meki sholat dan masuk mhi juga waktunya,". Ucapnya.
"Ayo mhi pale ukhti," kataku sambil berdiri ingin meninggalkan tempat.
Lalu kami pun bergegas menuju Musholla dekat BAak dan mulai berwudhu kemudian sholat bersama.
Minggu, 10 Juni 2018
Pengalaman Awal Mula Menjadi Dosen
Jumat, 23 Maret 2018
Dilema Fresh Graduate
Minggu, 27 Agustus 2017
Ketika Hidayah Menyapa
Oleh : Alya Rohalia
Sabtu, 22 April 2017
Secercah harapanku
"Arma bagaimana di' tidak haidhka selama 2 bulan lebih . nah kamu pernah kamu alami ?
" tidak jhi saya selama ini selalu teratur, mungkin hamil biasanya begitu"
"Ih... Bisanya itu nah tidak pernahka saya pacar-pacaran, nah biasanya kalau orang hamil mual-mual , muntah-muntah padahal ini tidak"
"Siapa tau semut kasih hamil hehehe"
"Arghh... Tidak jhi deh.."
Yang aku tau dulu sewaktu remaja saya memang punya masalah haidh yang tidak teratur , bahkan jika haidh dapat mengeluarkan darah yang banyak sekali. Setiap disekolah pasti ROK yang kukenakan selalu tembus , banyak teman-teman bilang biasanya kalau seperti itu akan susah mempunyai keturunan tapi saya tidak terlalu memikirkankan karna umur yang masih terbilang sangat muda yang kupikir hanya " jika susah punya keturunan bisa adopsi anak atau menyuruh suami nikah lagi apa susahnya khan ?" (tapi itu dulu, sekarang saya sangat memimpikan suatu hari nanti punya keturunan yang shalih shalihah calon pemimpin umat yang kudidik dengan penuh cinta dan dari darah dagingku sendiri dan suami sangat sayang kepadaku tanpa pernah berniat memadu)
Waktu kelas 2 SMA saya pernah drop jatuh pinsang dilarikan ke RS pangkajenne Karna kekurangan darah yang sangat banyak. Pernah sempat di USG katanya ada sesuatu didalam rahim yang masih sangat kecil (ntah apa) yang jelas disuruh berobat rutin siapa tau Dengan minum obat yang didalam rahim bisa meletus atau tidak tumbuh besar, sebenarnya bisa dihilangkan dengan cara dikuret tapi dokter sangat menyayangkan karna umur masih terbilang sangat muda dan masih gadis.
Seiring berjalannya waktu dan tempat karna sekolah berpindah-pindah, saya juga selalu pindah-pindah dokter spesialis kandungan (soppeng, nunukan, makassar) dan setiap dokter yang kutemui bilang "tidak mengapa, biasa terjadi diusia segini, dan ini hanya gejala hormon, nanti juga bakalan berhenti sendiri asalkan rutin berobat". Saya sedikit lega mendengarnya tapi saya tidak pernah rutin berobat hanya diawal saja.
Tidak lama kemudian, beberapa tahun lamanya tdk pernah check up akhirnya drop dan pendarahan haidh yang banyak sekali dan pada saat saya mau keluar ke arah pintu kamar kos tiba-tiba kepala terbentur digagang pintu hingga pinsang
Beberapa menit pinsang tak sadarkan diri dikamar. Selepas sadar, saya hanya bisa menangis "Yaa Tuhan, kalau memang ajalku sudah dekat tak mengapa kau ambil aku sekarang". Tiba-tiba pintu kamar kos terketuk dan ternyata itu ibu kos'ku berteriak diluar :
" Lola .. Lola kamu didalam kah ? Buka pintumu dulu". Lalu dengan tertatih aku bukakan pintu
"iye pung tunggu sebentar (sambil membersihkan darah yang dilantai)"
"Kamu lola, jangan selalu tutup pintu kamarmu, nanti kalau ada apa-apamu nah tidak ditau-tau ? bapakmu barusan menelpon bilang ada itu lola dikamar nah tidak bisa mhi bergerak,
bikin kaget-kaget. Jadi bagaimana mhi perasaanmu ?"
"Tidak apa-apa jhi ini pung, berhenti sendiri jhi nanti pung"
"Mau dibawah ke RS atau dokter praktek ? Nah hujanki jg skarang atau bagaimanakah kuat jhi kalau dibonceng naik motor?"
"Jangan mhi pung nanti phi besok saya ke RS sama temanku, mau jha ini pung minta tolong dibelikan pembalut sama obat diapotek"
"Oh iya sini mhi, nanti saya minta tolong Sama anak disini"
Setelah obatnya sudah, saya minum Dan saya rasa perut saya seperti ditinju-tinju Dan esok harinya haidh berhenti kembali.
***
2 hari kemudian haidh saya kembali lagi Karna berhenti mengkonsumsi obat itu Dan pendarahan yang begitu hebatnya hingga saya serasa tak kuat lagi, sehingga saya dilarikan ke Rumah sakit awall bross makassar, karna kondisi tidak memungkinkan akhirnya diopname dan transfursi darah 4 kantong karna HB begitu rendah.
Setelah hasil USG keluar, ternyata penyebabnya sudah ditemukan yaitu Ada miom didalam dinding rahim sebelah kanan 4x5 cm dan harus diangkat Kata dokternya "nanti kalau sudah tidak haidh lagi Dan kondisi fisik sudah bagus, Baru kita bisa angkat dan terserah kapan siapnya"
"Tidak apa-apakah itu dok kalau sudah wisuda baru diangkat itu penyakitnya Karna maumi INI dok target selesai bulan-bulan 8?" Tanya bapakku.
"Oh tidak apa-apa yang penting rajin kontrol tiap bulan, tapi saya hanya bisa kasih obat pengatur hormon agar teratur siklus haidnya, Karna kalau tidak diangkat ini miomnya akan begini terus secara berulang haidhnya tidak teratur dan banyak darah keluar"
"Tidak berpengaruh dok sama kandungannya ?"
Tidak, yakin saja.
(Kemudian dokter natalie berlalu)
"Ingat nah sayang, diangkat kalau mau cepat sembuh tidak dikasih nanti cucu bapakta"
"Hehehe iya dok"
Setelah beberapa lama rajin check up ke dokter akhirnya obatnya habis juga dan pada saat obatnya habis terjadi pendarahan lagi, karna sudah panik ,keluarga akhirnya malam-malam dibawah kedokter praktek RSIA amanat dan dokternya juga bilang hal yang sama "sebaiknya diangkat"
Awalnya saya sangat takut dengan operasi, selain minum obat dokter saya juga minum ramuan herbal air rebusan daun sirsak dan kunyit putih tetapi untuk ramuan herbal khasiatnya memang butuh waktu lama dan tidak secepat operasi , sementara keluarga tidak tega melihat saya kesakitan terus menerus akhirnya saya berubah pikiran mau segera dioperasi saya jadi teringat kata-kata keluarga :
"Itu rahim sudah seperti jantungnya wanita, kasihanilah calon suamimu kelak jika tidak bisa memberikan keturunan karna rahim disitulah ada kehidupan" quote kak tiar
"Ndag usah pikir apa-apa, fokus saja sama penyakitmu, kalaupun harus diangkat tidak apa-apa, jangan pikirkan biaya, karna jangan sampai dibuangko sama suamimu nanti kalau tidak ada keturunanmu, biar bagaimanapun banyaknya uangmu. Kata bapakku.
"Jangan mhi khawatir nak, banyak jhi juga keluarga dan orang yang punya penyakit seperti itu nah bisa jhi melahirkan , banyak tonji anaknya" kata pung bonga
"Kamu tau itu ussy yg artis ? Istrinya andhika ? Sama penyakitmu itu nah 3 mhi anaknya". kata kk tina
banyak keluarga memberi dorongan semangat untuk sembuh, sambil menggepalkan tangan menunjukkan semangat persatuan 45 saya serasa berada dizaman penjajahan indonesia dimana tubuhku dijajah penyakit antara memilih berjuang atau memilih untuk gugur atau mundur..
satu hal yang selalu kusyukuri dalam hidup ini tinggal ditengah-tengah keluarga yang begitu baik dan peduli dan dari mereka saya belajar untuk membuka diri karna selama ini mungkin saya tertutup .
Setelah operasi saya mendapat pelajaran yang begitu sangat berharga meskipun pada awalnya sempat kusesali "Ya Allah, rasanya sakit sekali, saya seperti orang melahirkan yang dioperasi caesar , ini yang kutanggung diusiaku yang masih sangat muda 21 thn, kasihanilah aku, ini terlalu berat"
Tiap hari adalah waktu dimana untuk muhasabah diri, dosa apa yang kulakukan sedang aku selalu menjalankan perintahNya? Menjaga diriku dari apa yang Dia haramkan. Aku kembali Flash back ke masa sekarang dan kemasa lalu saya tidak bisa menyalakan takdir, aku tau Allah memberi cobaan karna Allah sayang sama saya, Allah tau kalau saya orang yang baik dan ingin menyadarkanku lebih awal supaya tidak dicoba dengan penyakit yang lebih parah lagi. mungkin saja saya pernah menyakiti hati kedua orang tua dan membuatnya menangis (dan kuakui memang pernah) , mungkin saja dulu saya suka berbohong, mungkin saja dulu saya menolak banyak cinta laki-laki sehingga membuat salah satu mereka sakit hati dan membuat saya menderita sakit seperti ini, atau mungkin saja dulu saya pernah bersikap sombong dan angkuh sehingga ada yang menyumpahi, Tapi biar bagaimanapun saya tetap positif thinking ini adalah ujian dari Allah yang pasti ada hikmah dibaliknya, mungkin saja dengan ujian ini membuat saya tersadar atas kesalahan-kesalahan yang saya buat, dan saya kini mulai menyadari bahwa memang saya adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan.
Ternyata keluarga adalah segalanya, sesuatu yang harus dijaga silaturahminya kalau saya tidak sakit mana mungkin saya tinggal dirumah keluarga ? Keluarga adalah orang yang pertama peduli, dan turut bersedih. Sehingga saya menemukan secercah harapan untuk terus bangkit kembali dan semangat untuk cepat sembuh
Keluarga yg mengatur makanan bergizi, keluarga yang turut membantu jika ada keperluan, keluarga adalah segalanya.
Sekarang, Saya mulai sedikit memahami dan mencoba menerima bahwa antara adat, budaya dan agama memang tidak bisa dipisahkan dalam hidup ini, perlahan-lahan saya mencoba membuka diri untuk lingkungan yang baru.
Saya juga bersyukur judul skripsi saya yang di ACC "sistem pakar panduan untuk ibu selama proses kehamilan" sesuai dengan saya, dirumah sakit yang saya teliti tempatku dioperasi, saya juga baru tau dokternya punya hubungan keluarga dan pemilik rumah sakit baru tersebut yang saya syukuri biaya selama perawatan dikasih diskon . Bukan hanya dokternya, saya juga bersukur bisa mengenal perawat-perawat yang seperti bidadari . Alhamdulillah alhamdulillah... semoga pengerjaan skripsi saya dipermudah oleh Allah dan bisa bermanfaat bagi pasien ibu-ibu hamil dan rumah sakit tersebut.
Satu pesan yang saya dapatkan dari mamaku "cepat sembuh, cepat selesai ,sehingga bisa berkumpul lagi bersama disini" aamiin ya Allah dan semoga juga cepat dapat jodohnya.
Dan pada saat tulisan ini ditulis saya masih mencoba menyusun skripsi dan masih dalam tahap pemulihan setelah operasi. Tidak sabar rasanya ingin sembuh dan berkumpul kembali bersama teman-teman dan ingin rasanya membuka diri kedalam jalinan pertemanan lebih luas lagi tanpa terlalu kaku membawa diri.
Kamis, 02 Februari 2017
Guru idaman
Guru-guru di SMKN 1 Majene sangat welcome dengan kami anak-anak KKN , kami disambut bagaikan tamu kehormatan yang begitu penting, saya tidak akan lupa hari itu begitu juga masyarakatnya begitu ramah dengan kami. Ada satu guru yang sampai sekarang membuat saya penasaran, saya masih belum tau sosok wajah dibalik cadar itu ... dia adalah ibu Rahmania, dia itu guru yang sangat disukai oleh siswa-siswanya, dengar-dengar dia adalah pembina PMR dulu tapi sekarang berhenti (ntah karna apa) dan PMR di SMKN 1 Majene statusnya tidak aktif, ibu Rahmania sering mengobrol dengan saya yaaa... karna kami satu manhaj yaitu “Manhaj Salaf” ibu Rahmania pernah bilang kalau dia itu dulu dan suaminya adalah wahdah islamiyah tapi sekarang hijrah ke salafi dan pemaahamannya tidak beda jauh dengan wahdah , biar bagaimanapun dia masih tetap mendukung dakwah yang disampaikan oleh wahdah islamiyah. Dalam diri saya berharap semoga suatu saat kelak saya bisa hijrah ke salafi, saya mau merasakan bagaimana rasanya, sepertinya bagus.
Perbedaan hijabers dan hijrahbers
kakak andalangku
Rabu, 17 Agustus 2016
Lomba makan kerupuk
Tadi saling kirim mengirim photo tentang 17-san dan gak sengaja ambil photo ini dari hp teman kebetulan dia juga asal jeprat jepret eh ternyata ada juga saya disini.
Photo ini punya cerita tersendiri, itu adalah saya yang mukanya saya tutupin love biru (sengaja) dan yang di lingkaran putih itu adalah ibu dan anak (saya tidak tau apakah ibu dan anak sedarah/ kandung atau layaknya ibu-ibu zaman sekarang yang panggil anak ke siapa saja)
Ceritanya begini :
Pada saat perlombaan dimulai, ibu itu berkata kepadaku "adek.. Coba lihat berdarahki gusinya ini anak akibat mengunyah kerupuk". Kemudian saya jawab : "iye ibu berdarah, jadi bagaimana apa ndag apa-apa ?" (sambil memegang pundak anak tersebut untuk menginstruksikan berhenti )
Kemudian ibu itu berkata kepada anak ini : "ayo nak ndag apa-apa berdarah lanjutkan saja makan kerupuknya meskipun berdarah-darah namanya juga perjuangan. Ayoo.. Nak ... Dan anak tersebut tetap melanjutkan makan kerupuk sampai perlombaan selesai, meskipun saya ndag tega melihat giginya berdarah-darah tapi anak tersebut begitu sangat gigih sampai akhir perlombaan anak itu mendapat juara pertama. alhamdulillah ...yeeee menang *tepuk tangan meriahpun disemai.
Seharusnya kita harus belajar dari ibu dan anak ini, hari ini mereka mengajarkan saya tentang perjuangan bahwa untuk mencapai kemenangan yang sesungguhnya bukan berhenti lalu menyerah, meskipun tertatih-tatih peluh hingga berdarah-darah tapi kelak kemenangan itu akan kita tuai sepanjang kita tak pernah berhenti berjuang. Perjuangan itu akan terasa indah bagi orang-orang yang memahami.
#harikemerdekaan #17agustus #jayalahindonesiaku #anakbangsa #lombamakankerupuk #perjuangan
Senin, 15 Agustus 2016
Teman hijrah
Malam ini tempat ternyaman adalah kasur setelah seharian bekerja dikantor untuk praktek industri menguras energi , disertai hembusan kipas angin membuatku ingin tidur sejenak tiba-tiba ada bunyi dari pintu kamarku membuyarkan istirahatku.
"Assalamu Alaikum", ucap seseorang yang berada dibalik pintu kamarku.
"Waalaikum salam", jawabku, sambil berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar.
"Boleh masuk ?" ucapnya disertai senyum.
"Oh salwa..Iyaa... Boleh, silahkan", sambil mempersilahkannya masuk.
"Tujuanku kesini langsung saja ada sesuatu yang ingin kusampaikan," katanya kepadaku.
"Apa itu salwa ?", kataku kepada salwa yang saat ini dihadapanku disertai dengan rasa hati yang bercampur aduk dan was-was dan menerka-nerka.
***
pikirku dalam hati
Jangan-jangan mengenai wajan yang itu hari kupakai dan belum kucuci tempo hari? Atau saya jarang membersihkan dihari minggu ? Atau mengenai kompor minyak tanah yang didapur ? Padahal sudah saya isi minyak tanah. Atau masalah jemuran yang full, kan saya tidak mencuci, pakaian saya ada di laundry sekarang. Atau apa yaa.... ???
***
"Hmmm begini atau kusampaikan mhi sekarang," kata salwa.
"Iya .." jawabku.
"Begini, kan saya rencana mau pindah kamar tapi saya cari orang yang mau bimbing saya untuk hijrah." katanya.
"Kenapa dikamar sebelumnya ?," kataku.
"Sebenarnya di kamar sana merasa tidak kuatka dan ada-ada saja godaannya, dan selalu ribut serta selalu putar musik dan saya sudah bertekad sekarang untuk hijrah dan carika lingkungan yang bisa membimbing," katanya kepadaku.
"Pernah ditawari akhwat untuk tinggal dipondokan ?," kataku.
"Tidak ,". Sambil menggelengkan kepala Jawabnya.
mungkin dia belum jadi pengurus terus kucoba untuk bertanya lagi "tarbiyahnya sudah berapa lama ?".
"Baru-baru ini juga sih, perlahan-lahan mau mencoba untuk hijrah sedikit demi sedikit mau mencoba jilbab yang besar," jawabnya.
"Oh ... Pantesan saya lihat perubahannya salwa sudah agak menutupi dada kerudungnya dan udah agak tebal, terus yang ajak tarbiyah siapa ?". Tanyaku kepadanya.
"banyak akhwat disana , salah satunya kita tau pasti vera temanku ? Dia yang ajakka juga," jawabnya.
"Oh tau... Vera yang dari soppeng itu toh ? Temannya marina juga ? Seringka ketemu." kataku.
"Iya itu... Dia yang tanyaka supaya ada juga akhwat kutemani sama-sama kos biar mencegah futur karna setiap hari rasanya itu selalu musik-musik didengar di telinga." katanya.
"Yakin mau pindah kos ? Disini juga selalu kedengaran musik, apalagi yang disebelah sini samping kiri kanan kadang juga putar musik,"
"Itu mhi juga kupikir tapi bisa jhiqi kita bertahan toh ? Dalam hatiku toh berkata "lamanya mhi, sanggupnya Lola bertahan dengan keadaan seperti ini, kalau misalnya Lola bisa kenapa saya tidak bisa ?." katanya.
***
Dalam hatiku berkata, mana sanggup juga aku bertahan, tapi kucoba bertahan demi almarhumah nenek disana yang selalu melarangku pindah kos karna kebetulan ini juga rumah ada hubungan keluarga dengan ibu kos . dan orang tuaku juga selalu larang-larang pindah .
***
"Oke pale,,, kalau mauki pindah, kapan rencanata mau pindah dikamarku ?," tanyaku kepadanya.
"Nanti kalau sudah mulai orang pembayaran kos baru saya pindah disini," jawabnya.
"Oke pale," jawabku.
"Yeee akhirnya ada kutemani, (sambil menutup mulutnya, sesekali memegang kedua pipinya dengan ekspresi penuh kegirangan) .makasih nah lola," ucapnya kepadaku dan berlalu pergi.
"Iya sama2," jawabku.
Satu hal yang saya tidak bisa untuk berkata "tidak" meskipun saya sudah terbiasa untuk hidup sendiri dikamar ini selama 3 tahun tapi untuk masalah ini saya tidak bisa berkata "tidak" karna niatnya itu baik dia mau hijrah.
Semua manusia pasti ada niat untuk berubah menjadi lebih baik, setiap dari mereka pernah melakukan kesalahan dan bahkan tak sedikit dari mereka yang merasa menyesal dan berharap kesalahan itu tidak akan terulang lagi. Dan aku, sama seperti mereka yang pernah melakukan sebuah kesalahan, tidak! bukan hanya sebuah, namun banyak sekali kesalahan yang pernah aku lakukan sebelum hijrah. Lantas, apa alasanku untuk tidak membantunya ?
Hijrah....
5 kata itu juga yang mengubah hidupku dan sampai sekarang juga saya masih menjalani prosesnya, hidayah bisa menyapa kapan saja kepada pemilik hati yang Allah kehendaki kebaikan, mau itu cepat ataukah lambat apabila hati sudah dikehendaki Allah dengan kebaikan maka wajib bagi kita untuk "sa'mina wa'atona" meskipun terkadang futur melanda diri, dengan adanya teman hijrah bisa saling menguatkan dan menasehati agar tetap berjalan bersama dijalan-Nya. Tak peduli siapa duluan karna hijrah bukanlah lomba cepat-cepatan melainkan saling merangkul berpegangan tangan dan sama-sama berjalan ataupun berlari menuju-Nya. Dan ketika salah satunya terjatuh, ada yang bisa mengajaknya berdiri untuk bangkit kembali.
Untuk terakhir saya kutip sebuah hadis qudsi :
"Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Apabila hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal,maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sehasta,maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dgn berjalan,maka aku akan datang kepadanya dgn berlari" (Hadits qudsi riwayat Bukhari dr Anas)
#Melangkah Menuju-Nya.
Selasa, 28 Juni 2016
Nikah muda ?
.......
Sambil mengutak atik laptop tiba-tiba saya menimpa sebuah pertanyaan.
"Kenapa yaaa kalau anak-anak uztads atau ulama-ulama dinikahkan pada saat usia muda ? Bahkan ada yang sedari SMP udah menikah ? Seperti itu waktuta pergi acara seminar tahfidz Alquran yg pematerinya 3 bersaudara yg sdh menikah semua ?," tanyaku kepada Khadijah.
"Iyaa... Kenapa kira2 itu di ?," melemparkan pertanyaan balik.
"Iya karna orang tuanya sudah paham , bukankah sudah dicontohkan oleh aisyah putri abu bakar yang saat menikah masih berumur 9 tahun ? Dan juga dicontohkan oleh Fatimah az-zahra dan Ali Bin Abi Thalib Dan menikah juga itu lebih berpahala dari pada anak-anak terjerumus dalam dosa pacaran mending dinikahkan cepat2 agar supaya ada yang jaga dan tidak diganggu,"menjawab pertanyaanya.
"tapi bukanki kita kwodong anak uztads , kalau orang tua'ta mungkin bilang "selesaikanmi dulu kuliahmu". Kata Khadijah.
"Bah iya sama jhiqi Khadijah," kataku.
***
Tiba-tiba teringat dengan percakapan telpon waktu lalu dengan orang tua , ntah apa yang ada menjurus dikepalaku tanpa pikir panjang langsung meleset sebuah perkataan :
A : pa.. Aku mau menikah
C : mauko menikah dengan siapa ?
A : tidak tau , tidak ada calonnya. Makanya carikan.
C : kenapa na plin plan sekali. ? Mau menisatunyau kuliah ?
A : mauka ke dua-duanya kalau bisa. Menikah sambil kuliah.
C : itu tujuan orang kuliah utk apa ? Untuk dapat kerja toh ?
A : yaa itu salah satunya tapi tdk apa-apa menikah juga nah kayak seniorku ada yang menikah waktu semester 5 dan sambil kuliah juga.
B : mauko jhe menikah sama siapa ? Itukah yg dulu mu kasih tau mamamu ?
A : bukan dan tdk ada ini calonnya makanya carikanka.
C : phuaa... Kuliah meko dulu . sudahmi
A : iyaa pale...
....... .
"Ukhti... Sebenarnya saya ada mhi calon dari orang tuaku" kata ukhti Khadijah kepada saya membuyarkan lamunanku seketika.
"Kayak gimana itu ukhti ? Orang paham2 jhi jg ?", yang aku kepadanya.
"Tidak sih iyaaa... Bukan dari kalangan ikhwan," katanya kepadaku.
"Tapi kita pasti mauqi cari yang sepaham toh sama-sama wahdah ?," kataku kepada Khadijah.
"Kalau bisa sih iya tapi itu tidak kupermasalahkan mau ikhwan ataupun bukan, pernah juga bilang mamaku itu hari "sembarang jhi kamu mauko kuliah atau kerja" karna dewasa meki juga toh ? Dan tdk terlalu kutanggapi jhi juga itu masalah perjodohan kan keputusan ada ditanganku,"kata Khadijah kepadaku.
"Bah iya ukhti bisa jhi juga kayaknya yang bukan ikhwan karna siapa tau dapat hidayah melalui perantara'ta juga , tapi terkadang ada juga cerita kudengar kalau dia tidak mengikut di kita , kita yang bakal mengikut di dia. Kita yang mewarnai atau terwarnai ? Pilih-pilih meki." kataku kepadanya.
"Tidak menikah-menikah meki itu sampai tua kalau banyak pilih2 , intinya yang bagus akhlaqnya saya kucari, "katanya kepadaku.
"Bah iya.. Sama jhi,"ucapku.
Jumat, 17 Juni 2016
Cita-Cita Ukhtiku Menghapal 30 Juz

.....
Disela sela obrolan pada saat menunggu di ruang BAaK lantai 2 phinisi untuk pengurusan password yang terlupa, kemudian saya pun melanjutkan percakapan yang tadi "ukhti tadi kita bilang ada sekelasta dari soppeng yang juga seorang ikhwan ? Bagaimana itu orangnya ukhti ?'',kataku sambil menatap wajah ukhtiku setengah penasaran.
"Sebenarnya bukan orang soppeng sih ukh tapi orang wajo," katanya
"Oh wajo hampir jhi dekat-dekat dengan soppeng," ucapku.
jangan mi itu ukh ada uztad hafizh 30 juz dari madinah", ucapnya dengan senyum menggelitik.
''Ohhh. . kutahu mhi ukh pasti itu targetta toh ?" ucapku dengan senyum menggodanya.
"Ah... Tidak jhi saya ukh , tidak berharap jha yang hafizh 30 juz kalau diriku sendiri belum hapal 30 juz", kata ukhtiku sambil menunduk namun disertai dengan ketawa-ketawa kecil dipipinya.
"Sama jhi qi ukhti , saya juga tidak berharap yang hafizh 30 juz karna kapasitasku ndag cukup. Asalkan adalah beberapa hapalannya," Kataku.
"Iya ukhti saya juga asalkan sholeh jhi dan baik agama dan akhlaqnya," katanya kepadaku.
"Iya jelasmi itu ukhti, Hmmm... Ngomong2 ukhti itu uztadnya yang hafizh ndag tua jhi ?",kataku.
"Bah tidak jhi ukhti... Seumuran kak innah jhi, ndag tua jhi itu toh ?."
"Tidak jhi ukhti , masih tergolong muda itu untuk seorang hafizh"
(Sambil ukhti menepuk pundak kananku) "Ukhti, Ada ceritaku," ucapnya dengan mata yang bersinar disertai senyum yang mengembang"
Kubalas senyum itu dengan senyum yang sama "Cerita apa ukhti?", tanyaku.
"Begini Ada seorang ikhwan mau pergi untuk melamar seorang akhwat. Disaat itu, si ikhwan mau melakukan nazhar syar'i (melihat calon istrinya ).
Calon istrinya bertanya : "Berapa hafalan AlQuranmu ?"
Si ikhwan menjawab : "Saya tidak hafal banyak tapi SAYA INGIN MENJADI LELAKI YANG SHALIH"
Si ikhwan lalu berkata kepada calon istrinya : "Kalau kamu ?"
Calon istrinya menjawab : "Saya hafal juz amma"
Calonnya kemudian sepakat untuk menikah karena merasa dia (laki-laki yg datang melamar ini) jujur.
"Terus ukh ?". Ucapku dengan penuh menyimak meskipun awalnya sudah kuterka ceritanya sudah pernah kudengar sebelumnya.
"Setelah mereka menikahmi.
Ini Sang Istri lalu memintanya untuk membantunya menghafal AlQuran.
Sang suami berkata : "Mengapa kita tidak saling membantu dalam menghafal bersama-sama?"
Lalu mereka sama-sama mhi menghafal Alquran dengan Surah Maryam kemudian berikutnya dan berikutnya
sampai hafalan Qurannya selesai dan mereka berdua mendapat Ijazah hafalan Quran, "Lanjut ukhtiku bercerita.
"Masya Allah kegigihannya mereka berdua", trus apalagi ukh ? Tanyaku dengan senyuman.
Kemudian toh ini istrinya menawarkan : "Mungkin kita juga bisa memulai menghafal Hadits-hadits Bukhari.." kemudian mereka lanjut mhi menghapal hadis2 bukhari..
"Terus apalagi ukh", tanyaku sambil terus menyimak.
"Kemudian , Di sebuah kesempatan ketika si ikhwan berziarah kerumah mertuanya, ini ikhwan mengabarkan kepada mertuanya kalau anaknya yang menjadi istrinya sekarang sudah hafal AlQuran Al Karim, Alhamdulillah.
Terus kaget mhi ini dengan apa yg dikatakan menantunya, ini orang tua lalu masuk ke kamar anaknya seraya memperlihatkan banyak kertas kepada menantunya.
Sontak dan alangkah kaget dan bingungnya mhi ini sang suami, Istrinya ternyata memiliki ijazah hafalan Alquran dan Kutub Sittah (kumpulan kitab2 hadits) bahkan sebelum dia menikah dengan ini istrinya.
Masyaa Allah ...ini si istri tidak mempermasalahkan dari awal sedikitnya ilmu yang dimiliki sang calon suami, dan dia kemudian membantunya menghafalkan Al Quran sebagaimana dia telah menghafalnya disaat dia merasa kalau memang sang suami adalah orang Shalih ini istrinya juga tidak berdusta ketika dia berkata saya hafal juz amma karena dia tidak menafikan bahwa dia juga hafal surat yg lainnya.
"Masya Allah akhwatnya begitu rendah hati, dan pandai menyembunyikan sesuatu. bagus juga ukhti ceritanya", kataku memberi pujian .
"Ukhti.. Mauka curhat,"katanya.
"Iye... Curhat meki ukh,"kataku.
"Ukhti sebenarnya saya toh disuruhka lanjut s2 sama orang tuaku bila perlu kalau bisa sampai s3", katanya kepadaku
"Kesempatan bagus itu menurutku ukhti . bagus jhi orang tua'ta dan bisa jhi'qi kurasa berdakwah sambil lanjut kuliah lagi seperti kak Rina, bukannya menimba ilmu itu bagus ukh ? Ilmu memang harus selalu dikejar ?", ucapku meyakinkannya.
"Iya sih ukh... Tapi masih mau kupertimbangkanki" ucapnya setengah ragu2.
"Jadi ukhti tidak mauki menikah setelah wisuda kan mauki lanjut s2 itu kayaknya?," ucapku kepadanya.
***
Kembali Teringat kata-kata ukhtiku beberapa bulan yang lalu pada saat awal semester 6 pada saat saya menemaninya mencari industri pabrik roti untuk tugas kuliahnya meskipun berbeda jurusan setidaknya saya belajar banyak darinya, pada saat ruang diruang tunggu industri tersebut kami bercerita.
"Ukhti ada lembaga walimah di makassar . Nanti toh sebelum lulus ikut meki juga seminar pra nikah yang akan diadakan, saya phi carikanki calon orang yang dari daerahku yang juga ikhwan. Masyaaa Allah sekali itu ukhti wisudaki sama-sama, luluski sama-sama, kemudian berdakwahki sama-sama satu daerah" kata ukhti kepadaku.
"Ukhti, jangan mhi repot2 datang sendiri jhi itu nanti. Jawabku.
Dan pada saat hari yang lain juga kemarin dia berkata kepadaku disertai dengan ketawa kecil-kecil.
"Ukhti... saya phi carikanki"
***
Sambil memikirkan perkataan yang lalu sambil menyimak perkataannya dia melanjutkan.
"Ukhti, tidak kutahu mhi juga ukh masih ada pertimbangan lainnku, dan belum kutahu juga "katanya kepadaku dengan agak bimbang.
(Dalam hati berkata sebenarnya ukhti kita punya kesempatan yang sama sih melanjutkan studi lagi tapi disisi lain saya juga ingin menikah kalau jodohnya ada yang sesuai dan bagus akhlaq dan agamanya, kenapa tidak ? menikah untuk menyempurnakan ibadah, untuk menjaga kehormatan diri. kalaupun jodohnya belum ada saya akan melanjutkan studi lagi.)
Kembali aku kembali bertanya kepadanya, "Apa yang dipertimbangkan ukhti?", tanyaku sambil menatapnya dalam-dalam serasa ingin membaca dan menerka apa yang tersirat didalam pikirannya.
"Mauka juga ikut program menghapal Alquran yang ada disnini dimakassar, mauka fokus menghapal sampai 30 juz," katanya.
"Lah, bagus itu ukhti... Setuju jhi orang tua'ta ?," Tanyaku.
"Begini juga ukhti saya kan 6 bersaudara dan adikku ini ada mhi yang menikah dan yang lainnya masih kecil-kecil dan ini yang kecil-kecil yang kelas 5 SD mauka jadikan hafizh (penghapal Alquran) . kan kebetulan adikku masih kecil-kecilki dan ada mhi yang menikah dan merasa tidak enakka juga sama orang tuaku karna biaya kuliah kayak lari ke saya semua, dan saya benar-benar difokuskan ini untuk melanjutkan studi s2 bila perlu sampai s3 , dan kebetulan juga ada adikku yang sudah menikah ditanyaki adekku sama mamaku "jangan mhi minta2 uang yaa... Karna ada mhi suamimu yang tanggung semuanya, sekarang biaya mau difokuskan untuk kakakmu buat studi'nya", begitu kata mamaku ke adikku," ceritanya kepadaku.
"Ukhti... Pasti anak pertama ki toh?," tanya ku.
"Iya ukhti... Kita?,"tanyanya menimpa balik.
"Bah sama jhi ukhti... Saya juga anak pertamaka dan memang kalau anak pertama itu memang dituntut untuk sekolah setinggi-tingginya biar bisa jadi contoh juga untuk adik-adiknya, kurasa itu keputusan orangtua'ta juga bagus mhi. Manfaatkan kesempatan yang ada. Ukhti... Saya mau tanya, kita golongan darah O yaaa ?,"tanyaku mencoba memahami karakternya.
"Bukan ukhti saya golongan darah A yang na'bilang itu ceramah uztad itu kalau golongan darah A cepat tersinggung yaaa?? Kalau golongan darah O yang cepat marah dan cepat juga baik ya ? Kalau kita apa ?," tanya nya.
"Saya golongan darah O dan saya pikir kita golongan darah O juga bukan berarti kita suka marah2 yaa bukan begitu, tapi ada yang saya baca di internet salah satu karakteristik orang yang bergolongan darah O adalah ada bakat2'nya menjadi pemimpin dan kurasa kuterka itu dalam diri'ta ternyata dugaanku salah mungkin efek karakternya karna kita anak pertama yaaa.?,"
"Iyaa ukhti... Tapi masih bingungka ukhti... Mauka juga fokus menghapal Alquran 30 juz" ucapnya sambil mengadukan keluhannya.
"Begini solusi ku ukhti, nganggur meki 1 tahun untuk fokus dihapalanta 30 juz kemudian lanjutkan mhi kuliah lagi. kira-kira bisa jhi itu selama 1 tahun 30 juz ? Bagaimana ?," solusiku kepadanya.
"Iya ukhti pokoknya saya harus bisa menghapal bila perlu sampai 30 juz, dan cita-citaku saya ingin menjadi penghapal Alquran juga sebagai bentuk hadiahku kepada kedua orang tuaku" berucap dengan penuh ambisi disertai senyuman yang mengembang sambil terus membuka lembar demi lembar Alquran yang dia pegang.
(Dalam hatiku berkata "Masyaa Allah saya kagum dengan semangatnya ukhtiku, dia ingin menghadiahkan cahaya kemuliaan bagi kedua orang tuanya, diakhirat nanti orang tuanya akan diangkat derajatnya oleh Allah dan dipasangkan mahkota kemuliaan berkat kegigihan anaknya, beruntungnya orang tua memiliki anak seperti dia.")
"Ukhti sampai mana mhi hapalanta ?," tanyanya kepadaku sambil membuka lembar demi lembar Alqurannya.
"Saya baru sampai sini ukhti.. Kalau kita sampai mana mhi ?," tanyaku.
Sambil menghitung-hitung surah Alquran "Ini tinggal 7 surah lagi baru sampai juz 30, Insyaa Allah bisa jhiqi selesaikan tahun ini sampai juz 30 kemudian merangkakki lagi ke juz 29,28. Insyaa Allah bisa jhi."
(Dalam hati aku berkata "Lincahnya ini ukhtiku, perasaan beberapa minggu sebelum ramadhan hapalan kita sama dan sekarang mendahului ku,").
"na'am ukhti... insyaa Allah bisa jhi itu ukhti yang penting yakin." ucapku dengan senyum yg optimis
"Semangatqi ukhti..., " ucapnya yang keluar dari mulut nya disertai semangat yang menyala-nyala dan sorot mata yang bersinar memancarkan semangat juga kepadaku."
Ruangan pengurusan BAAk tampak sedikit hening karna para laki laki semuanya bergegas untuk pergi sholat jumat, yang ada hanya mahasiswa perempuan yang duduk diruang tunggu maupun staf wanita yang stand by di ruang kerjanya. dan jam pun menunjukkan pukul 12:34
"Ukhti.. Kurasa sudah waktunya kita juga untuk sholat," kata ukhtiku.
"Saya pikir adzan ke dua ya ukh ? Karna ada yang pernah saya dengar adzan kedua baru bisa sholat." kataku .
"Sebenarnya adzan pertama kalau sudah waktunya sholat yaaa.. Bisa meki sholat dan masuk mhi juga waktunya,". Ucapnya.
"Ayo mhi pale ukhti," kataku sambil berdiri ingin meninggalkan tempat.
Lalu kami pun bergegas menuju Musholla dekat BAak dan mulai berwudhu kemudian sholat bersama.



